
"Bu, Darwin akan pergi ke Singapura untuk menata hati Darwin. Darwin titip Felli Bu, jagalah dia untukku, besarkan dia bersama Ina. Darwin yakin ibu pasti bisa melakukannya. Dan ini untuk biaya semua keperluan Felli" ucap Darwin memberikan sebuah amplop yang sangat tebal.
"Tapi Win...."
"Bu, ibu tenang aja. Suatu saat Darwin akan kembali, untuk menjenguk putriku. Darwin hanya ingin menata hati kembali. Dan ini ibu simpan, dan kalau Felli sudah besar, berilah padanya" ucap Darwin memberikan kertas dari Ghita.
"Pak ini kopernya" ucap seorang pelayan memberikan koper pada Darwin.
"Win, kamu serius?"
"Serius Bu, kalau gitu Darwin pamit" ucap Darwin dan berjalan menuju pintu keluar.
"Darwin...." Teriak ibu Darwin mengejar anaknya. Namun Darwin sudah terlanjur pergi.
"Win, ibu tidak yakin dengan semua ini" gumam ibu Darwin menatap nanar.
"Nyonya jangan khawatir, kita pasti bisa membesarkan putri tuan Darwin. Nyonya bisa pegang kata kata saya" ucap Ina menghampiri nyonya nya dan memegang tangannya.
"Ina, saya mohon kamu jangan pergi ya. Saya butuh kamu untuk merawat Felli" pinta ibu Darwin.
__ADS_1
"Pasti nyah, saya tidak akan pergi kemana-mana, lagipula saya butuh pekerjaan untuk melanjutkan hidup saya" ujar Ina lirih.
"Memangnya kemana keluargamu?"
"Saya sudah tidak punya keluarga nyah, dan saya mengalami nasib yang sama seperti tuan Darwin" ujar Ina.
"Maksud kamu?"
"Suami saya baru saja meninggal sejak empat bulan yang lalu" lirih Ina.
"Baiklah, berjanjilah padaku untuk membesarkan Felli bersama sama" ucap ibu Darwin menepuk pundak Ina.
"Pasti nyah, saya akan menganggap Felli sebagai anak saya sendiri" ucap Ina yakin.
Sementara di bandara internasional Singapura, kini pesawat Darwin sudah mendarat sempurna. Ia melangkahkan kakinya untuk naik mobil dan meminta sopirnya kehotel untuk beristirahat.
"Nak, maafkan papa jika harus meninggalkanmu, papa hanya tidak ingin berlama disana karena selalu teringat-ingat pada ibumu. Papa akan kembali nak, papa akan kembali untuk menjemputmu nanti" gumam Darwin dalam hatinya.
Flashback off.
__ADS_1
Felli tak bisa lagi menahan tangisnya, air mata sudah membanjiri pipi mulusnya. Ia terisak sambil menggenggam surat dari sang ibunda yang sudah lama tiada.
"Oma, bibi, kenapa kalian menyembunyikan ini?" Tanya Felli yang masih terisak.
"Maafkan Oma Fell, Oma hanya tidak ingin kamu sedih mendengar semua ini. Oma ingin melihat kamu bahagia Fell. Oma sangat tau kamu kecewa, tapi Oma juga menginginkan yang terbaik untukmu" jelas sang Oma memeluk cucunya dan mengelus punggungnya.
"Jadi selama ini akulah yang membuat mama pergi?" Lirih Felli.
"Kamu gak boleh ngomong itu Fell, kamu gak bersalah" tutur bi Ina ikut memeluk Felli.
"Tapi bi, kalau mama tidak melahirkan Felli, mama tidak akan meninggal. Dan sekarang mama pasti sudah bahagia sama papa, mereka pasti akan hidup dengan tenang. Tapi kehadiran Felli yang merusak masa depan mereka, Felli yang telah menghancurkan semuanya bi. Felli udah buat papa gak bisa lagi ketemu mama, Felli udah buat hidup papa menderita. Dan sekarang Felli gak tau papa lagi ada dimana, dan Felli gak tau papa masih ada atau gak" ucap Felli terisak dengan seribu pikiran yang menghantui otaknya.
"Fell, sudah kamu gak bersalah, mungkin Tuhan telah merencanakan kebahagiaan untukmu kelak. Tuhan hanya ingin menguji kesabaranmu Fell, tuhan ingin melihat seberapa kuat kamu menjalani hidup ini" jelas sang Oma ikut menitikkan air mata.
"Felli udah gak kuat Oma. Seandainya Felli bisa minta satu hal didunia ini. Felli ingin bertukar posisi dengan mama. Biarlah mama bisa hidup didunia ini, biarlah mama bisa merasakan bahagia di dunia ini. Felli ikhlas jika tuhan menyabut nyawa Felli dan menyelamatkan mama" Isak Felli menatap lurus kedepan.
"Fell, kamu gak boleh ngomong gitu. Sudah gak usah sedih, bibi yakin kamu akan bertemu dengan papamu suatu hari nanti" ucap bi Ina mencoba menenangkan Felli.
"Felli gak yakin kalau papa mau mengakui Felli sebagai anaknya" ucap Felli tersenyum getir.
__ADS_1
"Maksud kamu?" Tanya Oma tak mengerti.
"Papa gak akan mau mengakui anak seburuk Felli Oma. Karena Felli yang sudah menyebabkan mama meninggalkan papa untuk selamanya" lirih Felli yang terdengar sangat pilu.