PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
12.


__ADS_3

...~~~...


Setelah kejadian malam itu, Yania sama sekali tak pernah melihat batang hidung suaminya. Bahkan nomor ponsel pun dia tak punya. Entahlah ini hubungan suami istri macam apa, yang jelas keduanya saling sikut dan hantam.


Yania memilih untuk mengabaikannya dan fokus pada pekerjaannya. Dia di wajibkan melakukan pantauan nilai sebelum ujian akhir para siswa dan siswi. Yania sedang pusing memikirkan tugas dari sekolah yang menumpuk.


Semenjak malam dimana dia ditampar oelha suaminya sendiri, Yania merasakan sesuatu yang getir dan membuatnya sedikit tak nyaman. Rasa terabaikan, rasa tersisih, rasa ingin dihargai, semua itu mulai tumbuh dalam dirinya.


Dia yang di awal berselogan ingin main-main saja. Nyatanya Tuhan telah bertindak dan mengubah hatinya. Semampu manusia berusaha, tetap Tuhanlah sebaik-baik perencana.


Malam hari, saat dia tengah beristirahat. Sebuah batu melayang masuk memecahkan kaca jendela rumahnya. Yania terhenyak dan bangun dari tidurnya. Dia begitu tak mengerti apa yang sedang terjadi. Ketakutan, kesendirian, rasa terancam, dan juga kilasan masa lalu saat banyak orang lain yang membulinya hadir begitu saja dan membuatnya hanya bisa menangis tergugu di atas ranjangnya tanpa berani memeriksa.


Dia yang bersusah payah membangun sisi percaya dirinya, kini nyatanya runtuh begitu saja saat suasana mencekam itu kembali hadir. Serupa tapi tak sama, istilah seperti itu yang pantas ditempatkan pada situasi ini. Jika dulu dia merasa terancam karena banyak yang menertawakan, kini dia merasa terancam karena sendirian dan tak ada yang bisa dia andalkan.


Entah kemana suaminya yang sudah hampir satu Minggu tidak pernah pulang. Sama sekali tak menganggap pernikahan itu ada. Altez justru semakin menggila dan bertindak semaunya.


Nyatanya aku belum sembuh seutuhnya. Aku masih lemah dan ketakutan. Yania menggumam dalam tangisnya. Dia sangat ketakutan.


Tak lama berselang, terdengar suara deru mesin mobil. Yania yakin itu adalah Altez dan kemudian di ikuti oleh suara kunci pintu yang terbuka. Yania masih tetap menunggu siapa yang datang dengan menahan isakan tangisnya.


"Yaya..., " Altez terdengar memanggilnya.


Yania kemudian menyahut dengan suara yang bergetar dan terisak.


"I... ya... aku di kamar." Sahutnya.


Derap langkah kaki kian mendekat menuju ke kamarnya. Yania seketika membukakan pintu lalu menghambur memeluk Altez.


Altez yang mendapatkan perlakuan seperti itu kemudian mendorong kasar Yania. Dia begitu jijik jika harus beradegan mesra tanpa terpaksa keadaan.


"Lepas! Manja sekali!" Ketus Altez berbicara dan memandang tak suka Yania.


Seketika Yania mundur dengan matanya yang basah dia lalu membuang muka.


Memang aku tak seharusnya bersikap lembut dan selayaknya seorang istri dengannya. Dia sangat tidak menyukaiku. Batin Yania menangis sedih.

__ADS_1


"Kenapa kaca depan bisa pecah?" Tanya Altez tanpa menghiraukan keadaan psikis Yania yang masih tertekan.


Yania hanya menggeleng tanpa melihat Altez. Dia kemudian kembali berbaring. Tanpa bicara apapun lagi, dan tanpa bertanya apapun lagi. Yania sudah lebih mirip zombie.


"Eh, dasar budeg! ditanya malah diam saja." Ketus Altez tak menghiraukan perasaan Yania yang tergores setiap ucapanya.


Yania lebih memilih tidur di Bagian ujung kasurnya. Dia bersiap-siap siapa tau Altez juga ingin memakai ranjangnya. Tapi nyatanya, lelaki itu hanya pulang untuk mengambil pakaian.


Pukul 01:00 dini hari, seorang suami pulang dan mengambil banyak pakaian? Untuk apa kalau bukan menyusul wanitanya yang lain.


"Aku pergi! jangan cari atau hubungi Aku." Ucapnya tak berperasaan sama sekali.


Yania kembali menangis tergugu. Nyatanya kini dia terbawa perasaan dari predikat seorang istri. Dimana seharusnya mereka saling menemani dan memahami, malah selalu berseteru.


Sebenarnya tanpa berpesan dengan suatu kalimat yang menyayat hati pun, Yania juga tak akan mencarinya sama sekali. Mau cari kemana? teman suaminya dia tidak tahu, pacar atupun selingkuhannya juga Yania tak tahu. Apalagi nomor ponselnya, sama sekali tak tau.


