PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
10.


__ADS_3

Sementara di kamar tamu, Altez menyeringai senang setelah membalas perbuatan Yania yang telah menghancurkan ponselnya terlebih dahulu.


"Kita impas sekarang." Altes menggumam dalam senyuman.


Pagi harinya.


Sia*lnya, mengapa Yania bisa lupa jika semalam adalah malam Sabtu. Itu tandanya hari ini adalah weekend. Yania sangat malas jika seharian berada dan terus menatap wajah Altez si pria yang menyebalkan yang membuatnya hilang kepercayaan diri.


Yania bangun dengan perlahan-lahan dan keluar dari kamar dengan mengendap-endap. Dia memindai keseluruh sudut ruangan. Nampaknya Altez belum terbangun, dia kemudian mulai menyalakan kompor dan merebus air.


Satu kebiasaannya setiap bangun pagi adalah menyeduh kopi hitam tanpa gula. Ya, apalagi jika bukan untuk menjaga berat badannya. Sementara merebus air, Yania juga sudah membuat omelette yang begitu enak dan cocok jika dikombinasikan dengan secangkir kopi.


Yania selesai dengan kopi dan omelette miliknya yang sengaja dia hanya menyiapkan satu porsi, dia enggan berbagi makanan dengan mahluk hidup yang menyebalkan yang sedang menghuni kamar tamu tersebut. Siapa lagi kalau bukan suaminya sendiri?


Tania mengambil buku bacaannya, buku tentang cara mengolah amarah secara psikologis. Memang Yania masih mendalami tentang karakter pribadinya sendiri melalui konseling, dan juga materi dari para psikolog kepercayaan keluarganya. Sampai detik ini Yania masih rutin mengonsumsi obat dan juga terapi mental untuk mengembalikan rasa percaya dirinya yang hilang. Tanpa obat-obatan tersebut, Yania tidak akan berani untuk keluar ataupun berada di kerumunan. Dia takut pada kumpulan banyak orang.


Altez keluar dari kamarnya dengan rambut yang berantakan dan bertelanjang dada. Dia hanya mengenakan celana pendeknya saja dan sangat jelas terlihat tidak ada ****** ***** dibalik itu semua.


Yania yang melihat sesuatu yang bergelayut itu seketika menutup mulutnya yang nyaris saja berteriak lantaran terkejut melihat tampilan belut yang meliuk-liuk.


Apa dia gila? memakai celana seperti itu saja dan berkeliaran di dalam rumah?


Batin Tania mengomentari penampilan suaminya.


Dia lupa jika dia sekarang juga tak lebih bagus dari Altez. Rambutnya masih berantakan dengan mengenakan daster jumbo yang besarnya melebihi besar tubuhnya. Yania suka menyembunyikan bentuk tubuhnya yang asli. Meskipun saat menggelar pesta pernikahan dia mengenakan baju pengantin, tapi jangan pikir akan mengenakan gaun yang press body. Tidak, yania mengenakan gaun peninggalan sang Nenek yang sangat ketinggalan jaman dan kacamatanya pun tak di ganti dengan softlens. Sungguh tampilan yang jauh dari kata menarik.

__ADS_1


"Bueh....! bueh...! Apa ini pait sekali? Apa di rumah ini kehabisan gula?" Celetuk Altez setelah menyemburkan kopi yang di sesapnya.


"Ngakunya anak orang kaya, dirumah saja gula tidak mampu beli." Seloroh Altez tanpa melihat bagaimana reaksi wajah Yania.


" Pahit atau manis itu selera. Bukan masalah miskin atau kaya! Dan dengar ya suamiku, Altezza Basman. Aku membuat kopi ini bukan untukmu. ini untuk diriku sendiri. paham?" Ucap Yania dengan nada datar dan lemah lembut.


"Ini juga bukan untukmu, Mas. Aku sengaja membuatnya untuk diriku sendiri. Masih ingatkan akan semua poin yang kau tuliskan? Jangan mencampuri urusan satu sama lain. Yang itu artinya, termasuk makanan, pakaian dan segala macamnya. Aku tidak berhak mengurusnya. Jadi, maaf ya. Aku harap kau menepati semua isi perjanjian pernikahan kita yang begitu indah dan harmonis ini." Ucap Yania dengan lembutnya sambil terkekeh geli di akhir kalimatnya.


