Paket Cinta Sang Embun

Paket Cinta Sang Embun
Pacaran berjamaah


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Appa? biasanya Buy senang saat mengalah untuk berbagi, tapi hari ini kenapa rasanya sakit? Kata Appa dan Amma gak boleh serakah, kan? Buy udah kebanyakan pacar jadi Buy mutusin buat selesaiin yang sembilan itu dan pilih hanya satu. Tapi apa nyatanya???"


Embun Raliana Rahardian Wijaya, kini sedang duduk bersimpuh di sisi makam Appa dan Ammanya dan juga Tuan besar Wisnu beserta Nyonya Riana. Gadis itu sesekali mengusap air matanya yang menetes. Tangisnya tak histeris malah justru tak bersuara sama sekali hanya lelehan cairan bening yang terus membanjiri wajah cantiknya.


"Kak, lagi apa?" Suara Rain sangat mengagetkan Embun yang sedang mengusap batu nisan berwarna putih bertuliskan nama Reza Rahardian Wijaya.


"Kangen Appa, Bum"


"Appanya ngumpetnya kelamaan sampe gak nongol nongol lagi. Bum juga capek nyari sama nungguinnya" ujar si Pewaris Rahardian Group.


Embun langsung memeluk adik kesayangannya, meski Rain begitu jahil dan sering membuat sang kakak mengeluarkan tanduk tapi Embun begitu menyayangi Rain. Tak pernah terbersit untuk ia membalas atau memarahi habis habisan si bungsu yang masih sangat manja pada Mhiu dan Phiunya.


"Yuk, masuk. Udah sore" ajak Embun yang di balas anggukan kepala.


"Appa, Amma, Oppa dan Omma. Kita masuk ya. Mau ikut gak?" kekeh Rain.


"Heh, kalo ngomong!" cetus Embun sambil mencubit kecil tangan adiknya.


"Main upet upet yuuuuk"

__ADS_1


"Ayo, tutup matanya ya. Nanti cari kakak, Ok"


"Oke, Bum hitung ya"


Embun berlari masuk kedalam rumah sambil tertawa keras. Ya, pekarangan samping Rumah utama memang di jadikan tempat keabadian bagi Tuan besar Rahardian, para keturunannya itu memang ingin kapanpun bisa berbincang, berceruta, mengeluh dan mengadu pada orang tua mereka tanpa harus ada jarak yang membentang.


"Satu, dua dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh... udahlah kebanyakan" ujar Rain yang menghentikan hitungannya sendiri.


"Bum-Bum masuk, Keh... cari cari Ta Buy"


Embun yang tadi berlari langsung masuk kedalam kamar papAy dan Mimoynya karna orang tuanya sedang ada di luar kota sejak kemarin siang dan akan kembali pada malam nanti.


"Buy..."


"Oit, hadir pAy" jawabnya sambil terkekeh.


"Dari mana?" tanya Air.


"Dari resto, lanjut rumah Rista terus pulang deh sampa pasukan buaya." jawab Embun dengan sedikit ketus.


Air dan Hujan langsung tersenyum simpul karna ketauan menjaga cucu mereka dengan begitu ketatnya.

__ADS_1


"Bagus dong, coba kalo gak ada pasukan Buaya Bul-Bul mau pulang sama siapa?"


"Ada pasukan Tutut di pojokan, pAy" sahut Embun yang kembali tertawa. Rasa sakit hatinya seketika sirna jika sudah pulang kerumah utama. Di kelilingi oleh orang baik penuh kasih sayang adalah obat paling ampuh untuk hati yang terluka.


"Terus abang paketnya di tinggal?" tanya Hujan.


"Iya, ada dirumah Rista" Jawab Embun yang mendadak lidahnya terasa ngilu saat menyebut nama sahabat dekatnya itu.


"Kenal juga sama Rista?"


"Iya, Moy. Mereka udah kenal deket termasuk sama Orangtuanya juga dan mungkin mereka sebentar lagi pacaran terus nikah deh" ujarnya santai dengan senyum yang di paksakan.


Air merangkul lebih dekat bahu cucunya, Embun tak bisa berbohong dalam hal apapun karna Air begitu hafal mata cantik sang Embun.


.


.


.


Gak usah sedih, pacaran berjamaah lagi aja!!!

__ADS_1


__ADS_2