
Keesokan harinya, Felli bersiap akan pergi ke mall bersama Laina. Ia sudah lama tak berjalan jalan dengan seseorang yang sudah dianggapnya sebagai ibunya.
Felli mengenakan kemeja berwarna maroon dan celana jeans cutbray, serta rambut yang dikuncir ekor kuda. Walaupun sederhana tapi membuat Felli semakin cantik.
"Duh cantik banget" puji Laina yang sudah menunggu diruang tamu.
"Ah Tante bisa aja" jawab Felli malu.
"Yaudah Oma, bibi, Felli berangkat ya" pamit Felli mencium tangan Oma dan Bi Ina.
"Iya hati hati sayang" ujar Oma.
"Na, jaga keponakan ku" ucap bi Ina.
"Pasti, tenang aja selama Felli bersama aku, dia akan baik baik saja" ucap Laina terkekeh.
Merekapun berangkat bersama menuju mall.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit mereka sampai di mall terbesar dikota ini.
"Ayo masuk sayang!" Ajak Laina mengandeng tangan Felli lalu mereka masuk kedalam.
"Sayang, kamu pilih aja ya mana yang kamu mau" ujar Laina yang hanya dibalas anggukan dari Felli.
*************************
Sedangkan diperusahaan Vernatha, kini seorang perempuan cantik datang melangkahkan kakinya kedalam gedung menjulang tinggi itu.
"Tidak ada perubahan disini" ucapnya dan berjalan menuju resepsionis.
__ADS_1
"Permisi, boleh aku bertemu dengan tuan Tristan?" Ucapnya membuat penjaga resepsionis itu terkejut akan kedatangan seseorang yang telah lama pergi dari negara ini.
"Mba Carissa?" Resepsionis itu terkejut melihat siapa yang datang.
"Oh kau masih mengingat aku rupanya" ucap Carissa tersenyum simpul.
"Boleh aku bertemu Tristan?" Tanya Carissa.
"Maaf mba, apa mba sudah membuat janji?" Tanya resepsionis itu.
"Ya, aku sudah berjanji padanya, dan Sekarang apa aku boleh bertemu dengannya?" Tanyanya lagi.
"Tentu saja mba, silahkan" ucap resepsionis itu mempersilahkan.
"Terimakasih"
"Mba Carissa?" Gumam Gio yang melihat Carissa dari kejauhan.
"Tapi masa sih, gak mungkin dia balik kesini lagi, dan gak mungkin dia datang ke kantor ini" lanjut Gio menepis semua pikirannya.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk!" Sahut Tristan dari dalam.
Ceklek.
"Apa kabar honey?" Ucapnya membuat Tristan membulatkan matanya sempurna melihat siapa yang datang.
Antara percaya atau tidak, Tristan masih terpaku pada tempatnya, ia masih terkejut akan kedatangan seseorang yang telah lama hilang dalam hidupnya dan sekarang kembali lagi.
__ADS_1
"Hey apa kau tidak merindukanku?" Ucap Carissa dan berjalan menuju Tristan lalu duduk disampingnya.
"Berani sekali kau kesini tanpa ijinku!" Sentak Tristan langsung berdiri.
"Aku..."
"Keluar!" Usir Tristan mentah mentah.
"Aku datang bukannya disambut malah diusir" decak Carissa memberenggut.
"Keluar!"
"Apa perlu aku panggil security untuk menyeretmu pergi dari sini!" Ucap Tristan dengan suara yang ditinggikan.
"Kau sudah banyak berubah ya semenjak aku tinggal, mana Tristan yang aku kenal lembut dan kasih sayang seperti dulu?" Ucap Carissa berdiri dari duduknya.
"Kau sendiri yang merubahku seperti ini. Sekarang sebelum kesabaran ku habis, lebih baik kau pergi dari sini!" Sentak Tristan menatap tajam Carissa.
"Baiklah, tapi besok aku akan kembali kesini" ucap Carissa dengan senyum penuh arti.
"Ternyata mendapatkanmu kembali sangat susah!" batin Carissa dan segera pergi dari sana.
Setelah memastikan Carissa benar benar pergi, Tristan berjalan kearah resepsionis.
"Kenapa kalian mengijinkan masuk kesini tanpa seijin ku!" bentak Tristan pada penjaga resepsionis itu.
"Ma-maaf kan saya tuan, tapi mba Carissa bilang dia sudah membuat janji dengan anda" jawab resepsionis itu terbata.
"****! berani sekali dia berkata seperti itu" geram Tristan mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1