
"Udah Za, kamu ini mau minta maaf atau masu apa sih?"
"Yeri, sayang. Aku tulus mau minta maaf padanya. Tapi lihat bagaimana dia bersikap kurang ajar padaku?"
Tidak bisa disalahkan, memang Bisma juga memiliki hak untuk membalaskan rasa sakit hatinya. Namun, semua itu tidak serta Merta dan melulu dilakukan perihal merebut pasangan lawan. Seharusnya ada cara lain yang lebih epic 'kan?
Yeri hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan dan menatap kecewa Altez. "Terserah!" serunya sebelum pergi meninggalkan Altez yang berdiri dan menatapnya sendu.
"Bis, hal itu sudah lama berlalu dan aku sungguh-sungguh ingin meminta maaf padamu," kata Altez yang berbicara tanpa menatap lawan bicaranya. Ia menunduk seolah mengakui segala kesalahannya.
"Minta maaf pun sudah tidak ada gunanya. Aku juga sudah berusaha untuk bangkit dan mencintai orang lain, tapi kenapa lagi-lagi kamu merebut orang itu dariku? Kenapa? apa semua benda milikku terlihat begitu menggiurkan bagimu?" tandas Bisma dengan wajah penuh emosi.
Altez yang tidak mengerti hanya mengerutkan keningnya dan menodong Bisma dengan matanya seolah ia bertanya. Apa maksudmu? "Aku sama sekali tidak pernah mengusik milikmu lagi Bis," kata Altez.
"Aku, aku yang sekarang ingin mengusik milikmu. Kenapa kamu selalu saja merebut sesuatu yang seharusnya menjadi milikku? Dulu pacar, dan sekarang kamu juga merebut wanita yang lama ku sukai, kamu tiba-tiba menikah dengan Yeri padahal aku sedang berusaha untuk memantapkan hati padanya!" Bisma berteriak mengutarakan ganjalan di hatinya selama ini.
Altez terdiam, ia mencerna segala ucapan Bisma tentang bagaimana rivalnya ini ternyata memiliki rasa yang teramat dalam terhadap wanita yang kini menjadi istrinya. Altez menyadari sesuatu, bahwa sesungguhnya apa yang baginya biasa saja, ternyata teramat berharga di mata orang lain. Dan, karena hal itu pula amarahnya kian melonjak tinggi.
"Mana aku tahu! Tapi, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun mengusik rumah tanggaku!" Bentaknya membalas dengan kedua tangannya yang sudah mencengkeram kerah baju Bisma.
"Oh ya? Wah, aku terkesima melihat perubahanmu ini. Seorang Playboy, mencoba mempertahankan rumah tangganya? Yakin, kamu bisa? Bukannya kamu tidak bisa hanya hidup dengan satu wanita?" ejek Bisma dengan memainkan lidah di dalam mulutnya.
Perkelahian tidak terelakkan, keduanya saling baku hantam bertemankan langit senja yang kian menghitam. Keadaan pantai memang sedang sepi di jam begini. Yeri, yang sudah pergi karena kesal menghadapi keduanya memilih untuk duduk di lobi apartemen sembari menunggu sahabat kecilnya.
Wiwin, dia akan menginap beberapa hari di hotel yang berada tak jauh dari pantai yang sama dengan yang berada di bagian belakang Apartemen Yeri. Senyum sumringah itu itu terbit kala Yeri menangkap kedatangan Wiwin. Ia begitu senang, setelah beberapa waktu tidak pernah bertemu.
__ADS_1
"Wiwin!" seru Yeri yang memanggil sahabatnya dengan berjinjit-jinjit kegirangan dengan wajah berbinar dan tangan yang juga ikut menyambutnya dengan gerakan aneh.
"Yeri!" seru Wiwin juga yang melakukan hal yang sama dengan sahabatnya.
Mereka berpelukan dan saling tertawa senang bersama layaknya anak SD. Ya, mereka memang tengah mengulang kembali momen dalam sekolah dasar dulu. Keduanya memang menjalin hubungan dekat sedari SD.
"Eungh, aku kangen," kata Yeri yang berbicara dengan mencibirkan mulutnya.
"Aku juga," jawab Wiwin yang juga melakukan hal yang sama.
"Kamu sehat kan? Tidak muntah-muntah?" tanya Wiwin langsung pada topik baru.
