
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Satu minggu berlalu, kini semua anggota keluarga sudah tau kabar baik mengenai kehamilan sang Ratu Rahardian, ia begitu banyak di limpahi doa terbaik dari orang-orang di sekelilingnya terutama dari keluarga inti. Tak ada yang berubah dari si wanita hamil tersebut, masih nyaman dan tak banyak mengeluh tapi tidak dengan dua pria yang ada di rumah utama, ada saja tingkah yang membuat orang lain menggelengkan kepala sampai mengumpat kesal pada mereka.
"Udah, pAy, minum dulu air hangatnya ya"
"Kapan aku sambuh sih, Moy?" tanya Air yang wajahnya sudah begitu merah di depan kaca wastafel, sudah hampir satu jam ia terus memuntahkan isi perutnya. Dan itu terus berulang setiap jam 5 pagi.
"Sampe cicitmu itu lahir" sahut Hujan.
Air langsung menoleh, ia menatap istrinya dengan penuh tanda tanya apakah yang kini ada di pikirannya itu juga yang ada di kepala Hujan.
"Ya, seperti papa dulu pas aku hamil Sam. Kamu sekarang yang ngalamin. Sungkem dulu sana sama Papa. Jangan sampe kamu lagi mual begini di ketawain" ledek Hujan yang lalu kembali ke kamar nya.
Mendengar ucapan istrinya, tentu bayangan puluhan tahun kini yang lalu kini terlintas lagi. Ia ingat betul bagaimana tersiksa nya sang papa saat usaha garap tanam siramnya itu membuahkan hasil si Tutut Markentut.
Kedua orangtuanya sampai membatalkan rencana keliling dunia gegara Reza tak bisa bangun selama tiga bulan lamanya.
__ADS_1
"Enggak, Moy. Kenapa gak si Nunu aja yang ngidam? kan dia yang bikin!" protes Air yang ikut menyusul Hujan.
"Mana ku tahu, lagian gak apa-apa lah kan Bul-Bul Buaya betinanya kamu" sahut sang Nyonya besar Rahardian.
Air tak habis pikir, keluarganya selalu saja merasakan kehamilan simpatik yang tak wajar dan itu terus terjadi secara turun menurun sampai ke generasi Embun.
Air yang masih merasakan pusing luar biasa hanya bisa duduk bersandar di sofa. Akhir-akhir ini tak banyak yang pria itu lakukan kecuali beristirahat dalam kamar. Rasa mual dan ingin muntah nya baru akan reda saat matahari sudah tinggi menggantung di langit.
"Gini amat ya rasanya ya. Ampunin kakak ya Pah udah ke bagian enaknya dulu pas Hujan hamil dede. Taunya dulu papah juga gini" gumam Air. Bayangan Reza begitu lekat di matanya saat ini.
Sudah lewat waktu sarapan, Air keluar dari kamar. Kini semua orang sudah hampir terbiasa makan pagi tanpa sang Tuan besar Rahardian karna ia tak akan mau memakan apapun sebelum gejolak mual dalam perutnya reda.
"Enggak, Pay. Badannya masih gak enak. Dari semalem uring uringan gerah terus, aku sampe pindah kamar karna gak kuat sama dingin AC yang di pasang full sama dia." Jawab Biru, jika ingat itu ia akan kesal sekali, kini hampir setiap malam pasangan itu akan berdebat soal dingin dan panasnya hawa yang mereka rasakan.
"Terus dimana sekarang?"
"Ada di kamar, lagi anteng punya mainan baru"
__ADS_1
Air mengernyitkan dahi, niat awal ke dapur bersih pun ia urungkan. Kini ia berbalik arah ke tangga untuk naik ke lantai dua.
Ceklek
Air membuka pintu kamar putra semata wayangnya tanpa mengetuk lebih dulu benda tersebut seperti biasa karna rasa penasaran yang meronta dalam jiwanya. Pria baya itu pun langsung di buat kaget saat melihat anaknya sedang duduk di depan sebuah meja besar sambil tersenyum lebar.
"Kamu lagi apa, Tut?" tanya Air.
.
.
.
.
Dede lagi liatin kereta lewat, pAy.
__ADS_1