
"Tuan, kita mau kemana sih! Kebiasaan pake bawa bawa anak orang sembarangan!" Gerutu Felli saat didalam mobil.
"Sejak kapan Lo kerja disana?" Tanya Tristan dingin tanpa menjawab pertanyaan Felli.
"Mungkin 2 jam yang lalu" jawab Felli sambil melihat jam yang bertengger dipergelangan tangannya.
"Mulai besok Lo gak usah kerja disana!" Tekan Tristan sambil fokus menyetir.
"Loh kenapa tuan ngelarang saya kerja disana? Emang tuan pemilik restoran itu? Enggak kan" jawab Felli kesal.
"Pokoknya gue gak mau lagi liat Lo kerja disana, kalaupun Lo mau kerja, diperusahaan gue masih banyak lowongan pekerjaan" ucap Tristan datar.
"Tuan nyuruh gue kerja dikantor?" Tanya Felli menyeritkan keningnya.
"Pikir aja sendiri" jawab Tristan ketus.
"Dihh gak mau ah, nanti yang ada gue jadi cleaning servis disana, kan gak lucu!" Ucap Felli mengerucutkan bibirnya.
"Lagian kerja disana jauh lebih menyenangkan, daripada di kantor" lanjut Felli.
"Supaya Lo bisa asyik pacaran gitu" jawab Tristan dingin.
"Pacaran? Enak aja! Siapa yang pacaran, gue sama Vabio itu SAHABAT" tekan Felli diakhir katanya.
"Terserah..." Jawab Tristan cuek.
"Pokoknya Felli gak akan berhenti kerja disana" lanjut Felli membantah.
__ADS_1
"Berapa gaji Lo disana? Sampai gak mau gue suruh berhenti?" Ucap Tristan penuh penekanan.
"Walaupun gak digaji Felli tetap mau kerja disana, karena disana menyenangkan, Felli bisa belajar masak dan menambah pengetahuan" jelas Felli kekeuh.
"Kenapa kau selalu membantah sih!" Ucap Tristan mengusap kasar wajahnya.
"Karena tuan gak ada hak buat ngatur-ngatur hidup gue!" Sungut Felli melengos.
"Astaga kenapa dia selalu menjawab pertanyaan ku sih!" Geram Tristan dalam hati.
Tak terasa mobil Tristan telah sampai didepan gedung yang menjulang tinggi, yang tak lain adalah perusahaan Vernatha.
"Tuan kenapa kita kesini?" Tanya Felli bingung.
"Gak usah banyak tanya! Cepat turun!" Titah Tristan.
"Iya tuan" ucap Felli mendengus kesal dan turun dari mobil.
"Tuan tunggu...." Teriak Felli saat melihat Tristan yang telah berjalan jauh.
Ting...
Pintu lift terbuka, Felli dan Tristan segera masuk.
"Tuan kenapa tuan bawa gue kesini?" Tanya Felli.
"Kau itu berisik sekali!" Ketus Tristan yang jengah mendengarkan celotehan Felli dari tadi.
__ADS_1
Pintu lift terbuka dan Tristan langsung mengajak Felli keluar dan menuju ruangannya.
"Mulai sekarang Lo jadi pelayan pribadi gue disini" ucap Tristan santai sambil duduk dikursi kebesarannya. membuat Felli memekik terkejut.
"Whatttt!!!!!" Pekik Felli tak percaya.
"Heh! Lama lama Kuping gue budeg denger suara Lo!" Umpat Tristan menutup telinganya.
"Lagian tuan aneh banget, masa Felli disuruh jadi pelayan!" Ucap Felli cemberut kesal.
"Lo disana juga jadi pelayan kan?" Ucap Tristan.
"Ya tapi beda!" Seru Felli tak terima.
"Sama saja!" Jawab Tristan tak peduli dan mulai menyalakan laptopnya.
"Gak! Felli gak mau jadi pelayan pribadi tuan" ucap Felli dan mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana Lo?" Tanya Tristan melihat Felli yang sudah berdiri.
"Pulang!" Jawab Felli ketus dan mulai melangkah menuju pintu lalu keluar.
"Hey Lo main pergi aja!" Umpat Tristan dan segera menyusul Felli.
"Tuan nyebelin banget! Dasar balok es!" Gerutu Felli sambil tetap berjalan tanpa melihat kedepan. ia tak tahu bahwa ada seorang pelayan yang membawa kopi panas.
Brakkkk.
__ADS_1
Pranggg...
"Aww..." Ringgis Felli langsung berjongkok melihat kakinya yang mengeluarkan darah segara serta merah akibat tertumpah kopi hangat.