
...🐣🐣🐣...
Di kediaman Mama Alda.
"Aku membencimu Mas!!" Teriaknya sambil melemparkan sebuah gelas ke foto Pernikahannya dengan sang mendiang suaminya.
PRANK.....!!
Terdengar menggema dan memenuhi rumah tersebut suara menggema barang yang pecah, berpadu dengan teriakan seorang wanita yang mengerang frustrasi. Mama Alda sampai menjambak rambutnya. Dia tengah mabuk berat kali ini.
Inilah cara yang digunakannya selama bertahun-tahun lamanya untuk menghadapi tekanan batin yang mendera. Satu kenyataan bahwa suaminya kabur bersama sekretarisnya sendiri dan meninggalkannya yang tengah hamil besar, membuatnya terpuruk. Dan semua itu di akhiri dengan kabar kematian keduanya yang terlibat kecelakaan maut.
Tapi sayangnya, sang anak telah mewarisi gen D4 polymorphism dari sang Ayah. Dilansir dari ABC News, gen tersebut bernama D4 polymorphism, atau disingkat dengan DRD4. Gen ini pada dasarnya tidak secara langsung menjadikan seseorang yang memilikinya jadi tukang selingkuh, karena semua orang sesungguhnya memiliki gen ini.
Yang membedakan adalah ukuran dan varian gen tersebut. Seseorang yang memiliki gen DRD4 dengan varian tertentu dan ukuran yang lebih besar akan lebih berpotensi untuk selingkuh.
Perlu diketahui, hormon dopamine adalah hormon yang hanya akan terproduksi oleh otak ketika kamu sedang merasa senang atau semangat. Jadi, untuk menstimulasi otakmu supaya memproduksi hormon ini, kamu harus melakukan aktivitas yang menyenangkan.
Perlu diketahui, hormon dopamine adalah hormon yang hanya akan terproduksi oleh otak ketika kamu sedang merasa senang atau semangat. Jadi, untuk menstimulasi otakmu supaya memproduksi hormon ini, kamu harus melakukan aktivitas yang menyenangkan.
Untuk mereka yang memiliki varian tertentu tersebut dari gen ini akan membutuhkan lebih banyak stimulus dari orang lain.Lebih banyak stimulus berarti lebih banyak aktivitas. Yang memiliki gen DRD4 dengan varian tertentu tersebut akhirnya akan jadi lebih sering mencari-cari kesenangan.
Jadi, orang jaman dahulu tidak salah jika mengatakan, Sebelum menikah, lihat dulu bibit, bebet, dan bobotnya. Untuk apa? Ya untuk ini, agar anaknya tidak terjerat dengan para peselingkuh yang hanya akan menorehkan luka dan air mata.
Altez, masih terduduk dan menatap Yania dengan wujud Yeri yang sesungguhnya. Tanpa pewarna gelap di kulit, tanpa kacamata tebalnya dan juga tanpa rambut kritingnya. Semuanya sudah Yeri lepaskan, bukan karena apa-apa, tapi Dia merencanakan sesuatu yang besar yang mungkin akan membuat Altez menderita suatu saat nanti.
"Yeri....? Yeri yang... sewaktu SD..." Ucapnya terbata Kala mengingat satu nama yang dahulu pernah menjadi bahan olokannya.
"Benarkah itu Kamu Yeri yang gendut itu?" Ulangnya dam hanya mendapatkan tatapan datar nan dingin dari Yania.
Yania mengangguk dengan angkuhnya. "Iya itu aku. Sudah ingat sekarang?" Tandasnya dengan rasa kesal yang mendera.
Tentu saja Dia kesal, setelah menghina habis-habisan dan menyebabkannya terpuruk bertahun-tahun lamanya karena Avoidant personality disorder yang di deritanya, dan Dia bisa lupa begitu saja? Cih! memuakkan!
Altez seketika bersimpuh di lantai dan menggenggam kedua tangan Yania. Dia menunduk dan tatapannya teduh tak berani menatap sang istri.
"Yeri, bertahun-tahun aku mencarimu. Aku sungguh ingin meminta maaf tentang kejadian itu. Aku sama sekali tidak bermaksud sampai membuatmu pergi dari sekolah. Aku hanya bercanda waktu itu..." Kata Altez yang berbicara dengan lembutnya, menyiratkan keseriusan dan ketulusan yang mendalam.
Benarkah dia menyesal? atau.... ini hanya akal akalanya saja agar aku tunduk? Cih! tidak semudah itu Eza.
