PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
23


__ADS_3


...~~~~...


"Kruk...! Kruk....!" Suara indah nan merdu terdengar dari lambung Yania.


Yania, sebenarnya dia sudah terbangun dari 20 menit yang lalu dimana saat Altez memanggil namanya untuk makan malam.


Namun, Dia lebih senang berada di dalam kamarnya dan membaca bukunya hingga rasa lapar membuatnya terpaksa menggerakkan tubuh untuk mencari tambahan asupan nutrisi.


"Yeri! makan dulu!" Lagi suara itu membuat Yeri / Yania mendengus kesal.


"Hhhhhh...! sok sokan perhatian nyuruh makan segla. padahal aku gendut dikit dikatain kebo ama Dia. Cih....!" Umpat Yania dengan perasaan yang dongkol.


"Hoamz....!" Yania menguap lalu melihat penanda waktu di ponselnya. "Astaga! Udah malem beneran? Wah.... piu-piu belum Aku kasih makan." Yania seger meloncat dari ranjangnya dan menuju ke kolam belakang kamarnya.


Bersamaan dengan itu, Dia di dikagetkan dengan suara jatuh dari belakang kamarnya tepat di bawah pohon.


GEDEBUGH!!


"Aduh...!" Altez mengaduh kesakitan dan mengusap pantatnya.


"Pecicilan!" Ketus Yania yang berbicara secara spontan sambil memegangi dadanya. "Ngapain loncat loncat pager segala?" Tanyanya mengintrogasi sang suami yang pecicilan.


"Tolongin dulu kek, apa gitu... ini malah langsung kena one push magic." Protes Altez yang berusaha bangkit tapi dia mulai menyadari sesuatu.


"Yer! Yeri! Sayang ku~~~!" Panggilnya yang berharap yeri akan segera menoleh dan memberikan perhatian kepadanya.


"Sayang, sayang...Ada apa?" Tanya Yeri dengan santainya dan masih asik memperhatikan piu piu (Ikan mas koi di kolmnya).


"Bantuin berdiri geh, sumpah kakiku sakit." Altez berkata jujur dan Yeri mulai memberikan atensinya.


"Makanya udah gede ga usah pecicilan. Ngapain lompat pager segala? huh!" Ketus Yeri yang berbicara sambil mengulurkan tangannya dengan badannya yang sedikit membungkuk.


Pada posisi itu, Yeri menampilkan dua gundukan kembar berpenyangga yang terlihat sintal dan menggoda pada dua netra yang tadi baru saja meminta bantuannya.


*Aku tidak salah lihat kan? itu merupakan karunia terindah dari Tuhan. Oh...! ****...! Jangan bangun sekarang. No... No... Author...! tolong ini proses menolongnya di tambah durasi..!


🙅* : No Altez! enak aja. Belum waktunya kamu menyentuh zona berbahaya itu.


"Ayo bangun!" Yeri memapah Altez lalu mendudukkannya di bangku yang berada di bawah pohon.


Area kamar Yania memang memiliki spot yang indah terlebih malam hari saat lampu taman dinyalakan. hal tersebut terlihat kian menawan saat dipadu padankan dengan bunga bunga yang bermekaran.


"sakit beneran?" tanya Yania yang sudah duduk dan berjongkok di hadapan Altez untuk memeriksa kakinya.


Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Altez. Dengan segera Dia lalu melongok kembali dan memanjakan mataya. Hingga Yeri yang tiba-tiba berdiri untuk mengambil salep pereda nyeri yang malah mengakibatkan kepala merea saling berbenturan.


"Ya ampun...! kaki belum sembuh kepalaku udah dibuat benjol sama istri sendiri!" Altez mengeluh dengan setengah berseru sambil memegangi keningnya yang berdenyut.


Yeri seketika meminta maaf. Dia benar benar tida sengaja melakukannya. "Maaf maaf...! sumpah ga sengaja. Sebentar ku ambilkan salep.!" ujarnya yang kemudian secepat kilat pergi meninggalkan Altez yang berada di taman.


Altez terdiam menatap punggung mungil sang istri yang menghilang ditelan dinding pemisah. "Tidak buruk juga rupanya. Dan bagus malah, terlihat sama sekali belum terjajah." Altez menggumam sambil memegangi dagunya. Biasalah, insting buayanya mulai kembali.

__ADS_1


Yeri kembali dengan membawa salep untuk meringankan rasa nyeri pada engkel kaki suaminya. dia mengoleskannya dan lagi lagi Altez kembali memanfaatkan waktu untuk menikmati hak miliknya yang masih utuh tersegel.


