
...~•~ ...
...~•~ ...
Dalam sebuah ruangan yang gelap tanpa ijin untuk cahaya masuk sama sekali, Nella tenggelam dalam rasa kecewanya. Bagaimana Altez lelaki yang Dia anggap paling mencintainya selama bertahun tahun bersama, nyatanya memberikan suguhan pahitnya kenyataan.
PRANK!!
Pecah berhamburan sebuah botol minuman yang terantuk membentur pigura foto yang terpajang mewah di dinding kamarnya. Itu merupakan sebuah saksi dari perjalanan cinta mereka yang berakhir dengan penghianatan cinta dari Altez.
"Aku membencimu!! Kamu.... tak ku ijinkan bahagia dan menari diatas lukaku. Jika aku sakit, kamu juga harus sakit." Nella menatap penuh kebencian foto Altez yang tersenyum kepadanya.
"I Hate you!!" Nella berteriak memaki gambar yang tak memberikan respon apapun itu.
Sang manager masuk setelah mendengar teriakan frustasi dari aktrisnya. Nella, saat ini benar benar terpuruk. Selama ini semua keberhasilan kontrak yang diperolehnya bergantung pada kekuasaan Altez si pemilik perusahaan periklanan yang lumayan tersohor di dalam Negri.
"Nella, sudah ada 7 produk yang membatalkan kerja sama dengan kita. Setelah gossip itu beredar, mereka memilih untuk tidak terkait lagi dengan kamu. dan coba kamu baca ini." Kata si Manager yang memberikan sebuah artikel yang menunjukkan wajah Yania Iswari (Yeri).
Pewaris Sekar corp, Wanita idaman sejuta lelaki. Yeri.
Sebuah majalah berita harian online mengusung berita tentang pertengkaran yang tempo hari terjadi di rumah Yeri dan Altez dan malah mengangkat tentang bagaimana Yeri mempertahankan rumah tangganya tanpa terpengaruh berita miring terhadap suaminya.
Sontak hal itu membuat Yeri menjadi murka dan Dia menghubungi wartawan yang meliput berita tersebut. Alih alih mendapat jawaban yang melegakan, Nella justru mendapatkan jawaban yang mencengangkan.
"Seharusnya kan bukan begitu berita di harianmu? Kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya, dan bahkan kedatangan saya kesana adalah untuk membuat Altez jatuh dan malu." Kata Nella melalui sambungan telepon.
"Tapi Sis maaf, saya hanya menulis apa yang terjadi di lapangan saja. Dimana faktanya yang saya lihat istri dari mantan pacar anda itu sama sekali tidak terpengaruh dan malah membela mati matian suaminya. Lalu menurut anda apakah etis jika saya mengarang sebuah berita? Maaf hal itu menyalahi peraturan dari pers." Jawab si wartawan.
"Ah, kalian tidak becus membuat berita!" Sarkas nella yang kemudian mematikan panggilannya.
Nella, kini berada di ambang kebangkrutan setelah bertahun tahun berhasil mencuci dan otak Altez dan menghasut sang anak agar menjauhi sang ibu yang dinilai tidak bisa mengerti kemauan sanga anak.
Sementara itu disisi lain.
Mama Alda tengah tersenyum membaca sebuah artikel yang tampil di layar ponselnya. "Bilhan, pesan meja di restoran favorit saya ya, atur jam 7 malam nanti kita makan malam dengan anak saya."
"Anda terlihat sangat senang Bu, apa misi ibu berhasil?" tanya Bilhan yang setia berdiri dan menunggu sang atasan memberikan perintah selanjutnya.
"Jangan merendah seperti itu, ini semua juga kan karena usaha kamu. Terimakasih telah mengatur semuanya sampai sukses begini."
"Suatu kehormatan bagi saya bisa membantu dan membuat anda senang Bu." Jawab Bilhan.
"Saya lebih senang bil, akhirnya putraku kembali setelah bertahun tahun meninggalkanku." Ucap Mama Alda yang menerawang jauh kejadian dimasa lalu.
"Memang sudah seharusnya Bu, yang berpengaruh buruk disingkirkan. Sekarang Ibu bisa duduk santai dan menjalani pengobatan dengan tenang sebab sudah ada nona Yeri yang sangat bisa kita andalkan."
"Em..." Mama Alda mengangguk dan mengulum senyumnya. Ada kelegaan yang terpancar di wajahnya.
Mama alda mengangguk beberapa kali dengan menatap lurus keluar jendela seolah tengah melepaskan segala beban beratnya.
"Jam berapa Albi akan sampai?" tanyanya pada sang sekretaris.
"Sekarang Tuan Albi sedang di bandara. Dia langsung akan menuju kemari Bu."
__ADS_1
"Bagus, Si bungsu yang selalu penurut itu juga kini akhirnya mau kembali setelah mendengar kakaknya sudah menikah."
"iya Bu, memang semua sudah waktunya." jawab Bilhan dengan sopan.
...~•~ ...
Di taman belakang ruang guru.
"Yer, kenapa sih harus mengundurkan diri segala?" protes Wiwin sembari menjilat es krimnya.
