
Braaak...
"Astaghfirullah, aku nyenggol anak kecil" gumam Cheryl sambil menoleh kearah belakang.
Ia yang baru saja pulang dari pasar menggunakan sepeda motornya harus di kagetkan saat kendaraan roda duanya itu sedikit oleng sebab tak sengaja mengenai seorang bocah perempuan yang umurnya kisaran delapan atau sembilan tahun.
Cheryl pun langsung menepikan motornya, ia turun lalu menghampiri si anak tadi. Jalanan yang sepi membuat ia sedikit merasa aman.
"Kamu tak apa? mana yang terluka?" tanya Cheryl saat ia sudah berjongkok di depan si korban kelalalaiannya itu.
"Lututku berdarah, sakit" lirihnya dengan meringis menahan perih.
Cheryl tersenyum kecil agar anak itu sedikit tenang, ia pun membantunya untuk bangun dan berdiri.
"Tante antar kamu ke klinik ya, biar lukanya gak infeksi habis itu tante antar kamu pulang, gimana?" tawar Cheryl, wanita cantik yang sebenarnya memiliki hati baik.
"Tapi, tante aku.... "
"Sudah, tante bukan orang jahat kok. Tante hanya ingin bertanggung jawab saja. Kliniknya dekat, kan?"
Bocah berambut sebahu itupun mengangguk, ia menerima uluran tangan Cheryl untuk di tuntun menuju sepeda motor di sisi jalan. Keduanya pun naik keatas kendaraan roda dua itu lalu melanjutkan perjalanan menuju klinik terdekat di persimpangan jalan.
Tempat pemeriksaan kesehatan yang terlihat nampak sepi itu pun langsung di masuki oleh Cheryl, ia mendudukkan si anak malang itu di sebuah kursi tunggu sedang kan ia mendaftar pada satu suster jaga.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang perawat berpakaian serba putih.
"Iya, saya mau membersihkan luka keponakan saya yang terjatuh" jawab Cheryl yang terpaksa berbohong karena tak ingin masalah justru semakin runyam.
Si suster pun langsung mengantar Cheryl dan si anak tadu menuju ruang pemeriksaan yang di dalamnya sudah ada dokter yang menunggu.
Cheryl sesekali ikut meringis saat seorang dokter wanita membersihkan luka di lutut dan sikut si anak yang kini memelui erat perutnya.
"Lain kali hati-hati ya saat bermain. Jangan sampai jatuh dan terluka lagi seperti ini" pesan dokter setelah selesai memberi obat.
"Iya, Dok"
Semua akhirnya selesai, kini tugas Cheryl tinggal mengantar si anak tadi menuju rumahnya.
"Lily, Tante"
"Nama yang cantik, lalu rumahmu dimana?" tanya Cheryl lagi.
"Di belakang pasar baru, tante dekat rel kereta" jawab lily pelan.
"Oh, iya. Dekat dari sini. Ayo tante antar"
Cheryl pun langsung mengantar Lily kerumah yang sudah di beri tahu alamatnya. Meski melaju dengan kecepatan sedang akhirnya mereka pun sampai.
__ADS_1
"Ini rumahmu?" tanya Cheryl sambil membuka helm di kepalanya.
"Iya, tapi ini apa bisa si sebut rumah?" lirih Lily seraya menundukkan pandangan.
"Saat kamu tak kehujanan dan tak kepanasan, tante rasa itu tempat terbaik. Jangan sedih ya." sahut Cheryl yang kemudian memeluk tubuh kecil Lily agar anak itu mau berbesar hati lagi.
"Iya, Tante. Aku akan tetap bersyukur dengan apa yang ku miliki. Mari masuk, tapi ibuku tak ada" ucap Lily sambil berjalan tertatih menuju sebuah pintu yang terbuat dari triplek bekas.
"Ibumu kemana?" tanya Cheryl penasaran.
"Belum pulang dari kerja cuci baju, tante"
Cheryl hanya mengangguk, setidaknya Lily dan ibunya mau berusaha bekerja di banding mengemis di jalanan.
Belum juga mereka masuk kedalam rumah, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari seorang anak laki-laki dan perempuan. Cheryl pun langsung menoleh dengan alis saling bertautan.
.
.
.
Ly... ayo ikut aku. Ada ibu peri dan ultraman!!
__ADS_1