
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Kenapa, Buy?" tanya Air saat menyambut cucu perempuannya di tengah tangga.
"PapAy--"
Embun yang merasakan dadanya sesak sejak dirumah Keanu tentu langsung berhambur ke pelukan Air, tangisnya kembali pecah meski ia sudah sekuat hati untuk menahan.
"Bertengkar?"
"Enggak, lagi kesel aja" sahut Embun.
Gadis itu pun di bawa oleh Air menuju ruang tengah lantai dua, niat untuk ke halaman belakang pun langsung ia urungkan. Pria paruh baya itu memang tak sesibuk dulu, ia limpahkan semua pekerjaan pada sang putra dan hanya fokus dirumah bermanja pada istrinya atau menunggu dua cucunya pulang dari sekolah atau kuliah.
Embun duduk sambil terus memeluk papAynya, ia sedikit tenang saat merasa usapan di kepalanya begitu lembut terasa.
"Kenapa gak di suruh masuk, bukannya dia baru pulang?" tanya Air pada Embun yang terus diam menikmati sedihnya.
"Untuk apa? ada gadis lain di rumahnya. Aku yang menunggu kabar tapi dia malah asik makan bersama dengan yang lain, apa aku sebodoh itu memintanya untuk masuk?"
"Sudah mendengar penjelasannya?" tanya Air lagi.
"Untuk apa? dia tak memberi penjelasan, dia hanya bilang merindukanku" jawab Embun dengan nada kesal.
__ADS_1
"Karna kamu pusat pikirannya. Rindunya padamu adalah prioritasnya saat ini, Buy"
"No! dia hanya merayu"
Air membuang napas kasar, sikap wanita kenapa masih saja sama sejak jaman dahulu kala. Selalu tak pernah dengar alasan dengan dalih untuk apa? tentu untuk meluruskan salah paham. Bukan begitu? pikirnya.
Embun terus bercerita sedangakan Air hanya mendengar kan saja sambil sesekali di beri pengertian, ia seolah tak kenal sang cucu karna ini baru pertama kalinya Embun menangis sedih dan kecewa.
"Lupakan, semua baik baik saja" ujar Air seraya mencium pucuk kepala Embun.
"Baik untuknya, tak baik untukku. Dia masih saja meladeni Rista sedangkan aku tak pernah berlaku seenaknya lagi dengan pria lain. Menurut papAy apa itu adil?"
"Lakukan apa yang menurutmu benar, tetap jaga hati mu untuknya, bagaimana dia di belakangmu biarkan itu jadi urusannya. Kita lihat sejauh mana ia akan berjuang untukmu"
.
.
.
Ia yang biasa sering membalas dengan sikap jahil dan manja entah kenapa kali ini justru enggan berdebat. Embun memilih menghindar dan tak mau mengingat kejadian kemarin.
...Tok... tok.. tok.....
__ADS_1
Suara ketukan pintu membuat Embun menoleh dan menghampiri benda bercat putih tersebut. Ia sudah tahu dan paham betul siapa yang ada di balik pintu.
"Apa?" tanya Embun saat ia sudah membuka pintu.
"Ada Abang Nunu di depan cari Kakak"
"Kamu bilang kakak ada?" tanya Embun pada adiknya yang di jawab anggukan kepala.
"Iyalah, kan kakak emang ada. Masa Bun bilang kakak gak ada tiba-tiba itu namanya kakak hilang, kalau kakak hilang harus lapor pulici. Nanti Mhiu nangis loh" jelas si pria tampan kesayangan Samudera dengan polos dan santainya.
"Ih, nyebelin! orang tuh tanya dulu, kakak mau atau enggak ketemu dia. Jangan asal bilang ada aja" oceh Embun yang kali ini benar-benar kesal pada adik semata wayangnya itu.
"Lah, tumben! biasanya juga kalau ada Bang Nunu langsung lari udah kaya korban gempa"
"Balik lagi sana, bilang sama dia kakak sibuk dan gak mau di ganggu" titah Embun sambil mendorong tubuh tinggi Rain.
"Sibuk apa?"
.
.
.
__ADS_1
.
Sibuk cari pacar....