Paket Cinta Sang Embun

Paket Cinta Sang Embun
Sebuah impian.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Hening, itulah yang terjadi di lorong rumah sakit saat ini. Keanu membawa Embun keluar dari kamar perawatan Tuan Lee untuk bicara berdua dengan wanita yang tak bisa di sebut nya kekasih.


Entah harus di mulai dari mana Keanu sendiri bingung, ada rasa malu, kesal, lega, takut hingga belum percaya berkecamuk dalam hatinya yang kini duduk bersebelahan di kursi tunggu. Tak ada siapapun disana termasuk suster ataupun dokter yang sekedar lewat.


"Boleh aku memelukmu?"


"Tumben izin, biasanya main tarik aja" ledek Embun yang akhirnya berhasil membuat abang paketek tampannya itu tersenyum kecil.


"Aku butuh kamu, Buy"


"Aku disini, Bang. Bahuku kuat kok untuk menahan kepala mu" godanya lagi.


"Terimakasih"


"Untuk?" tanya Embun.


"Kamu selalu menjadi alasanku tersenyum, hatiku tak salah mencintamu. Langkah ku membawa ku ke orang yang tepat yang selama Ini ku cari" jelas Keanu yang kini kepalanya sudah berada di perpotongan bahu dan leher Embun.


"Jangan berlebihan, aku bukan manusia sempurna"


"Dan aku memang tak mencari yang sempurna, justru aku ingin menyempurnakan hidupku bersamamu" tegas Keanu, ada seulas senyum terukir di sudut bibir Embun.


"Bang... aku---".


"Apa? apa kamu mau bilang jika kamu sudah tahu tentangku?" tanya Keanu, ia mainkan jari jari lentik Embun untuk menetralkan perasaannya.


"Iya, maaf"

__ADS_1


"Tak perlu meminta maaf, aku tak begitu terkejut saat Abin dan Umma jujur. Karna aku sudah sadar akan hal itu hanya saja aku tetap menyangkal semuanya berharap semua keliru dan aku tak pernah berniat mencari tahu jati diriku" jawab Keanu lirih, luka yang sekuat hati ia tutup ternyata kini menganga lagi.


"Orang yang terbaring itu kakekku, Sayang" tambah Keanu. Entah harus takut, kesal atau bahagia Keanu pun belum tahu.


"Dan kamu satu-satunya miliknya di dunia ini"


Keanu mengangguk, air mata yang sekuat hati ia tahan akhirnya lolos jatuh membasahi pipi. Embun mengusap kepala dan lengan Keanu tanpa bertanya justru membiarkan ia menumpahkan sedihnya.


"Aku tak sekuat itu ternyata"


"Tak apa, tangisan bukan berarti lemah. Ada saatnya kita hanya butuh di dengarkan dan menangis" ucap Embun yang hanya di jawab anggukan kepala.


Hampir satu jam keduanya tetap di Koridor sepi tersebut, Embun terus berusaha menjadi pendengar yang baik agar prianya itu nyaman dan bisa menumpahkan isi hati tanpa ada yang mengganjal lagi hingga akhirnya Keanu semakin yakin jika wanita itu pantas menjadi rumahnya.


"Sudah lebih baik? kita kembali ke kamar kakekmu ya" ajak Embun.


"Abang inget kamarnya?" tanya Embun saat mereka sudah jalan berdua meninggalkan kan kursi tunggu di Koridor.


"Enggak, kan tadi kita asal pergi" sahut Keanu.


"Loh, nanti nyasar gimana?"


"Gak apa-apa, asal nyasar sama kamu sih aku gak keberatan. Lagian hatiku juga udah tersesat di kamu, kan?" jawabnya lagi sambil terkekeh.


"Eh, Kadal"


"Iya, Buaya" kekeh Keanu saat menyahut.


Pria yang tadi kacau sedikit berlari menghindari Embun yang siap memukulnya. Gelak tawa terdengar dari pasangan yang sedang jatuh sejatuh-jatuhnya menikmati cinta. Saling berjanji menggengam tangan apapun yang terjadi.

__ADS_1


"Abang tunggu...." jerit Embun saat Keanu hilang di belokan Koridor.


Doooooor...


"Haha, gak kaget."


"Kaget dong" pinta Keanu yang menarik tangan gadis itu.


"Enggak, ah. Orang gak kaget. Emangnya Bum-Bum, di yang kagetin dia juga yang jerit-jerit" kekeh Embun saat ingat betapa menggemaskannya sang adik.


"Rain lucu" ucap Keanu, kini keduanya berjalan lebih santai dari sebelumnya.


"Iya, aku sayang dia, Bang".


" Harus, kamu beruntung punya saudara. Sedangkan aku? entah dari keluarga kandung maupun angkat ternyata aku tungggal" lirih Keanu.


"Bagus dong, aku ucapin alhamdulillah atas hal itu" ucap Embun senang, terlihat jelas dari senyum dan ekspresinya.


"Loh, kenapa?"


.


.


.


.


Menikahi anak dan cucu tunggal kaya raya tentu impian semua wanita di dunia ini, Bang...

__ADS_1


__ADS_2