Pangeran Tampan Pengubah Hidupku

Pangeran Tampan Pengubah Hidupku
Flashback


__ADS_3

Dengan menghela nafas panjang, Oma dan Bi Ina akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Felli. Felli benar ia berhak tau dimana orangtuanya.


Flashback on.


Didalam ruangan serba putih, tampak seorang perempuan yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya. Keringat sudah bercucuran dipelipisnya, sedangkan suaminya terus memberikan semangat agar bisa melahirkan anaknya dengan selamat.


"Ayo Bu dorong sedikit lagi kepalanya sudah kelihatan" ucap sang dokter.


"Ayo sayang semangat, putri kita sedang mencari jalan keluar" ucap sang suami memberi semangat sambil mengecup kening istrinya.


"Aahhkkk..."


Oeekkkk... oeekkkk...


Tangisan seorang bayi menggema di seluruh ruangan, membuat sepasang suami istri itu tersenyum dan menitikkan air mata harunya.


"Selamat pak, Bu, bayi kalian perempuan" ucap sang dokter tersenyum.


"Terimakasih sayang" ucap sang suami tak henti-hentinya memberikan kecupan hangat diwajah istrinya.


Setelah selesai memandikan bayinya, sang suami mulai mengadzani putri kecil mereka.


"Kita akan beri nama siapa?" Tanya sang suami pada istrinya.


"Fellicia Revalina Putri" ucap sang istri tersenyum.


"Nama yang bagus" ucap sang suami setuju. "Revalina Putri" adalah nama belakang istrinya.


Setelah mengucapkan itu sang istri langsung tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Sayang hey sayang bangun" ucapnya sambil menepuk-nepuk pipi istrinya.


"Dokter...." Teriaknya kencang.


"Ada apa pak?" Ucap sang dokter tergesa gesa.


"Dok istri saya kenapa?" Tanyanya khawatir.


"Biar saya periksa, sebaiknya bapak tunggu diluar" ucap sang dokter lalu mengambil alih bayi mungil itu dan meletakkannya di box khusus bayi.


"Bagaimana keadaan Ghita?" Tanya sang ibunda menghampiri anaknya.


"Ghita masih tak sadarkan diri Bu" ucapnya lirih.


"Lalu putri kalian bagaimana?"


Tak berselang lama dokterpun keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaan istriku dok?"


"Mohon maaf pak, tapi kondisi pasien saat ini sedang koma. Beliau mengalami pendarahan yang cukup parah, dan kami tidak bisa memastikan kapan beliau akan sadar" jelas sang dokter.


Deg.


Air matanya langsung mengalir begitu saja, mendengar kabar istrinya saat ini sedang koma.


"Dok lakukan yang terbaik untuk istri saya, berapapun biayanya saya akan bayar" ucapnya tegas.


"Baik pak, kami akan melakukan yang terbaik"

__ADS_1


"Bu Ghita Bu..." Lirihnya sambil terduduk lemah dilantai.


"Sabar Win, mungkin ini cobaan buat kalian, teruslah berdoa supaya Ghita cepat sadar" ucap sang ibunda mengelus punggung anaknya.


"Sayang ku harap kau akan sadar dalam waktu dekat" gumamnya dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.


1 Minggu kemudian.


Ghita dinyatakan sadar dari komanya, dengan perasaan bahagia Darwin melangkah masuk untuk melihat keadaan istrinya.


"Sayang kamu sudah sadar" ucapnya sambil menghampiri istrinya.


"Win kalau misalnya aku harus pergi meninggalkanmu, maka jagalah putri kita" ucap Ghita dengan nada yang terdengar lemah"


"Kamu ngomong apa sih sayang, kita akan membesarkan putri kita bersama-sama" ucap Darwin yang tak suka mendengar perkataan istrinya.


"Win ini sakit sekali, aku tak kan bisa menahannya" ucap Ghita memejamkan matanya kuat.


"Enggak sayang, kamu harus kuat, ada aku dan putri kita disini" ucap Darwin menyemangati.


Dan saat itu Ghita langsung tak sadarkan diri.


"Sayang!!" Teriak Darwin dan langsung memencet tombol yang ada disana.


"Ada apa pak?" Tanya seorang dokter.


"Istriku pingsan lagi dok" ucap Darwin khawatir.


"Bapak keluar dulu, biar saya periksa" ucap dokter itu, dan dengan langkah gontai Darwin keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2