
Felli duduk termenung disebuah taman, ia menatap lurus kedepan. Kecewa, sedih, kesal, sakit hati, bercampur jadi satu.
"Bolehkah aku berharap akan bertemu dengan kedua orangtuaku suatu hari nanti. Dan mendapatkan kasih sayang darinya walau hanya sebentar" lirih Felli yang meloloskan butiran bening dipipinya.
"Sekarang siapa yang harus ku percaya? Bahkan sahabatku saja tega menyembunyikan ini dariku" gumam Felli menepis kasar air matanya.
"Kenapa hidup sungguh tidak adil? disaat semua orang mempunyai keluarga yang lengkap dan hidup bahagia sedangkan aku?" ucap Felli tersenyum getir.
"Ngapain disini?" Suara seorang yang sangat Felli kenal, dan reflek ia pun mendongakkan kepalanya.
"Tristan..." Gumam Felli melihat Tristan.
"Ngapain disini sendiri? Bukannya Lo kuliah?" Tanya Tristan ikut duduk disebelah Felli.
Tristan dapat melihat bahwa gadis didepannya ini baru saja menangis, entah apa yang ditangisi nya. Tristan merasa Felli bukanlah seorang yang lemah, karena ia sudah tau bagaimana kepribadian Felli. Tapi apa yang membuatnya sampai menangis? Pikir Tristan.
"Lo nangis?" Tanya Tristan melihat Felli termenung sambil menatap lurus kedepan.
"Gue gapapa kok" jawab Felli berusaha untuk tegar, ia tak mau kelihatan lemah didepan orang lain.
"Lo lagi ada masalah?" Tanya Tristan menatap mata Felli.
"Gue gapapa Tris" ucap Felli berusaha tersenyum.
__ADS_1
"Gue tau Lo lagi gak baik baik saja, kalau Lo ada masalah cerita sama gue, kali aja gue bisa bantu" tutur Tristan lembut.
"Gue...." belum sempat Felli melanjutkan ucapannya suara seseorang membuatnya harus menghentikan ucapannya.
"Tristan..." Panggil Carissa dengan suara yang dibuat manja.
"Ngapain kalian berdua disini?" Tanya Carissa memberikan tatapan tak suka pada Felli.
"Bukan urusan Lo" jawab Felli ketus.
"Gue gak yakin kalau kalian bener-bener udah tunangan" ucap Carissa sinis.
"Kenapa Lo bisa bicara seperti itu?" Tanya Tristan tak suka.
"Tris, Lo gak salah pilih pasangan? Masa Lo mau sama dia. Liat gayanya aja jauh banget sama Lo dan dia gak sederajat sama Lo. Gue yakin dia pasti ngincar harta Lo aja" ejek Carissa merendahkan.
Plakkkkk.
Satu tamparan mendarat sempurna dipipi mulus Carissa.
"Jaga mulut Lo! Gue gak seperti yang Lo pikiran! Harusnya Lo tuh ngaca, dan gak perlu panjang lebar mengomentari gue. Karena tanpa Lo komentari pun gue udah sadar siapa gue sebenernya!" Tekan Felli dan segera pergi dari sana.
"Felli...." Teriak Tristan hendak mengejar Felli, tapi langsung dicekal oleh Carissa.
__ADS_1
"Tris, buat apa sih Lo ngejar dia?" Ucap Carissa tak suka dengan tindakan Tristan.
"Lepasin!" Ucap Tristan menepis kasar tangan Carissa dan berlari mengejar Felli.
"Dihh Tristan mau aja sama cewek kaya dia" ucap Carissa setelah Tristan pergi.
"Sial dia udah pergi!" Umpat Tristan melihat Felli sudah naik taksi, dan tanpa pikir panjang Tristan pun langsung menuju mobilnya, dan menancapkan gas mengejar mobil Felli.
*************************
Sementara ditempat lain, tampak Vabio sedang menghubungi seseorang.
"Om beneran mau kesini besok?" Ucap Vabio dengan girang.
"Ya, om akan kesana besok, dan tolong ajak Felli juga ya. Kita ketemu di cafe X besok" ucap seseorang diseberang sana.
"Iya om, makasih udah mau dateng kesini" ucap Vabio tulus.
"Iya sama-sama" ucapnya dan mematikan sambungan telepon.
"Semoga dengan cara ini Felli bisa sedikit lebih baik" gumam Vabio.
Didalam mobil Felli tak henti-hentinya menangis, hal semalam saja membuatnya sudah sangat sedih, dan sekarang ditambah ucapan Carissa yang membuatnya tersulut emosi.
__ADS_1
"Ini mba" ucap sang sopir memberikan kotak tisu pada Felli.
"Makasih pak" jawab Felli menerima kotak tisu itu.