"Kamu ngeliatin apa?" Celetuk Yeri dengan santainya tanpa berhenti mengusapkan dan memijit kaki Altez. "Lihat boleh, pegang jangan." Imbuh Yeri yang kemudian berdiri dan menatap Altez dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Apa? A...apa memangnya? Memangnya aku lihat apa?" Altez tergugup dan malu lantaran tertangkap basah oleh Yeri. Dia bahkan sampai kesusahan berbicara dan berusaha menelan ludahnya meski perlahan untuk melicinkan tiap kata yang akan terlontar.


"Halah. ngaku aja sih! kamu tadi lihat ini kan?" Yeri justru memperagakan dengan memegang kedua buah dadanya tepat di hadapan Altez dan membuat Altez seketika menelan ludahnya dengan tatapan mata tercengang.


A...apa dari tadi Dia memang sengaja melakukannya? Dia sengaja ingin membuatku malu?" Batin Altez campur aduk.


"Lihat dikit aja. lagian yang kulihat juga punya istri sendiri. Halal dong?"


Siapa yang sangka, jika Yeri selalu punya seribu cara untuk membuat Altez kesal bukan min. Yeri dengan sengaja membuka dasternya d hadapan sang suami dan mengekspose seluruh bagian tubuhnya yang hanya tertutupi oleh pakaian dalam.


Mata Altez menjadi terbelalak semakin lebar dan kian membulat sempurna mana kala dia menyaksikan betapa moleknya tubuh sang istri yang selma ini selalu di sembunyikan dalam daster usang.


Astaga...! ini gala premier atau apa? Yeri... mengapa Dia jadi nakal begini? batin Altez yang sekuat tenaga menahan agar ereksi yang sedang terjadi tidak terdeteksi oleh mata Yeri.


"Boleh, asal cuma lihat saja. Udah ah gerah aku mau mandi." Kata Yeri yang seketika berjalan memamerkan bagian belakang tubuhnya yang bergerak kiri kanan berpadu dengan hitam panjang rambutnya yang menjuntai hingga ke perpotongan pinggang.


"Yeri! Kamu sengaja ya!" Altez berseru mengerang frustasi saat Yeri meninggalkannya begitu saja tanpa banyak bicara.


Yeri merayakannya di dalam kamar mandi. Ditertawakan terbahak bahak dan samapi Altez bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


Altez yang kesal kemudian berjalan pincang meninggalkan kamar sang istri dan kembali ke kamar tamu yang biasa ia huni.


"Apa tadi? di pamerin doang ga boleh nyicip?" Altez mulai menjadi setengah gila dan berbicara dengan benda pusaka miliknya. "Kamu juga gampang banget pingin!" Omelnya pada si Anu yang sudah berdiri tegak bak karang yang tak kan goyah dihempas ombak lautan.


Sementara itu di kamar mandi.


"Eh, iya... tadi kenapa Dia sampai loncat pager segala? ada apa ya? sampai lupa."


Selesai engan ritual mandinya, yeri keluar dari kamarnya dan kembali mengenakan daster kesukaannya. rambutnya masih setengah basah dan tergelung asal menunjukkan leher jenjangnya yang putih mulus. Terkesan sedikit Masy tapi juga menggoda.


Dia terdiam beberapa saat mengamati meja makan yang sudah tertata rapai banyak makanan untuk makan malam yang masih utuh belum tersentuh. Itu artinya Altez juga belum makan sedari tadi dan menunggunya.


Berbelok arah dengan segera Yeri menuju ke kamar tamu. Dia menghampiri Altez. "Za, udah makan belum?"


"Apa?" Sahut Altez dengan nada bicara yang sedikit ngegas. Altez pun keluar dari kamarnya dengan penampilan layaknya orang yang baru selesai mandi dan bahkan aroma parfum dari body soap yang ia gunakan menguar dan perlahan membuai penciuman Yeri.


'Kamu yang masak?" Tanya Yeri segera. ia tak ingi tertangkap basah sedang menikmati aroma tubuh Altez.


"Enggak lah. Pacar aku yang masak tadi." Jawab Altez ngawur.


"O..." Yeri hanya ber O ria sambil menggembungkan kedua pipinya.


Altez malah menjadi kesal sendiri. Seharusnya dimana mana seorang istri akan langsung marah-marah jika menyangkut tentang orang ketiga atau penumpang gelap dalam bahteranya. tapi tidak dengan yeri yang teramat acuh.


"Yer!" Altez memanggilnya perlahan pasalnya semenjak nasi mulai disuapkan keduanya tidak saling berbincang.


"hem!" Jawab Yeri tanpa melihat Altez.


"Apa dari obat obatan yang kamu konsumsi itu tidak berpengaruh terhadap kesuburan rahimmu?"

__ADS_1


"Aman, semua sudah diberikan sesuai takaran." Jawabnya yang masih saja acuh, tapi tiba tiba dia tersadar dan seperti tersentil. "Hey... buaya, ada apa tanya tanya soal kesuburan?"


