Paket Cinta Sang Embun

Paket Cinta Sang Embun
Pemberian Sang Ibu


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Aaron Lee?" pekik Rendra pelan namun sedikit penuh penekanan.


Tuan Lee mengangguk saat ia merasa pria yang duduk di depannya itu seolah bertanya lewat sorot mata.


"Iya, Ibunya memberi nama Aaron Lee."


"Tapi--- dia Keanu kami, Tuan" sergah Rendra seakan tak terima ada nama lain di putra kebanggannya.


"Itu hak kalian jika ingin memanggilnya dengan sebutan Keanu. Karna bagi kami dia adalah Aaroon" tegas pria baya yang duduk santai di kursi rodanya, sakit yang ia derita membuat nya lemas jika berdiri lama bukan berarti lumpuh.


"Maaf, maafkan saya Tuan. Kalian yang lebih berhak atas Keanu. Ah... maaf, maksudku Aaroon" balas Rendra dengan senyum terpaksa di sudut bibirnya.


Hening kembali mereka rasakan, tiga pria itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing tentang si pemuda tampan yang di sayangi semua orang.


"Saya hanya memilikinya, jadi sudikah Anda sebagai yang merawatnya dengan penuh kasih dan cinta membawanya kemari. Aku merindukannya" lirih Tuan Lee.


"Hanya saya dan istri yang tahu tentang ini. Keanu belum tau apapun siapa dirinya. Saya belum berani mengatakan apapun karna masih takut kehilangan. Saya sangat takut dia pergi"

__ADS_1


Sam mengusap bahu calon besannya itu, ia biarkan Rendra menumpahkan sesak dalam hatinya karna ia tahu, pria itu tak mungkin melakukan hal tersebut di hadapan sang istri. Rendra harus menguatkan Cherryl, memberikan bahu ternyamannya padahal jauh dari itu ia pun sungguh lemah dan terpuruk sedih.


"Menangislah, Saya paham perasanmu"


Dirasa semua sudah tenang, Rendra mendongakan wajahnya setelah ia menghapus kebasahan di wajahnya dengan sapu tangan yang di sodorkan Samudera.


"Terimakasih, Tuan"


"Beri saya waktu setidaknya beberapa hari untuk bicara lagi dengan istri saya. Dia sangat terpukul saat tahu putranya di cari oleh oleh Tuan. Istri saya tak punya harapan lagi selain Keanu, dia anak kami satu-satunya" lirih Rendra memohon, masalah ini benar-benar tak mudah baginya dan Cheryl.


"Tak perlu khawatir, Saya hanya ingin ia memanggil saya kakek selama saya masih bisa bernapas"


.


.


.


Malam menjelang, Rendra sampai di rumahnya dengan mobil satu-satunya yang ia miliki yang tentunya tak semewah kendaraan Tuan Muda Rahardian yang ia tumpangi saat di bandara sampai menuju tokonya.

__ADS_1


Tak ada siapapun di ruang tamu membuat pria itu langsung ke kamar, ia buka pintu bercat coklat itu dengan pelan takut menganggu sang penghuni di dalamnya.


"Loh, Umma baru mandi?" tanya Rendra saat melihat rambut panjang sang istri terbungkus handuk.


"Iya, tapi pakai air hangat kok, Bi"


"Sudah Abi bilang, jangan mandi malam" balas Rendra yang tak bosan mengingatkan tentang kebiasaan buruk pemilik hatinya.


"Gerah, Bi. Lagian aku harap dengan mandi dan keramas hati dan pikiranku sedikit tenang" ucap Cheryil, ada senyum getir di ujung bibirnya yang merah muda alami.


"Sudah ku bilang, jangan di pikirkan, Umma"


"Jika aku tak memikirkan, lalu aku harus apa, Bi?" tanya Cheryl dengan tatapan sendu kearah pria yang tak bisa ia berikan keturunan itu.


.


.


.

__ADS_1


Kita harus bertindak cepat..


__ADS_2