Paket Cinta Sang Embun

Paket Cinta Sang Embun
Aku bukan....


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Pay... tolong datang dan bawa Embun, cepat!" titah Sam lewat sambungan telepon dari sebrang sana. Air tentu langsung merasa panik, wajahnya jelas menyiratkan ke khawatiran.


"Ada apa?" tanya Embun dan Hujan berbarengan. Dua wanita itu sangat peka dengan perubahan sikap suami dan kakeknya.


"Kita ke kota A, Buy. Sekarang!"


Air bergegas ke kamarnya di susul oleh Hujan sedangkan Embun masih bergeming kebingungan. Ia yang tak membawa ponsel lekas menuju kamarnya sendiri untuk menanyakan langsung pada Phiunya.


Ia yang sedang terburu-buru entah mengapa lift terasa begitu lama padahal tak lebih dari lima detik ia di dalam kotak besi tersebut.


Cek lek..


Embun kini sedikit berlari kearah nakas sisi ranjang mencari benda pipih miliknya. Dengan tangan bergetar ia mencari kontak nomer pria kesayangannya itu.


Angkat Phiu, ku mohon!!


"Hallo, Sayang"


"Phiu, ada apa? PapAy mau ajak Buy kemana?" tanya Embun langsung, ia bahkan tak menjawab salam Samudera.


"Tenang, Nak. Sekarang kamu datang ke Kota A bersama papAy, Ok" titah Sam.


"Untuk apa? jangan buat aku takut. Atau jangan-janga---" Embun menggantung ucapannya, ia sangat takut apa yang di pikirkannnya saat ini di iyakan oleh Samudera.

__ADS_1


"Cepatlah, jangan buang waktu. Ajak Mhiu juga Rain ya. Pesawat sudah siap di bandara. Phiu mohon jangan menangis ya, kamu harus kuat karna ada seseorang yang butuh bahumu, paham cantik?" ucap Sam pada putri sulungnya agar tak panik.


"Iya, Phiu. Aku akan bersiap sekarang"


Embun menutup teleponnya, niat hati menghubungi Keanu pun urung ia lakukan, Embun bersiap bukan hanya diri tapi juga hati dan mentalnya.


.


.


Ketukan pintu kamar membuat ia sedikit berlari dengan tas yang ia selempang kan. Tak ada yang ia bawa kecuali dompet dan ponsel. Embun membuka pintu dan langsung menggandeng paPaynya turun ke lantai bawah.


"Mhiu dan adikmu sudah papAy minta langsung ke bandara. Kita bertemu disana" ucap Air mengusap buaya betina peliharaannya.


"Buy takut, takut banget" lirihnya yang sedari tadi tak tenang.


Embun hanya mengangguk paham, kini ketiganya masuk kedalam mobil yang di kemudikan supir pribadi. Beruntungnya keluarga konglomerat itu tak hanya memiliki satu pesawat pribadi, jadi memudahkan mereka pergi saat ada situasi dadakan seperti ini.


Hujan terus mengusap punggung tangan cucu pertama-nya itu, hanya ketenangan yang dibutuhkan sang Ratu Rahardian saat ini. Hujan yang tahu apa yang sedang terjadi tentu paham situasinya.


Hingga sampai di bandara ternyata Biru dan Rain sudah sampai lebih dulu. Tak ada yang di tunggu, membuat semua lekas masuk ke dalam burung besi tersebut.


Selama perjalan udara yang entah berapa lama, Embun sangat gelisah. Apalagi saat Phiunya mengatakan ada seseorang yang sedang butuh di kuatkan. Keanu, Embun tahu jika pria itu lah maksudnya.


.

__ADS_1


.


Tak ada satu katapun yang terucap dari mulut mereka, meski Embun sesekali menghapus cairan bening yang keluar dari ujung mata sendunya.


"Ayo, turun" ajak Air memecah keheningan.


Langkah demi langkah keluarga kaya raya itu tapaki di Koridor rumah sakit kota A bersama dua orang pria berpakaian serba hitam yang menunggu di lobby.


"Silahkan, Tuan"


"Terima kasih. Buat penjagaan semakin ketat di luar" titah Air saat ia lebih dulu di persilahkan masuk.


Embun yang berada tepat di belakang Air langsung mencari sosok pria yang selalu terlihat tampan. Dan ia menemukannya.


"Bang..." panggil Embun pada Keanu yang menyandarkan kepalanya di atas punggung seorang pria yang terbaring menutup mata.


"Sayang, kamu--" Keanu yang menoleh tentu kaget, ia sepertinya tak sadar dengan kedatangan keluarga Embun barusan.


Pria itu berdiri dan langsung memeluk gadis kesayangannya, tak perduli banyaknya orang di sana menatap ia dan Embun.


.


.


.

__ADS_1


.


Aku bukan Keanu, Buy...


__ADS_2