
Tristan mulai memanjat pohon itu, nyatanya sangat susah dari yang ia bayangkan. Kandungan Felli baru berusia 12 minggu saja sudah menyusahkan begini. Apalagi kalau sudah membesar nanti? Oh My God Tristan tak bisa membayangkannya.
"Ayo sayang semangat demi anak kita" teriak Felli memberi suport.
"Buahahaha sumpah lo lucu banget kalau lagi gini bang" tawa Denis seketika pecah melihat abangnya memanjat pohon mangga muda.
"Jangan ketawa lo!" Sungut Tristan kesal.
Cekrek.
Denis memotret Tristan yang sedang berusaha menjangkau buah mangga muda.
"Denis hapus gak!" teriak Tristan yang sudah sangat kesal dengan kelakuan adiknya itu.
"Ini momen langkah bang, jadi harus diabadikan" jawab Denis tak henti hentinya tertawa ketika melihat foto yang barusan ia ambil.
"Haiss kamu ini" decak mama Novi dengan kelakuan anak bungsunya.
"Nah dapet" ucap Tristan kala berhasil mendapatkan satu buah mangga.
"Yang itu yank" ucap menunjuk buah mangga muda yang kelihatan agak besar.
"Yang ini?"
"Bukan"
"Ini?"
"Bukan yang itu"
"Yang ini?"
"Nah iya bener"
Tristan mendengus kesal dengan kelakuan istrinya. Bagaimana tidak? buah itu daritadi stand by didekatnya kenapa Felli gak langsung tunjuk aja.
__ADS_1
"Sabar Tristan sabarrr... " batin Tristan.
"Wihh ada apaan nih rame rame?" sahut Rey yang baruu datang.
"Hah, bang lo ngapain diatas sana?" tanya Rey yang seketika otaknya blank.
"Tidur" ketus Tristan.
Lalu sedetik kemudian tawa Rey pecah melihat moment langkah yang sedang ia saksikan saat ini.
"Hahahahah bang lo udah cocok kalau mau ganti profesi" ucap Rey sambil mengusap sudut matanya yang basah akibat tertawa.
"Ya Tuhan kenapa gue punya adik sama sama gak guna sih!" kesal Tristan tak terima ditertawakan oleh dua adiknya.
"Mas, kok kamu udah pulang?" tanya Flora pada suaminya.
"Tadi ada yang ketinggalan sayang, tapi ngeliat rumah sepi jadi mas kesini" jawab Rey mengecup sekilas kening Flora.
"Yaudah kamu balik lagi aja ke kantor, siapa tau penting" suruh Flora.
"Nggak sayang, gak terlalu penting kok. Kalau liat ini baru penting. Ini limited banget loh" ucap Rey.
"Jangankan manjat, makannya aja gak pernah dia mah" jawab Rey meremehkan.
"Lo juga sama kali bang" sahut Denis.
"Beneran mas?" tanya Flora.
"Hmm iya" jawab Rey malas.
"Kamu ini laki laki loh. Aku aja pernah manjat pohon. Bahkan lebih tinggi dari ini" ucap Flora, membuat Rey terkejut tak percaya.
"Serius yank?"
"Hu'um. bahkan aku sampai dikejar-kejar sama pemilik pohonnya, karena manjat gak bilang bilang" jawab Flora tertawa mengingat masa remajanya dulu.
__ADS_1
"Ya ampun Ra, lo hebat juga ya. Gue kira lo gak punya kemampuan apa apa" puji Denis.
"Cihh emang lo yang gak punya kemampuan!" ketus Flora.
"Oh ya Marcel mana?" tanya Rey yang tak melihat keberadaan putra sulungnya.
"Lagi tidur" jawab Flora.
Setelah sekian purnama Tristan berhasil memetik beberapa buah mangga itu. Tentunya dengan kerja yang ekstra agar bisa memenuhi permintaan sang istri tercinta.
"Mama buat bumbu rujaknya dulu ya" ucap mama Novi lalu berjalan kedapur. Sementara yang lain menunggu di ruang tamu.
"Aku kupasin ya?" ucap Felli hendak mengambil pisau.
"Jangan sayang, nanti kamu luka. Udah biar aku aja" cegah Tristan.
Setelah buahnya dikupas dan bumbu rujaknya sudah siap. Kini Felli mencoba buah yang sangat diinginkannya itu. Bukan cuma Felli tapi Flora, Gisel dan mama Novi pun ikut menikmati hasil jerih payah Tristan tadi.
"Ya ampun asem banget" ucap Flora memejamkan kedua matanya.
"Sayang udah jangan dimakan lagi. Nanti kamu sakit perut" cegah Rey.
"Gimana sayang? enak?" tanya mama Novi pada Felli.
"Enak mah" jawab Felli menguyah buah itu.
"Emang gak asem ya Fell?" tanya Flora heran.
"Enggak" jawab Felli jujur.
"Gila asemnya kebangetan" ucap Gisel dan langsung berhenti memakan buah itu. Lalu mengambil air.
"Emang asem ya?" tanya Felli.
"Asem banget" jawab Gisel dan Flora.
__ADS_1
"Kok gue gak ngerasa ya?" ucap Felli.
"Ah lidah lo emang udah konslet" sahut Denis. yang langsung dapat tatapan tajam dari Tristan.