
"Silahkan masuk nona" ujar Gio membuka pintu mobil untuk Felli.
"Makasih" jawab Felli tersenyum dan masuk kedalam mobil.
Didalam mobil, tak ada pembicaraan sedikitpun diantara mereka. Hingga tak terasa mobil mereka telah sampai didepan gedung yang menjulang tinggi yang tak lain adalah perusahaan Vernatha.
"Silahkan nona..." Ucap Gio mempersilahkan Felli.
"Thanks" jawab Felli dan berjalan bersama Gio.
Mereka sudah sampai didepan ruangan Tristan.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk!" Seru Tristan dari dalam.
Ceklek.
Felli dan Gio melangkah masuk kedalam ruangan Tristan.
"Gio, kau keluarlah!" Perintah Tristan membuat Gio langsung menurut.
"Baiklah tuan, saya permisi" ucap Gio dan melangkah keluar dari ruangan Tristan.
"Tuan kalau boleh tau, berapa lama saya jadi pelayan pribadi tuan?" Tanya Felli.
"Mungkin sebulan" jawab Tristan santai.
"What!!! Tuan yang bener aja dong, saya masih punya kerjaan diluar" ucap Felli tak setuju.
"Lagian kalau tuan butuh pelayan pribadi, noh cari aja diluar sana. Pasti banyak yang pengen jadi pelayan pribadi tuan" lanjut Felli mengoceh.
__ADS_1
"Bisa gak Lo diem, gue lagi kerja, dan tugas Lo buatin kopi terus bawa kesini" suruh Tristan.
"Baiklah tuan, tapi dimana tempatnya?" Tanya Felli, karena ia tak tahu dimana letak dapur dikantor ini.
Tristan menelpon Gio untuk keruangannya.
"Permisi tuan, ada apa?" Tanya Gio masuk kedalam ruangan Tristan.
"Kau antarkan dia kedapur!" Suruh Tristan menunjuk Felli dengan dagunya.
"Baik tuan, mari nona" ujar Gio mengantarkan Felli menuju dapur kantor.
"Nona ini dapurnya, jika ada keperluan tanya saja pada mereka" ujar Gio menunjuk beberapa karyawan disana.
"Oh baiklah, terimakasih" ucap Felli tersenyum.
"Sama sama nona, saya permisi" jawab Gio dan berlalu pergi dari sana.
"Emmm Iya, tapi saya hanya sementara disini" jawab Felli tersenyum kaku.
"Oh begitu" jawanya mengangguk-angguk mengerti.
"Oh ya, dimana letak kopi dan gula?" Tanya Felli pada pelayan itu.
"Ini nona" ucapnya sambil membukakan lemari berisi bumbu bumbu serta ada juga gula dan kopi.
"Terimakasih" ucap Felli dan mulai membuatkan kopi untuk Tristan.
Setelah selesai Felli pun menuju ruangan Tristan.
"Permisi tuan, ini kopinya" ucap Felli meletakkan cangkir kopi didepan Tristan.
__ADS_1
Tristan hanya melihat sekilas dan mengambil cangkir kopi itu lalu menyeruputnya.
"Lumayan juga" ucap Tristan. Padahal dalam hatinya berkata rasa kopi buatan Felli sangat enak, mengalahkan buatan mamanya.
"Terus sekarang saya harus apa lagi tuan?" Tanya Felli.
"Pijit pundak ku!" Perintah Tristan menepuk pundaknya sendiri.
"Hah?" Ucap Felli ternganga.
"Udah cepetan!" Tegas Tristan membuat Felli mau tak mau memijit pundak Tristan.
"Enak juga pijitannya" batin Tristan tersenyum simpul.
"Sabar Fell sabarrr..." Batin Felli dalam hati.
"Gue lebih baik bersih-bersih rumah daripada jadi pelayan pribadi nih tuan es" gerutu Felli dalam hati.
Drrrttt... drrrttt... drrrttt...
Ponsel Felli berdering tertera nama bi Ina disana.
"Bentar ya tuan" ucap Felli yang diangguki Tristan.
"Hallo bi" sapa Felli mengangkat telponnya.
"Fell, kamu dimana kok belum pulang?" tanya bi Ina dengan nada yang terdengar khawatir.
"Oh ya maaf Felli lupa kasih tau bibi. Felli lagi jalan sama teman-teman, mungkin agak sorean balik, gapapa kan bi?" jawab Felli meminta izin.
"Oh gitu, yaudah bibi hanya nanya itu aja" ucap bi Ina dan mematikan telponnya.
__ADS_1