PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
16.


__ADS_3

...🐦🐦🐦...


"Vi.....vito?" Ucapku yang sangat tergugup melihat muridku duduk di atas ranjang bersamaku.


Sungguh awal malapetaka ini namanya. Tidak pernah sekalipun Joana membuat kesalahan seperti ini. Tapi ini?


"Kenapa kamu? di CV bukan kamu yang seharusnya kemari. Ke... kenapa?" Sumpah aku sangat malu saat ini.


"Bu, temanku berhalangan hadir karena ibunya masuk rumah sakit, jadi dia meminta bantuan ku untuk menggantikannya dengan perjanjian membagi hasilnya nanti." Katanya dengan nada nada bicaranya yang santai.


Seharusnya ini menjadi waktuku untuk healing dan terbebas dari Altez dengan sedikit merasakan usapan lembut dari pria. Tapi malah begini jadinya. Dia berkata seperti itu, itu berarti bukan salah Joana? Oh, dasar! sepandai-pandainya kita menutup bangkai maka baunya akan tercium juga kan?


Aku sudah kepalang malu, biar basah sekalian. Persetan dengan pakaianku saat ini, yang ada di kepalaku hanyalah rasa ingin menghilang dengan jurus seribu bayangan.


Aku menunduk dan meremas rambutku sungguh frustrasi dan tak tau harus berbuat apa lagi.


"Bu, sudah malam. Aku mengantuk." Ucapnya dengan wajah polosnya.


Ya, aku memang suka brondong. Tapi tidak dengan murid terbaik di sekolahku.


"Tidurlah!" Kataku yang mungkin saja terdengar pasrah akan keadaan.


"Lalu pekerjaanku? aku ingin belajar bertanggungjawab atas pekerjaanku Bu, aku membutuhkan uang ini untuk menyambung hidupku dan ibuku. Jadi aku minta kerja samanya Bu. Bukankah dalam kontrak di sebutkan harus menjaga rahasia identitas si pemesan atau aku bisa terkena tuntutan?"


Ah, iya dia benar. Tapi tetap saja aku ketar-ketir akan hal ini, siapa yang tau jika suatu saat nanti dia yang membuka rahasiaku?


"Vito, bisakah aku mempercayaimu?" Tanyaku yang kemudian berbaring dan menatap wajahnya lekat. Kami saling berhadapan dan nafas kami pun saling beradu.


Dia mengangguk sambil tersenyum, dan sekarang dia tak menyentuhku sama sekali. "Baik kalau begitu, pindahlah ke kamar sebelah, aku ingin sendiri." Kataku.


"Lalu pekerjaanku?" Tanyanya dengan tatapan memohon.


"Dengarkan aku, ada sisi lain dalam diriku yang merindukan kehangatan dari pasangan. Sedari remaja, aku sama sekali tidak pernah pacaran. Dan caraku untuk berpura-pura mendapatkan kasih sayang dan kehangatan ya dengan seperti ini, menyewa pria untuk sebatas memanjakan ku tidak lebih. Tidak ada hubungan intim ataupun perasaan di dalamnya." Kataku yang menatapnya lekat.


"Lalu, apa aku harus berpura-pura menjadi pacarmu sekarang? aku bisa melakukannya, aku akan berusaha sebaik mungkin." Katanya lagi yang keras kepala dan ingin tetap menjalankan tugasnya.


"Vito, kamu ini muridku." Kataku yang terhenti sebab dia sudah menyambarnya.


"Iya murid saat di sekolah. Tapi di ranjang ini?"


Pertanyaannya lagi lagi menamparku. Sebuah hantaman keras pada ulu hati dan tembus sampai ke ujung kaki. Sumpah aku sampai merinding di buatnya.


"Katakan, apa sedari awal kau mengenaliku?" Tanyaku penasaran.


Dia menggeleng. "Sebenarnya tidak sama sekali sampai Kau menyebutkan sesuatu tentang jariku, tentang sikap baikku dan tentang aku sebagai suami di masa depanmu jika usia kita sama." Jawabnya.


BLUSH.....!!! Pipiku memerah sekarang.


