PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
91. Wanita untuk Albi


__ADS_3

"Mau ya Nak?" tanya Mama Ana degan binaran bahagia. Ia menggenggam tangan Wiwin dan kemudian mengusapnya perlahan.


Hati Wiwin menghangat saat usapan-usapan itu mendarat. Ia seakan kelu untuk menolak atau sekedar berkata tidak. Wiwin hanya bisa mengangguk dan kemudian mengikuti ke mna Mama Ana menuntunnya.


"Gila ya kamu," desis Wiwin saat Bisma memakaikan cincinnya. Namun hal itu hanya disambut dengan senyuman manis Bisma.


"Aku gila begini karena kamu Win,' jawab Bisma dengan entengnya.


kalau saja tidak sedang banyak orang, mungkin saat ini Winda sudah menjambak rambut Bisma sekuat tenaga. Winda hanya sanggup memendam amarahnya dan kemudian pura-pura tersenyum dan memamerkan cincinya di hadapan para tamu undangan. Ia terlihat amat sangat bahagia.


"Maaf ya jeng, Bisma malah numpang melmar diacara 7 bulanan nak Yeri," kata Mama Ana pada Buna Yusmi.


Ayah Ardi dan Buna Yusmi hanya menyambutnya dengan senyuman. Mereka ikut senang dengan acara lamaran yang digelar dadakan. Yeri segera menghampiri Wiwin dan memeluknya erat.


"Selamat Ya Win, akhirnya ada pangeran juga buat kamu. Bisma, jaga sahabat baik aku ya?" kata Yeri dengan sorot mat penuh kebahagiaan.


"Pasti Yer, pasti aku an menjaga dan mencintai dia seumur hidupku," jawab Bisma tanpa ragu. Ia terlihat amat sangat bahagia saat ini.


"lu serius sama dia?" tanya Altez yang ikut mendekat dan kemudian merangkul pinggang sang istri dengan posesif.


"Kenapa, merasa tersaingi kehidupan bahagia lu?" tanya Bisma dengan ketusnya.


"za, udah deh jangan mulai berdebat. Ini masih dalam acara kita," Yeri menengahi keduanya.


"kalian apa-apaan sih? Mau berantem lagi? Mau bertengkar lagi?" tanya Wiwin dengan wajah kesalnya. "Aku lepas lagi nih cincin!" ujarnya mengancam.


Tentu saja Bisma ketakutan jika hal itu benar dilakukan oleh Winda. Ia dengan segera melarangnya, mencegah pergerakan jari gembul Winda untuk melepas cincin tersebut. Bisma tidak mau rencananya akan gagal kali ini.


"Tidak sayang, No! jangan lakukan itu oke?" bujuk Bisma yang kemudian menggenggam kedua tangan Winda.


"Cie, yang takut sama pawangnya," ucap Yeri menggoda Bisma yang membuat Bisma menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Bisma malu dan juga gugup. Bisa-bisanya ia jatuh hati pada wanita yang bisa dikatakan jauh dari tipe idealnya. Tipe idealnya adalah langsing tinggi seperti Yeri, namun hatinya justru terpaut pada wanita pendek dan bertubuh gembul menggemaskan.


"Za, karena aku dan Wiwin bersahabat, maka kalian juga setidaknya akan berteman," ucap Yeri. "Jadi aku mau kalian berbaikan mulai malam ini."

__ADS_1


'Baikan dengan dia si pria sok tampan yang mau merebut istriku? cuih! jangan harap,' batin Altez.


'Baikan, dengan dia? Astaga, apa tidak adda mahluk lain di muka Bumi ini? Lelaki pemain hati wanita ini? Cuih! tidak sudi,' batin Bisma yang kemudian membuang pandangannya.


"Ayo dong," bujuk Yeri yang kemudian mengangkat tangan Altez untuk berjabat tangan dengan Bisma.


Mereka terlihat seperti guru TK yang sedang mengakurkan kedua muridnya yang tengah berkelahi. Pun, dengan Winda yang dengan terpaksa ikut memegang tangan Bisma untuk berjabat tangan dengan Altez. Winda menatap tajam Bisma lalu berbisik padanya.


"Kalau mau menikah denganku, kamu haru berbaikan dengan dia. Atau," ancam Winda yang terhenti karena Bisma telah mengangguk.