"Jangan jangan... kamu...?" Cetus yeri dengan memicingkan matanya dan kedua tangannya menyiang seolah melindungi tubuhnya dengan memasang peringatan. NO!!!!!


"Hahahahahaha!!! jelas banget ya? Iyalah kan kita udah nikah, visi dan misi udah jelas dong, pengembang biakan keturunan apalagi?" Cetus Altez yang tertawa terbahak bahak di hadapan Yeri karena melihat tingkah Yeri yang terlihat tak nyaman.


"Anak? Eh dengerin ya suamiku...Aku ini adalah ibu yang bertanggung jawab untuk anak anakku dimasa depannya. Aku ini ga akan membiarkan anak anakku mendapatkan pengasuhan dan contoh yang tidak baik. Jadi kalau Ayahnya saja kamu..., yang suka main perempuan, maka jawabannya adalah No!" YEri menjelaskan semuanya dan mulai beradu argumen dengan Altez.


"ya tapikan dosa kalau menolak suami." Altez memberikn dalil.


"Dosa itu biar menjadi urusan pribadiku yang jelas disini aku menekankan jaminan hidup anakku harus jelas dari segi apapun. Materil, moril, kasih sayang dan tanggung jawab kedua orang tua. kalau ayahnya saja tidak bisa bertanggung jawab pada janji pernikahan apalagi pada masa depan dan pengasuhan anak? mau di kasih edukasi apa anakku nanti sama kamu?" Kata Yeri dengan gaya bahasanya sama seperti sedang mengajar di kelas.


"mau di kasih tutorial cara memikat lain jenis begitu? atau... cara membohongi pasangan biar tidak ketahuan?" Imbuhnya lagi sambil tertawa sinis.


"Yer, aku serius soal ini. dan Aku tidak main main." Kata Altez dengan sorot mata tajamnya tanpa ada senyuman atau apapun.


DEGH!!! Yeri tercenung melihat reaksi Altez.


"Ada satu hal yang mengharuskan kita untuk segera memiliki momongan." Ucapnya tiba tiba.


"Za, ga usah bercanda deh ga lucu..." Yeri memberikan tanggapan acuh dan berdiri untuk membereskan piringnya. Dia berjalan menuju ke wastafel. "Apa cuma gara gara tadi kamu lihat tubuhku terus omonganmu jadi ngawur begini. Cmon..! pemandangan seperti itu udah biasa banget kan Za buat kamu?"


Altez membuntuti Yeri dan mendekapnya dari belakang. Yeri hanya sedikit terlonjak kaget dan tak memberontak dia bahkan hanya mendengus kesal dan menghela nafasnya dalam seolah melepaskan segala beban beratnya.


"Kamu seriuskan kemarin waktu bilang udah maafin aku?" tanya Altez.


"Iya, aku maafin. Tapi inget sampai aku mati pun, aku ga bakalan bisa lupa dan merelakan." jawab yeri dengan tangannya yang berusaha melepaskan regkuhan tangan kekar Altez.


"Aku ingin memperbaiki semuanya bersamamu Yeri. SEMUANYA."


"Okey, if you want to do that, just show me then." Kata Yeri.


"But, tell me the truth. (Katakan kebenaranya padaku)"


"Iya aku akan katakan, tapi suatu hari nanti dan tidak sekarang." kata Altez lirih dengan hidung dan mulutnya yang menempel di tengkuk sang istri.


"Ya sudah. Lepaskan." Titah Yeri yang mulai lelah menopang berat tubuh Altez yang seperempatnya bersandar padanya.


Altez menggeleng cepat.


"Lepas, atau ku injak kakimu!" Yeri mulai mengancam.


"Itu KDRT." Kata Altez.


"Tidak menurut padaku, separuh saham mu pindah atas namaku besok!"


"Astaga!!! dasar patriarki!!" Altez lalu melepaskan pelukannya dan kembali ke kamarnya.


Yeri melanjutkan membereskan meja makan, sedangkan Altez tersenyum senyum sendirian di kamarnya. "Hangat dan wangi, aku suka wanginya." Gumamnya yang kembali menghirup nafas dalam dalam seolah ada Yeri didekatnya.


Sementara itu, Yeri yang sedang mencuci piring juga masih menerka nerka. "Sebenarnya apa penyebab Dia tiba tiba ingin memperbaiki dan serius dengan pernikahan ini?"


...~°~ ...

__ADS_1


Mohon maaf kalau banyak typo dan juga beberapa kata yang hilang huruf a nya. sudah pasti dan tidak diragukan lagi adalah karen human error. Authornya Ngantuk😴😴.


Makasih yang udah mampir, pokoknya makasih semuanya. Love you all!!


__ADS_2