Rupanya aku yang menggali kuburan ku sendiri. Aku malu sampai ke tulang. Aku lalu membenamkan kepalaku kedalam selimut dan memunggunginya. Aku berharap semua ini hanya mimpi dan tak akan menjadi nyata saat aku membuka selimut ini.


"Tidak apa-apa, karena hal itu, aku jadi tahu jika guruku tersayang ternyata menyukaiku." Ucapnya dengan tangannya yang mengusap pundakku.


Apa tadi katanya, tersayang?


Oh, My Lord.....!! Apa lagi ini?

__ADS_1


"Aku harap dengan kejadian ini, tidak akan mengubah keputusanmu untuk menjadi kakak angkatku dan mebiayai pendidikanku." Ucapnya.


Mendengar itu, aku lalu membuka selimutku dan kembali menatapnya.


"Kita buat surat perjanjian, jika kau mampu bersikap profesional dan menjaga hal ini, maka aku akan memenuhi janjiku. Tapi jika tidak, kau harus bertanggungjawab atas kehancuran yang akan kita alami bersama."


"Kehancuran?" Dia mengerutkan keningnya.


"Iya, jika sekali saja kau membuka mulut tentang hal ini, maka dapat ku pastikan namamu akan tercoreng dari perusahaan manapun kamu ingin bekerja dan iya, satu lagi, kamu tidak akan ku luluskan." Ucapku menghardiknya.


Apalagi yang bisa kulakukan sekarang? posisiku seperti telur di ujung tanduk, jika hal ini terkuak di media, maka akan hancur reputasi ku.


Dia mengangguk lalu tersenyum lembut kepadaku. "Iya, Yeri.... iya. Aku akan menjadi pacar yang penurut disini dan akan menjadi murid yang baik di sekolah, kamu jangan khawatir."


"Aku serius!" Aku membentaknya, ekspresi wajahnya sungguh tenang dan datar sampai aku sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada di dalam kepalanya. Apakah kesungguhan? ataukah taktik licik?


"Aku juga serius, kita saling membutuhkan disini. Juga sekalian kan, ini waktu yang baik untuk mengenal suatu hubungan." Ucapnya yang menatapku teduh.


"Dah, selamat malam. Tidur yang nyenyak!" Ucapnya yang kemudian bangkit dan meninggalkanku sendiri dalam sejuta tanya.


...~~~...


...Pagi harinya....


Aku sengaja bangun siang, agar tak menampakkan wujud ku yang berantakan di hadapan Vito. Aku masih sangat malu. Tapi....


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!" Seruku menyahut. Ah ini lebih baik setelah aku memakai baju yang lebih sopan.


"Good morning!" Serunya sambil tersenyum dan membawa nampan berisi sarapan.


"Morning...!" Sahutku Masih dengan malu-malu.


Astaga! bisa seperti ini malunya aku berhadapan dengan anak bau kencur.


"Bagaimana tidurnya, Nyenyak?"


"Tidak bisa tidur." Jawabku sesungguhnya, memang benar semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan semua ini.


Dia mendekat lalu tersenyum kepadaku. Tatapannya menularkan hawa tenang. "Jangan cemas dan berpikiran berlebihan. Aku hanya bekerja, dan tidak akan membuat reputasimu hancur. Kamu sangat baik padaku, bahkan sampai mau membiayai pendidikanku jauh sebelum hal ini terjadi kan? jadi atas dasar apa aku berbuat jahat kepadamu?"


Gaya bicaranya sungguh santai dah bahkan menghapuskan perbedaan usia yang terpaut jauh diantara kami.


Aku menundukkan kepalaku, sungguh perasaan malu dan cemas itu membaur menjadi satu. membuatku tenggelam dalam perspektif negatif.


"Makanlah, atau mau ku suapi?" Celetuknya asal.


Seketika aku mendongakkan wajahku dan menatapnya.


"Tidak usah, aku punya tangan." Kataku.

__ADS_1


Aku lalu berdiri dan mengirimkan pesan pada Joana untuk menyelesaikan masalah ini.


Aku sudah tidak bisa berlama-lama berada dalam situasi seperti ini dimana murid ku sendiri adalah pria sewaanku. Ah ... hancur sudah duniaku.