Aku yang salah, telah menjadikan pernikahan sebagai permainan dan berharap dengan uang bisa menyelesaikan segala urusan. Tapi kenyataannya, uang tak dapat menyembuhkan luka hatiku. Dimana kini aku menjadi seorang istri yang tidak dianggap. Batin Ayana menangis sedih.


...~~~...


Siapa sangka, di saat seperti itu dia bertemu dengan Altez dan juga pacarnya yang sedang duduk bersama dengan begitu mesra di dalam bioskop. Deretan bangku mereka berada pada garis depan belakang dimana Yania berada di belakang Altez, hingga dia bisa melihat dengan jelas bagaimana tingkah polah Altez di dalam bioskop.


Mata Yania begitu panas melihat setiap adegan demi adegan.


Benar, kami menikah tanpa cinta. Tapi.... melihatnya sama sekali tidak menghargai pernikahan ini mengapa hatiku sangat sakit? Bukankah tadinya aku yang menginginkan permainan ini? Tuhan, apakah ini teguran darimu karena kelancanganku telah mempermainkan hal sakral seperti ini?


"Ya, itu bukannya .... Em.... siapa ya, sepertinya aku pernah melihatnya?" Wiwin sedang mengingat kembali.


"Ah, ingat! Dia bukannya suamimu?" Celetuk Wiwin di saat suara dari pemutaran film sedang merendah dan suaranya terdengar jelas ditelinga siapapun juga.


Dan, seketika itu juga Altez menoleh lalu bersmirik melirik ke arah Yania. Seolah mengejeknya.


"Win, kita pulang Yuk!" Ajak Yania yang kemudian berdiri dan meninggalkan bangkunya tanpa menunggu Wiwin yang masih kebingungan.


Wiwin mengejar Yania dan mereka akhirnya saling bercerita di resto Mall. Yania menceritakan dari setiap kejadian perkejadian pada sahabatnya.

__ADS_1


"Em... begitu.. kamu yang menantangnya, tapi kamu juga yang terjebak permainan?"


Yania mengangguk lalu mengocok minumannya dan menyesapnya. Tatapannya begitu sendu membuat siapapun yang melihatnya merasa iba.


"Yaya, menghilangkan dan jadilah Yeri!" Ujar Wiwin menasehati Yania. "Percaya dirilah, kamu ini cantik, jangan tutupi lagi tubuhmu dengan warna gelap ini Yaya. Kamu itu hanya merasa minder yang berlebihan."


"Tapi kalau warna di kulitku ku hapus, aku takut mereka akan memandangku dengan pandangan mesum." Ucap Yania.


"Tidak akan, kamu kan sekarang sudah besar dan bisa membela diri? Gunakan itu, hajar siapa saja yang meremehkan mu." Kata si Wiwin memupuk rasa percaya diri sahabatnya.


Belum selesai dengan percakapannya dengan Wiwin, Rambut Yania sudah di Jambak Deri belakang dan dua tamparan mendarat di pipinya menyisakan luka di sudut bibirnya. Yania hanya terdiam menatap nanar dan memegangi pipinya.


"Eh! kurang ajar! kemana kamu sembunyikan Altez?" Nella melabrak Yania yang bahkan Yania tak begitu paham akan wajah Nella.


"Balas saja Yaya, kamu lebih berhak, terlepas nantinya kamu mau memakai atau membuang barang itu. Yang jelas barang itu sekarang adalah milikmu." Bisik Wiwin di telinga Yania.


"Apa? menyembunyikan? Tak perlu ku sembunyikan dia juga sudah tak mau lagi menemuimu!" Balas Yania yang merasa lebih kuat berkat dukungan dari Wiwin..


"Buih!" Nella meludahi wajah Yania. "Dia mana sudi bersamamu dasar jelek. Dia mau denganmu juga hanya karena harta." Ujar Nella sarkastik..


PLAK!


PLAK!


Dua tamparan mendarat di pipi Nella dan juga tangan Yania sudah menjambak rambut Nella lalu mendorong tubuh Nella hingga Nella berlutut di lantai dengan rambutnya yang masih berada dalam jambakan Yania.


"Aku, yang lebih sah! Aku istrinya! terserah kami mau seperti apa, orang luar tak punya hak di dalamnya. " Ucap Yania dengan begitu santainya.


"Ini aku pulangkan apa yang kau berikan." Ucap Yania yang kemudian balas meludahi wajah Nella tepat di mulutnya. "Itu pelajaran bagimu untuk tidak mengganggu suami orang."


Yania berbicara dengan lantang, sehingga semua orang bisa mendengarnya. Dia kemudian melepaskan Nella dan segera meraih tasnya dan hendak pergi.


Tapi Nella yang masih kesal kemudian menyusulnya. Nella berusaha untuk menyerang Yania. Tapi... Dalam sekejap Yania sudah membuat Nella terbaring tak berdaya di lantai sambil meringis kesakitan.


Hayoh Lo, untung ga di banting kayak Altez.

__ADS_1


__ADS_2