Altez terdiam menyimak semua penuturan sang istri. Benar memang apa yang yania jabarkan. Jika dia menyebutkan tak ingin saling mengurusi urusan masing-masing, itu berarti mencakup semuanya secara keseluruhan.


"Jangan tertawa jelek! Kau itu sangat menyebalkan! Argh!" Altez melemparkan sebuah cangkir kosong ke lantai dan pecahan kacanya berhamburan di lantai.


"Haduh, ternyata begini perangaimu Mas? Astaga, kamu menambah pekerjaanku saja. Tapi maaf, coba sekarang pikirkanlah. Bagaimana caranya kamu pergi dari situ sedangkan kamu tidak memakai sandal?" Ucap Yania dengan santainya.


Yania menggeleng lalu bersendekap. " Lihat aku, aku begitu bebas berjalan. Bye... bye!" Ucap Yania yang kemudian membawa kopi dan omelette miliknya masuk kembali kedalam kamarnya.


Yania yang sudah masuk kedalam kamar dan mendengarkan ocehan Altez seketika keluar dan. tertawa. "Oh, seramnya!! Iyakah? yakin bisa... yakin, mampu berpisah dariku?" Ucap Yania mendayu-dayu. Jangan lupakan tatapan matanya yang begitu meremehkan.


Altez semakin kacau dan terbakar emosi. Dia lalu melemparkan satu cangkir lagi hingga beling semakin banyak berserakan di lantai.


"Shitt! bisa gila aku kalau terus begini!!" Altez sungguh kebingungan mencari cara agar bisa beranjak dari sana tanpa terluka. Sungguh ini adalah senjata makan tuan.


"Yaya! tolong aku!! Teriaknya begitu kencang.


Satu dua kali dia berteriak, tapi tetap tak ada jawaban. Sebab yang di panggil sedang,

__ADS_1


Yania berada di dalam kamarnya, menikmati mentari pagi dengan melihat ikan ikan di kolam mini, dan juga menyirami tanamannya. Dia lalu duduk di bawah pohon yang berukuran sedang nan rimbun. Sungguh pagi yang indah, ditemani secangkir kopi, buku bacaan dan juga sepiring omelette. Oh, nikmat mana yang kau dustakan?


Dia tak mendengar panggilan Altez sebab apa? Sebab telinganya sudah tersumpal dengan earphone yang memutar musik dan lagu klasik. Oh, begitu sempurnanya harimu Yania.


Terdengar suara bel dari gerbang luar, ada tamu yang datang. Altez sangat marah, dia berteriak-teriak memanggil Yania, tapi tetap tak ada respon. Hingga akhirnya Altez memberanikan diri untuk turun dan mengambil sapu lantai. Tapi sayang, kakinya yang mulus harus tertancap sebuah serpihan kaca.


Altez mencabutnya dan hanya memakaikan plester tanpa membersihkannya. Dia lalu membukakan pagar meski dengan berjalan pincang sebab dia tau yang datang hari ini adalah Mama Alda.


"Eh, Mama. Pagi sekali Ma?" Altez menyambut dengan sopan kedatangan Mamanya.


"Iya dong, kan mau bantuin beres-beres mumpung hari libur. Mana menantu Mama?"


"Ada Ma, di dalam. Lagi ngambek dia ngurung diri di kamar."


"Kenapa, buat ulah apalagi kamu?" Mama Alda langsung menyorot tajam putranya.


Altez membuat jawaban yang masuk di akal kali ini. " Eza tidak sengaja ma memecahkan dua cangkir kesayangannya tadi waktu mau bikin kopi." Dalihnya sempurna.


"Oh, hanya karena itu? gampang. Kasih tau Mama cangkirnya seperti apa. Nanti biar Mama yang ganti. Lagian kamu ada-ada aja!" Mama Alda menggeleng perlahan.


"Yaya! Yang! ada Mama ini! Udah dong ngambeknya!! Ya!" Seru Altez di depan pintu kamar Yania.


"sebentar ya Ma." Pamitnya pada sang Mama yang duduk manis di ruang tamu.


Tetap tak ada jawaban, Altez lalu mencoba memutari rumah dan memanjat pagar yang tepat berada di belakang kamar Yania.

__ADS_1


Altez langsung membekap mulut istrinya begitu dia turun. Tatapan mereka saling beradu. Altez yang membuat peraturan tak akan menyentuh bahkan seujung kuku, nyatanya malah sekarang dia membekap dan memeluk Yania dari belakang. See!! menjilat ludah sendiri!


__ADS_2