"Apa kamu malu? ya sudah, aku akan keluar jika kamu merasa malu." Ucapnya yang seolah mengerti akan apa yang aku rasakan.


Selesai dengan sarapanku yang sederhana, aku langsung memakai bajuku dan kembali dalam wujud Yania. Percuma juga berpura-pura di hadapannya sedangkan dia sudah tahu semuanya. Aku memutuskan untuk kembali ke rumahku.


Saat aku keluar dari kamarku dengan membawa koper, Dia yang sedang duduk dan membaca bukunya sangat terkejut dan langsung menghampiriku.


"Mau kemana?" Tanyanya.


"Pulang." Jawabku datar tanpa berani menatap wajahnya.


"Kenapa? apa ada urusan mendadak atau apa?"


"Tidak, tapi kurasa ini tidak baik. Aku sudah bersuami sekarang, tidak sepatutnya kan aku seperti ini? sepertinya aku harus berjuang keras untuk menghilangkan kebiasaan burukku ini." Jawabku dengan mengutarakan yang sebenarnya yang semalaman berhasil membuatku tak bisa tidur.


"Lalu aku?"


"Terserah, kamu mau disini selama satu bulan sesuai perjanjian kita juga boleh, mau pulang juga boleh, nanti ada sekretaris ku yang akan mengurusmu. Aku pergi." Kataku yang mengacuhkannya dan pergi begitu saja.


...🐦🐦🐦...


Setelah itu, setiap kali kami mengadakan kelas online melalui zoom kamera. Vito, dia selalu memberikan senyuman yang berbeda dan... aku selalu menghindarinya.


Sebagai gurunya, tentu saja dia memiliki nomorku dan aku tak bisa memblokirnya. Secara otomatis dia selalu bisa melihat status ku atau bahkan terkadang dia masih mengirimkan pesan.


Patut ku acungi jempol, dia sangatlah profesional, selain senyuman yang penuh makna, dia sama sekali tak menggangguku. Pesan yang dia kirimkan pun hanya sebatas pesan normal yang membahas tentang tugas harian.


Hari ini tepat satu bulan dari kejadian itu. Suamiku pun sudah seharusnya pulang, tapi sepertinya dia masih akan sedikit lebih lama karena kurang mungkin jika hanya satu bulan saja berselingkuh?


Suara bel pintu berbunyi dengan tidak sabaran. Aku yang masih berada depan laptopku lalu membukanya.


"Altez! Altez!!" Teriak Nella yang tak punya sopan masuk begitu saja kedalam rumahku tanpa membuka heelsnya.


"Eh, yang sopan ya masuk ke rumah orang! Lepas alas kakimu!!" Aku memekik padanya.


"Dimana kau sembunyikan pacarku?" Ucapnya dengan nada menyebalkan.


"Pacarmu? dia suamiku!!" Bentakku tak kalah lantang.


"Lepas alas kakimu atau ku pukul?" Aku sangat emosi, aku yang baru selesai membereskan rumah sudah harus di hadapkan dengan si pembuat onar ini.


Dia melepas heelsnya setelah aku mengancam dengan mengayunkan sapu di hadapannya.


"Pergi dari sini! cari pacarmu itu di sini!" Kataku yang menuliskan sebuah alamat di secaraik kertas.


"Kau sengaja mau membodohiku? dia sudah menjual apartemen miliknya yang disini." Ucap Nella meremehkan ku.


Aku lalu tertawa remeh melihatnya. "Yakin, sudah di jual? tidak di hadiahkan kepada wanitanya yang lain? dan kamu di kasih apa? Kalau aku sih, sudah jelas mendapatkan separuh dari kekayaannya. Tapi kamu, dipakai saja terus tapi tak dapat apa-apa, Oh kasihan..." Ucapku menghinanya.


Dia sangat marah dan itu terlihat jelas dari sorot matanya. Huhuhu.... Altez, siap siap saja ya. Akan ada perang dunia menghampirimu.


Nella pergi begitu saja dengan wajah kesalnya. Sedangkan aku tertawa lantang di rumahku sendirian. Seperti orang gila saja aku ini.... Hahahahha.

__ADS_1


"Suamiku sayang, terima hadiahmu ya! Hahahaha!"


__ADS_2