Wiwin adalah orang pertama yang Yeri kabari perihal kehamilannya. Wiwin juga yang menasehati Yeri agar lebih bisa mengontrol emosinya. Hanya saja waktu itu Wiwin belum bisa menjenguknya karena kesibukannya menjelang perpisahan murid kelas 12.
"Tidak," jawab Yeri dengan kepalanya yang menggeleng cepat.
"Em, aku juga tidak menyangka sebentar lagi aku akan menjadi Ibu karena kebodohan satu malam itu."
"Yer, jangan sebut apapun hal-hal buruk di hadapan keponakanku ini. Dia masih bersih, tidak seharusnya kamu mengotorinya. Walaupun itu hanya berbentuk sedikit makian untuk Ayahnya. Mau bagaimanapun Ayahnya, dia tetap bertalian darah tanpa sanggup kamu ubah walaupun kamu membencinya," kata Wiwin.
Yeri menunduk lalu mengangguk dua kali. "Ya, Win. Aku tahu, aku juga mulai bimbang sekarang. Aku mulai merindukan dia, padahal aku membencinya. Aku ingin melihatnya tapi juga selalu mengusirnya," ucap Yeri mengakui sesuatu yang sering kali terjadi dalam relung hatinya, sesuatu yang berhasil membuatnya bingung dan kehilangan arah.
"Pak, saya melaporkan, dua orang ini membuat keributan di tepi pantai," kata seorang pengunjung pantai yang menyerahkan Altez dan Bisma yang sama sama babak belur.
Kilatan amarah itu masih ada, dan juga dengan wajah lebam yang menghiasi keduanya. Bisma babak belur dan bahkan sampai berjalan pincang, sedangkan Altez dari hidungnya sudah mengeluarkan darah yang bercucuran. Mereka di bawa ke ruang keamanan yang kebetulan jalan tercepat untuk menuju ke sana adalah melewati bagian lobi apartemen.
__ADS_1
"Itu bukannya suamimu?" tanya Wiwin pada Yeri dengan mata yang memicing menatap Altez dan Bisma.
"Altez," Yeri menyebut namanya lirih dengan wajah terperangah. "Di-dia benar-benar berkelahi?" ucapnya tergagap.
"Ayo Win, ikut aku. Temani aku mengurus masalah suamiku," ucap Yeri sembari menarik tangan Wiwin. "Senang sekali dia membuat masalah, apa tidak bisa bersikap dewasa dan tenang sebentar saja? Selain manja dan bertengkar, tidak ada lagi keahlian dari Daddy-mu itu." Yeri juga mengajak janinnya berbicara dan hal itu membuat Wiwin mengulum senyumnya.
Rupanya ia telah benar-benar menganggap Altez bagian dari hidupnya. Hanya saja, rasa gengsinya amat tinggi hingga malu untuk mengakui. Aku senang jika dendammu itu telah menghilang. Setidaknya benar kata Pak Reza jika dendam itu menghilang, maka kamu akan merasakan kenyamanan dalam hidup. Batin Wiwin.
Sidang terjadi di ruang keamanan. Keduanya terlihat sama sekali tidak ada yang mengalah meskipun sudah sama-sama babak belur. Altez dengan emosinya dan Bisma dengan dendamnya.
"Kalau kalian tetap tidak mau berdamai, terpaksa kami akan melaporkan hal ini ke kantor polisi." Salah seorang penjaga keamanan menegaskan maksudnya.
"Damai? tidak akan!" Seru keduanya kompak.
Si penjaga keamanan menggeleng. "Baik kalau begitu," ucapnya yang kemudian mulai menekan nomor di teleponnya.
"Pak, jangan! Mereka sahabat baik, hanya saja sedang ada sedikit maslah. Jadi jangan lapor polisi ya? Aku mohon!" Yeri mengatupkan kedua tangannya memohon.
"Anda siapanya?" tanya si penjaga keamanan.
"Saya istri dari lelaki yang hidungnya berdarah itu," jawab Yeri.
"Lalu Anda?" tanyanya juga pada Wiwin yang tengah mematung mengamati wajah lebam Bisma.
"Dia pacar saya," jawab Bisma cepat.
__ADS_1
"Kalian berpacaran?" tanya Yeri dengan wajah sangat kaget.