"Oke, tidak usah mengancam. See!" dengan cepat Bisma menjabat tangan Altez tanpa melihat wajah lelaki yang ia jabat tangannya.


"Dilihat mukanya," kata Winda memerintah.


"Oke, sayang. Oke!" Bisma menurut meski dengan terpaksa.


Yeri terlihat begitu senang dan dia tak surut-surutnya memberikan senyuman terbaiknya. "Terus, kapan tanggal pernikahannya?"


Dengan secepat kilat Bisma menyahut. "Satu bulan lagi! Satu bulan lagi kita akan menikah."


Winda terkesiap sampai membulatkan matanya. Ia mengepalkan tangan kirinya dan satu tangan kanannya mencubit pinggang Bisma. Ia kesal sebab Bisma selalu mengambil keputusan sesuka hati tanpa mempertimbangkan pemikiran Winda.


"See, kalian lihat? Dia selalu menggemaskan begini saat meminta perhatianku. Ini yang membuatku tidak sabar untuk segera menghalalkannya."


"Cih!" Altez berdecih dengan tatapan meremahkan dan justru mendapatkan usapan lembut di lengannya.


"Sayang, hargai mereka. Jangan seperti itu," tegur Yeri dengan halusnya. seketika sikap Altez berubah menjadi lebih bersahabat.


***


"Wah, mudah sekali mereka menemukan pasangan. Sementara aku?" Albi bermonolog sambil menatap iri Altez dan sahabatnya.


Dalam acara 7 bulanan itu rupanya hadir juga tetangga dari sekitar lingkungan rumah keluarga Ardi. Albi adalah sosok pendiam yang tertutup ia tak suka memulai percakapan dengan orang asing. Namun, hal itu berubah kala ia bertemu dengan bocah kecil berkucir dua.


"Om, sendirian?" tanya boah kecil yang mungkin sekitaran berumur 9 tahun.

__ADS_1


"Iya," jawab Albi dengan singkatnya.


"Om, bisa tolong lepaskan antingku yang tersangkut ini?" Bocah kecil itu meminta pertolongan rupanya. sedari tadi rupanya ia juga duduk manis di sebelah Albi dengan kepala yang miring karena antingnya tersangkut bajunya yang berenda.


Albi tidak banyak bicara namun segera melepaskan Anting gadis kecil tersebut. ia menatap datar wajah gadis kecil itu lau melihat ke sekeliling. Albi mencari sosok orang tua dari gadis itu.


"Kamu sendirian?" tanya Albi.


"Tidak, sama Mama tadi."


"lau mana Mamamu?" tanya Albi lagi. tumben sekali dia memperhatikan orang baru.


"Mama ke kamar mandi," jawab gadis kecil itu sembari makan es krim. "Mama ke kamar mandi dari acara ini mulai Om, dan sampai sekarang belum keluar juga."


Albi sedikit heran. Mengapa ke kamar mandi tapi begitu lama? Apa ada yang tidak beres?


"Kamu tidak mencarinya?" taya Albi.


"Tidak, buat apa? Mama bilang dia memang akan sedikit lama, dia bilang perutnya sedang sakit Om," kata bocah berkucir dua itu.


'Kalau dari acara ini mulai brarti sudah satu jam,' batin Albi.


"Nah itu Mama!" seru bocah kecil itu menunjuk mamanya yang emudian melambaikan tangan padanya meminta sang anak untuk mendekat.


'Wanita itu terlihat pucat. Apa dia sedang sakit?' pikir Albi.


Albi dibimbing rasa penasarannya kemudian mengikuti gadis kecil dan ibunya itu pulang dengan berjalan kaki menuju ke rumahnya. Sampai di depan pintu rumah mereka, wanita itu terjatuh dan si gadis kecil panik berteriak meminta pertolongan. Albi dengan segera berlari menolongnya.


"Mama!" seru bocah kecil itu.


"Adda apa? Kenapa Mamamu ini?" tnya Albi yang dengan segera membopong tubuh wanita itu dan membawanya menuju ke rumah sakit.


"Tolong Mama Om," ucap lirih gadis berkucir dua itu.


"Iya, Om akan menolongnya. Kamu tenang saja ya, sekarang hubungi Papamu."

__ADS_1


"Om, Zee sudah tidak punya Papa,' jawab gadis itu yang seketika membuat Albi merasa bersalah karena banyak bicara.


"Maafkan Om,"


__ADS_2