"Setelah hari itu, Mama menghajar ku habis-habisan dia sangat marah denganku. Tapi Papa membelaku dan Papa pergi setelah pertengkaran itu. Dua hari setelahnya aku mendengar kabar Papaku meninggal dunia. Kala itu Mamaku tengah mengandung adikku, Dan Mama juga hampir gila karena kematian Papa. Semua, semuanya karena aku." Altez menunduk menitikkan air matanya.
Air mata buaya! kalau niat mencari kenapa tidak dari dulu? Kalau niat ingin meminta maaf kenapa harus menunggu selama ini?
Batin Yania berdemo.
"Kamu punya adik?" Yania justru tertarik dengan alur yang lain. Alih-alih tertarik akan cerita melow dari Suaminya.
"Ada, namanya Albian Basman sudah 7 tahun dia tidak pernah kembali ke kota ini. Dia menetap di suatu tempat di negri ini." Altez mendongakkan kepalanya.
Matanya sudah basah dan menggenang indah "Yeri, maafkanlah aku. Aku kala itu sungguh hanya bercanda." Ucapnya lagi.
Yania menepis kasar tangan Altez lalu menatapnya dengan tatapan membunuh. "Apa semuanya baik-baik saja jika disertakan dengan kata BERCANDA? Kalaupun iya, Jujur ku katakan, candaanmu tidak lucu sama sekali." Ujar Yania yang kemudian memilih masuk kedalam kamarnya.
Sementara Altez hanya bisa terdiam mematung menatap punggung sang istri yang kian menjauh dan tertelan jarak pandang.
__ADS_1
Sebenarnya, setelah kejadian itu. Altez juga langsung mendapatkan balasannya. Yang ia tahu, semua terjadi karenanya, karena kesalahannya. Padahal, Ayahnya pergi dari rumah bukan karena hal sepele itu, melainkan karena memang ayahnya doyan berselingkuh dan Altez merekamnya sebagai buah dari kesalahannya.
"Yaya! maafkan aku... Ya..., Yaya!" Lirih Altez memanggil sambil menggedor pintu kamar sang istri.
Terdengar sahutan dari dalam, "Pergi! aku ingin istirahat! jangan berisik!!" Ketus Yania mengusir Altez dari depan pintu kamarnya.
Seketika tak terdengar lagi suara ketukan pintu yang bertalu.
Ya, ini salahku. Aku yang harus bertanggungjawab atas semuanya. Kepergian Papa, kemarahan Mama, dan sekarang, amukan wanita yang dulu ku hina yang sekarang menjadi istriku.
Pagi hari di kediaman sepasang suami istri yang sering beradu mulut.
Sarapan pagi sudah tertata rapi di meja, sajiannya sungguh menggugah selera. Yania yang baru terbangun hampir saja bertepuk tangan kala melihatnya. Juga rumah yang terlihat teramat rapi tidak seperti biasanya.
"Selamat Pagi!" Sapa Altez pada sang istri yang masih berwajah kusut.
Tadi saat subuh memang Yania sudah terbangun, tapi selesai dengan ibadahnya dia kembali tidur dan baru terbangun jam 7 pagi.
"Hoamzz!" Yania menguap dan menggaruk tengkuknya. Sungguh wajah kusut yang menjijikan. "Siapa yang masak, Kamu?" Tanya Yania sambil menguap, sungguh pemandangan yang iyuh....
"Iya sih, semoga bisa di makan." Kata Altez yang merasa ragu akan hasil masakannya sendiri.
Yania terlihat datar dan biasa saja seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya membuat Altez kebingungan melihatnya.
"Enak kok, lumayan." Ucap Yania dengan menyuapkan satu suap nasi kedalam mulutnya.
Hanya nasi putih dan telur mata sapi, dan Yania menikmatinya tanpa protes. Bahkan telur goreng itu hanya di ceplok setengah matang dan di taburi dengan garam halus.
Altez, mengikuti Yania dan mulai menyuapkan satu sendok nasi kedalam mulutnya. Hambar, bahkan asinnya pun tidak begitu terasa. Tapi dia memakannya dengan lahap. Aku tidak bisa membayangkan jika ini kuberikan pada wanitaku yang lain, mereka pasti akan memuntahkannya langsung. Tapi istriku..., Dia sangat sederhana dan legowo meski Ayahnya kaya raya.
"Em... soal semalam...." Belum selesai Altez berbicara, Yania sudah mengangkat tangannya meminta Altez untuk berhenti bicara.
