Pangeran Tampan Pengubah Hidupku

Pangeran Tampan Pengubah Hidupku
Posesifnya Tristan


__ADS_3

Saat ini Felli dan Gisel sedang menuju kantin untuk makan siang. Seperti biasa Felli tidak ingin pergi jika tidak ditemani Gisel. Dan Gisel memaklumi hal itu mungkin karena bawaan debay diperut Felli.


"Gi, gue boleh minta sesuatu gak sama lo?" tanya Felli ketika sampai di kantin.


"Apaan?"


"Gue mau liat lo yang nyiapin bakso gue, bukan buk kantin" jawab Felli yang sukses membuat Gisel membulatkan matanya.


"Fell, jangan bercanda dong. Disini banyak orang masa seseorang Gisela Aprilia jadi pelayan kantin? kan gak lucu!" sahut Gisel tak setuju.


"Gi, lo gak mau turutin permintaan keponakan lo. Gimana kalau dia ngambek? atau marah sama bundanya. Atau mungkin.... "


"Oke Oke gue bakal turutin permintaan lo" potong Gisel pasrah dan berjalan kearah buk kantin. diikuti Felli di belakangnya.


"Permisi buk" ucap Gisel pada buk Eni yang tak lain adalah pemilik kantin disana.


"Ada apa non Gisel?" tanya buk Eni.


"Emm.. buk boleh gak Gisel mengambil alih pekerjaan ibu sementara?" ucap Gisel.


"Maksudnya?" tanya buk Eni yang belum mengerti.


"Begini buk, Felli minta Gisel yang buatin pesanannya, Kalau enggak Gisel bakal dihajar habis oleh suaminya nanti" jelas Gisel.


"Oh boleh kok" ucap bu Eni tak keberatan. Ia sudah tau tentang kehamilan Felli dan mungkin ini adalah salah satu ngidamnya begitu pikir bu Eni.


"Wihhh Gi, lo udah cocok kalau mau jadi tukang jual bakso. Mantep banget gaya lo" puji Felli mengacungkan kedua jempolnya. Sedangkan yang dipuji hanya bisa mendengus kesal lantaran jadi tontonan beberapa mahasiswa disana.


"Untung lo sahabat gue, kalau enggak udah gue kasih tendangan garuda biar lo kelempar jauh dari sini" batin Gisel mencebik kesal.


Setelah selesai menyiapkan pesanan Felli kini mereka kembali ke meja untuk makan siang.


"Hmm Gi, enak banget buatan lo" puji Felli sambil menguyah baksonya.

__ADS_1


"Itu buatan Bi Eni kali. Gue cuma nyiapin buat lo" Jawab Gisel.


Drrttt... Drrtttt.... Drrttt...


Terdengar dering HP Gisel berbunyi. Ia merongoh HP nya di saku bajunya. Gisel menyeritkan keningnya saat melihat nama Tristan disana. Sebelumnya Tristan memang pernah bertukar nomor ponsel dengan Gisel. Supaya ia bisa menelpon Gisel saat Felli tak bisa dihubungi.


"Fell, laki lo nelpon" ucap Gisel.


"Hah? ngapain?" tanya Felli. Membuat Gisel mengangkat bahunya dan memencet tombol hijau yang ada disana.


"Hallo tuan" ucap Gisel saat sambungan telepon tersambung.


"Lo lagi sama Felli?" tanya Tristan to the point.


"Iya nih Felli lagi sama gue" jawab Gisel.


"Gue mau ngomong sama dia" ucap Tristan datar.


"Kenapa Tris?" tanya Felli.


"Kamu kemana aja sih? aku telpon gak diangkat, chat juga gak dibales. Kamu baik baik aja kan?" tanya Tristan yang terdengar khawatir.


"Aku gak papa kok"


"Lalu kemana hape kamu?" tanya Tristan.


"Dikelas aku lupa bawa tadi" jawab Felli menyegir.


"Lagi ngapain?"


"Makan siang dikantin"


"Makan apa?"

__ADS_1


"Bakso"


"Pedes gak?"


"Emang kenapa?"


"Pedes gak?" tanya Tristan mengulangi ucapannya.


"Pedes"


"Ganti buruan!" suruh Tristan.


"Emang kenapa sih?"


"Sayang kamu gak boleh kebanyakan makan pedes, itu bahaya buat baby kita" cegah Tristan.


"Tapi.... "


"Ganti atau aku kesana!"


"Oke oke aku ganti sekarang" ucap Felli mendengus kesal.


"Yaudah matiin dulu nih, aku mau ke buk kantin" ucap Felli.


Tristan mematikan sambungan telponnya, membuat Felli menghela nafas lega. Namun detik selanjutnya Tristan melakukan Video call. membuat Felli tak tahu harus berbuat apa. Ia tak betniat mengganti baksonya tapi Tristan malah mengajaknya video call. Dan akhirnya Felli memencet tombol hijau yang ada disana.


"Buruan ganti, aku mau liat" titah Tristan.


"Iya... iya... ini juga mau jalan" Felli memutar bola matanya jengah melihat kelakuan suaminya yang sangat posesif itu.


"Huhh padahal ini buatan Gisel enak" gerutu Felli dalam hati.


"Segitu bucinkah tuan Tristan sama Felli? Huhh gue harap gak bakal dapet laki modelan begitu" batin Gisel.

__ADS_1


__ADS_2