
Sepulang dari kampus, Felli sudah dijemput oleh Vabio.
"Hay Fell" sapa Vabio tersenyum.
"Vab, udah lama?" Tanya Felli.
"Gak kok, ayo!" Ajak Vabio.
"Gue duluan ya" pamit Felli pada sahabatnya.
"Iye hati hati" jawab Flora yang diangguki Felli.
Felli dan Vabio pun masuk kedalam mobil dan menancapkan gas meninggalkan perkarangan kampus.
*************************
"Tuan kita ada meeting dengan Mr. Darwin" ucap Gio memasuki ruangan Tristan.
Tristan melihat jam dipergelangan tangannya.
"Kita berangkat sekarang!" Jawab Tristan dan berjalan melewati Gio.
Merekapun pergi ke cafe X, untuk melakukan pertemuan dengan Mr. Darwin.
"Kayanya gue kenal mobil itu? Tapi dimana ya?" Batin Tristan yang melihat mobil yang sangat ia kenali didepannya.
Tristan berpikir sejenak, kemudian sadar siapa pemilik mobil itu.
"Gio Lo ikuti mobil itu" suruh Tristan menunjuk mobil Vabio.
__ADS_1
"Tapi tuan..."
"Tidak ada tapi tapi, cepat atau gajimu aku potong!" Ancam Tristan menatap dingin Gio.
"Hufftt... Gue mah gak akan menang ngelawan bos" gerutu Gio dalam hati.
Tristan dan Gio terus mengikuti mobil Vabio, sampai mobil Vabio telah sampai didepan rumah Vabio.
"Kok gue ngerasa ada yang ngikutin ya?" Batin Vabio melihat kanan kiri.
"Vab, Lo cari siapa?" Tanya Felli membuat Vabio menggeleng.
"Gak ada, yuk masuk!" Ajak Vabio merangkul bahu Felli dan masuk kedalam.
"Shitt! Kenapa mereka makin lengket aja sih!" Geram Tristan yang tak suka melihat perlakuan Vabio pada Felli.
"Tuan, sebenarnya kita mau ngapain disini?" Tanya Gio yang sedari tadi melihat gelagat Tristan.
"Diem!" Jawab Tristan dingin dengan mata yang terus memandang rumah Vabio.
"Gue berasa kaya penguntit" batin Gio menghela nafasnya.
"Felli..." Pekik Laina girang dengan kedatangan Felli dirumahnya.
"Tante...." Ucap Felli dan segera memeluk Laina, dan Laina juga membalas pelukan Felli.
"Kamu dari mana?" Tanya Laina melepaskan pelukannya.
"Baru pulang ngampus tant" jawab Felli tersenyum.
__ADS_1
"Yaudah kamu duduk dulu, tante ambilin minum ya" ucap Laina yang diangguki Felli.
Felli sudah menganggap Laina sebagai ibunya sendiri, begitupun Laina, ia sudah menganggap Felli sebagai anaknya sendiri. Karena ia sangat menginginkan anak perempuan. dari kecil Felli sangat akrab dengan Laina, sampai akhirnya Laina pergi dan membuatnya sangat kehilangan sosok seorang ibu yang selalu menyayanginya.
"Fell, gue mandi dulu ya, udah sore soalnya" ucap Vabio yang diangguki Felli.
Drrrttt... drrrttt... drrrttt...
"Hallo bi?" Ucap Felli.
"Fell, kamu dimana? Belum pulang ya?" Tanya bi Ina khawatir.
"Oh ya maaf bi Felli gak beritahu bibi tadi, sekarang Felli ada dirumah Vabio, mungkin nanti malem baru balik, gapapa kan bi?" Jawab Felli menjelaskan.
"Oh syukurlah kalau gitu, bibi takut terjadi apa-apa sama kamu. Yaudah kamu baik baik disana" ucap bi Ina lega.
"Iya Bi" jawab Felli dan menutup telponnya.
"Fell, nih tante buatin cake khusus buat kamu" ucap Laina membawa nampan berisi jus dan beberapa potong kue.
"Ya ampun tante repot banget" ujar Felli tak enak.
"Gapapa, ini kan khusus buat kamu, ayo dimakan" ucap Laina. Ia memang membuatkan kue khusus untuk Felli setelah mengetahui bahwa Felli akan berkunjung kerumahnya.
"Hmm enak tante" puji Felli menguyah makanannya.
"Tant, kasih tau resepnya dong, Felli tuh udah berapa kali buat kue, tapi gak seenak yang Tante bikin" ucap Felli memohon.
"Yaudah nanti tante kasih tau resepnya" jawab Laina tersenyum.
__ADS_1