Apa seenak itu, makanku sampai sampai dia tidak mau di ganggu dulu? Altez hanya mampu menurut dan patuh akan perintah Yania.
Yania selesai dengan makannya dan memilih untuk duduk di taman belakang kamarnya tanpa mengunci pintu kamar, yang itu artinya Altez bisa masuk dan menyusulnya seolah dia mempersilahkan.
Yania menyeduh sendiri susunya dan kali ini bukan kopi pahit. Entahlah tapi memang tak setiap hari Yania mengonsumsi kopi di pagi hari.
"Boleh aku duduk?" Tanya Altez yang terlihat begitu menjaga sikapnya di hadapan sang istri seolah takut melakukan kesalahan.
Yania mengangguk dan mulai membuka laptopnya, dia hanya mengikat asal rambutnya dan tak memakai kacamata minusnya. Sebenarnya matanya baik baik saja, kacamata tebal itu hanyalah variasi saja.
"Ya, aku sungguh minta maaf padamu." Ujar Altez sungguh-sungguh.
"Mas, Eza. Aku sudah memaafkan mu atas kejadian itu." Tapi jangan harap aku akan lupa!
"Benarkah?" Tanya Altez dengan mata yang berbinar.
"Iya." Jawab Yania singkat dan acuh.
Dia ini memaafkan atau apa? wajahnya tidak terlihat rela.
Kelas online dimulai, beberapa murid di buat bingung, hanya satu orang saja yang justru tengah menatap kagum sosok guru di hadapannya.
"I...ini siapa ya? kemana Bu Yania?" Tanya salah satu siswi.
__ADS_1
"Ini Ibu Yania gaish... apa kalian lupa?" Ucap Tania yang tersenyum melihat kepanikan dan kebingungan di wajah murid-muridnya.
"Ibu suntik putih dimana? Boleh dong Bu kasih tau.. spill dikitlah harga sama tempatnya." Kata muridnya lagi.
"Oh, agak lumayan jauh dan mahal sih." Kata Yania membohongi murid-muridnya.
"Dimana Bu, dimana?" Mereka riuh dan penasaran.
Yania tertawa geli. "Di Thailand, lumayan murah."
"Wah, Thailand?" Mereka semua mengagumi penampilan baru gurunya.
"Tapi terlihat cantik alami ya?"Celetuk Vito yang terdengar begitu jelas dan membuat Altez menajamkan pendengarannya dan Dia bahkan sampai menyipitkan matanya.
Sementara Yania, dia menengguk ludahnya perlahan dengan susah payah. Di hadapannya sekarang ada suaminya dan ada murid juga sekaligus pria yang pernah di pesannya. Seketika tubuhnya menjadi panas dingin.
"Apasih, udah dong! Sudah sudah sekarang kita mulai ya. Bacakan puisi yang kalian buat kemarin." Ucap Yania mengawali. "Siapa yang mau duluan?" Tanyanya pada para murid.
"Saya Bu!" Vito, lagi lagi dia dan entah apa isi puisinya kali ini.
...Ratu di hatiku...
Bersemayam dalam kalbu sejak hari itu.
Hari dimana kau dan aku memadu rasa yang bertalu.
Wahai engkau wanita cantik bersurai panjang,
Wahai engkau wanita baik bermanik kehitaman,
Tak taukah Kau, jika di singgasana ini aku menanti?
Menanti dirimu sebagai pengisi,
Sebagai Ratu dalam sanubari.
Kurindu lembut suaramu
Kurindu hangat kecupmu
Kurindu manis senyum bibirmu
Andai saja aku memiliki keberanian yang tak berkesudahan,
Andai saja aku memiliki bekal cukup hingga nanti kita sampai di peraduan,
Sudah ku pastikan kau akan ku jadikan milikku hingga akhir nafas dalam badan.
Hai wanita cantikku, tetaplah jadi Ratu di hatiku.
Yania di buat takjub oleh Vito. Dia tersenyum di akhir Vito membacakan puisinya dan senyum itu berbalas sama.
Sebenarnya apa maunya anak itu? kenapa membuat seperti ini?
Secara tidak langsung, Yania tersipu dan kedua pipinya memerah. Memang itu adalah puisi yang Vito sengaja buat dan tujukan untuk sang guru pemilik hatinya sejak hari pertemuan mereka di apartemen.
__ADS_1
"Senang di bacakan puisi?" Tanya Altez dengan wajah masamnya.
"Apasih?" Yania mendengus dan menyembunyikan senyuman di balik laptopnya. Dia tengah tersipu-sipu saat ini.