Pangeran Tampan Pengubah Hidupku

Pangeran Tampan Pengubah Hidupku
Bertemu papa


__ADS_3

Felli tiba didepan rumahnya, ia segera membayar taxi dan melangkah masuk kedalam rumah.


Tapi saat baru beberapa langkah menuju pintu. Sebuah mobil sport datang, dan Felli sudah tau betul siapa itu.


Tristan keluar dari mobilnya, dan menghampiri Felli.


"Ngapain tuan nyusul saya?" Tanya Felli ketus.


"Fell gue minta maaf atas ucapan Carissa tadi, gue tau Lo marah, tapi gue juga gak nyangka dia bakal ngomong gitu sama Lo" jelas Tristan.


"Iya gue tau, yang diomongin dia tadi memang benar. Aku gak pantes buat tuan, aku dan tuan itu bagaikan langit dan bumi, tidak akan bisa bersatu. Tuan terlalu tinggi untuk ku gapai. Dan mulai sekarang saya tidak mau berurusan lagi sama tuan!" Ucap Felli tegas.


"Maksudnya?" Tanya Tristan tak mengerti.


"Tuan bilang aja kalau saya bukan tunangan tuan, dan kita cuma pura pura aja didepan dia. Dan mulai sekarang saya gak akan pernah berurusan lagi dengan tuan. Saya mohon tuan jangan ganggu saya lagi, anggap aja semua yang udah kita lakuin itu hanya angin yang lewat" ucap Felli dan segera pergi meninggalkan Tristan yang masih termenung dengan seribu pikiran.


Tristan hanya menghela nafas panjang, dan berjalan gontai memasuki mobil.


"Tristan, sebenarnya aku ada sedikit rasa untukmu, tapi kata dia tadi benar, lebih baik aku mundur sebelum terluka lebih dalam lagi" batin Felli dibalik pintu.


"Fell, kamu kok udah pulang?" Tanya bi Ina yang melihat Felli berdiri dibalik pintu.


"Eh bi..." Ucap Felli berusaha tersenyum.


"Kamu kenapa pulang?" Tanya bi Ina.


"Sebenarnya Felli gak kuliah bi" lirih Felli.


Bi Ina menghela nafas, ia mengerti keadaan Felli yang sekarang. Untuk saat ini bi Ina membiarkan Felli menenangkan pikirannya dulu.


"Yaudah kamu duduk dulu, bibi masih ada kerjaan di dapur" ucap bi Ina yang diangguki Felli.


Felli duduk diruang tamu, dan memainkan hapenya. Tak berapa lama suara ketukan pintu membuat Felli segera beranjak dan membukakan pintu.


Ceklek.


"Vab, ngapain Lo balik kesini lagi?" Tanya Felli.

__ADS_1


"Fell, Lo ikut gue bentar" ajak Vabio.


"Kemana?" Tanya Felli.


"Lo akan tau nanti, tapi yang pasti ini penting!" Jawab Vabio.


Felli menatap Vabio intens, tapi sepertinya Vabio memang sedang membutuhkannya.


"Yaudah tapi jangan lama lama" ucap Felli akhirnya.


"Baiklah, ayo!" Ajak Vabio mengajak Felli untuk masuk kedalam mobilnya.


*************************


Mobil Vabio sudah berhenti disebuah cafe. Mereka keluar dari mobil, dan mulai berjalan masuk kedalam.


"Vab, ngapain kita kesini?" Tanya Felli.


"Kita mau nemuin seseorang" jawab Vabio sambil celingukan mencari keberadaan seseorang.


Matanya tertuju pada seorang pria yang tengah duduk sambil menyeruput kopinya.


"Hay om" sapa Vabio tersenyum.


"Vabio, kamu udah sampai. Silahkan duduk" ucapnya mempersilahkan.


Vabio dan Felli pun duduk dikursi. Felli menatap pria didepannya ini yang sepertinya berumur 50 tahun.


"Vab, siapa dia?" Bisik Felli.


Vabio hanya tersenyum.


"Oh ya om, ini adalah Felli anak kandung om" ucap Vabio membuka percakapan.


Deg.


Felli terpaku sambil terus memandang pria didepannya ini. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan orangtuanya. Tapi ia juga kurang percaya kalau ini adalah orangtua kandungnya.

__ADS_1


"Vab, Lo gak lagi bercanda kan?" Tanya Felli menatap Vabio meminta penjelasan.


"Gak Fell, ini om Darwin ayah kandung Lo. Om Darwin tinggal di Singapura dan kedatangan om kesini ingin bertemu dengan kamu" jelas Vabio.


Felli menatap mata Vabio intens, mencoba mencari kebohongan disana, namun ia tak menemukan kebohongan diamata Vabio. Membuat Felli bingung harus berbuat apa.


"Tapi aku tak pernah merasa punya orangtua didunia ini" ucap Felli apa adanya. Ya Felli memang benar ia tak pernah merasakan punya orangtua didunia ini, seingatnya Oma dan Bi Ina lah yang menjadi peran kedua orangtuanya.


"Felli, ini papa" ucap Darwin tersenyum pada putrinya.


Felli terdiam tapi ia terus memandang pria didepannya ini, mencoba memastikan faktanya.


"Fell, maafkan papa bila dulu egois padamu, maafkan papa yang dulu meninggalkanmu. Papa udah coba nyari keberadaan kamu, tapi papa gak pernah bisa menemukannya. Sampai akhirnya Vabio menelpon papa dan mengabarkan bahwa kamu ada di kota ini" jelas Darwin.


"Papa..." Ucap Felli dan memeluk papanya.


Darwin terkejut atas tindakan Felli, namun ia tak menolak. Darwin mengelus punggung Felli.


"Pah, apa kabar?" Tanya Felli mengurai pelukannya.


"Seperti yang kamu lihat" jawab Darwin tersenyum.


Sedangkan Vabio hanya memperhatikan pertemuan antara orangtua dan anak didepannya ini.


"Pah, Felli senang bisa ketemu sama papa" ucap Felli menitikkan air mata harunya.


"Papa juga senang ketemu sama kamu Fell" balas Darwin.


"Vab, makasih ya udah buat gue ketemu bokap gue" ucap Felli beralih menatap Vabio.


"Sama sama Fell" jawab Vabio tersenyum.


"Fell, kamu mau ikut papa?" Tanya Darwin.


"Ikut kemana?" Tanya Felli.


"Ke Singapura, disana kamu bisa ketemu sama mama kamu. Ya walaupun bukan mama kandung" ucap Darwin lirih.

__ADS_1


Felli terdiam sejenak, mencoba berpikir atas tawaran papanya. Disatu sisi ia ingin sekali ikut dengan papanya. Namun disisi lain ia juga berat meninggalkan kota ini.


__ADS_2