"Ya, gimana lah Win. Kepalaku sudah hampir meledak semalam saat semua email masuk secara bersamaan belum lagi aku yang harus mengadakan rapat dengan salah satu media tentang kabar miring Altez. Kamu juga lihat gosipnya kan?" Yeri menjawab dengan mengaduk aduk es krim miliknya.
"Tapi kan itu semua seharusnya bukan tanggung jawab kamu Yer." Celetuk Wiwin.
"Ya, kalau sudah menikah dan menjadi suami istri ya harus begitu to bu, apa apa di hadapi berdua." kata Pak Reza yang juga ikut duduk di bawah pohon bersama setelah menggelar rapat semester.
Wiwin memutar bola matanya malas. dia merasa jengah dengan Reza yang selalu menjadi moderator dalam perbincangan tersebut. "Ya, kalau cinta sih ga apa apa. Masalahnya...." Ucapan Wiwin menggantung saat Pak Reza segera menyambarnya.
"Masalahnya adalah waktu. Semuanya tergantung pada waktu..." Kata Pak reza.
"Waktu apa lagi Pak? Saya itu malah jadi..."
"Jadi apa? senjata makan tuan?" Tebak Pak Reza.
"kan sudah saya bilang, berdamailah dengan masa lalu."
Iya, Dia sudah pernah mengatakannya. Berdamai dengan masa lalu dan juga semua rasa sakit hatimu. Tapi... untuk mempercayai seorang Altezza Basman yang playboy itu, apa aku mampu?
Saat mereka tegah berbincang bersama, rupanya ada seorang murid yang juga tengah mendengarkan obrolan yang tak seharusnya dia pahami. Tapi si murid teladan ini sangat memahaminya, jangankan sebatas obrolan, kini dia pun merambah berusaha memahami hati dari guru kesayangannya Yeri.
vito membatin dan kemudian berjalan pergi meninggalkan kantor.
Rapat dewan sekolah dan juga guru selesai di gelar sore hari dan hampir menjelang senja. Wiwin dan pak Reza pulang bersama, sedangkan Yeri, Dia pulang sendirian dengan mobilnya.
Tut!
Bunyi alarm tanda kunci mobil terbuka telah berbunyi. Bersamaan dengan Yeri yang masuk dan duduk, saat itu pula Vito tiba tiba masuk dan duduk anteng di samping bangku kemudi Yeri.
"Astaga!" Yeri terlonjak kaget sambil memegangi dadanya. "Ngapain disini?"
Vito tersenyum dan menjawab dengan santainya, bahkan dia juga menyalakan Ac dan memasang sabuk pengaman. "Mau nebeng. Hehehehe!" Jawabnya dengan terkikik ala kuda poni.
Yeri memasang sabuk pengamanannya dan menggeleng tak percaya dengan tindakan si genius di sekolahnya itu.
"Bagaimana kabar ibumu?" Tanya Yeri dengan mulai menjalankan perlahan mobilnya.
"Dia baik." Jawab Vito dengan santai sambil memainkan gantungan yang ada di spion dalam.
"Kenapa harus keluar dari sekolah?" Tanya Vito yang tiba tiba dan dengan menatap Yeri penuh makna. "Apa kerena malam itu? atau karena puisi itu?" Vito menodong Yeri tanpa ragu.
Yeri menghela nafasnya sebelum berbicara. "Dengar Vito, keluarnya aku dari sekolahan itu sam sekali tidak apa kaitannya dengan kejadian itu ataupun puisimu."
Dia masih sangat naif ternyata. Batin Yeri.
"Aku harus memilih, dan aku punya kehidupanku sendiri."
__ADS_1
"Benarkah? tidak ada kaitannya denganku?" Vito berbicara sambil menundukkan kepalanya.
Ah~~~, rupanya anak ini sedang merasa bersalah dengan sesuatu yang bahkan tidak dia lakukan sama sekali.
"Tidak ada." Yeri menggeleng da mengusap pundak sang murid.
"Belajarlah yang rajin untuk mengejar pendidikanmu selanjutnya, pilih universitas mana yang kamu suka dan hubungi aku jika kamu sudah menentukan pilihan. Jangan sungkan, aku benar benar ingin menjadikanmu sebagai adik angkatku Vito."
Mata Vito terbelalak kala mendengar ucapan Yeri. ini artinya dia tak akan bisa memiliki kesempatan lagi untuk menggali perasaannya dan harus mengutamakan masa depan dan pendidikannya.
"Lalu, apa boleh sekarang aku memelukmu sebagai kakakku?" tanya Vito dengan wajah polosnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Yeri tersenyum dan mengangguk. Dia menepi dan mematikan mesin mobilnya hingga sama sekali tak ada cahaya di dalamnya.
"Kenapa harus gelap gelapan seperti ini?" Tanya VIto yang begitu lugu.
Yeri tertawa sejenak sebelum akhirnya dia memeluk sang adik angkat. "Hahahaha Bodoh! Kakak angkatmu ini adalah orang yang terkenal dan sudah bersuami. Apa kamu mau, wajahmu muncul di laman Lambe Ndomble?"
"Tidak." Jawab Vito hingga keduanya berpelukan dengan sayang.
Aku melakukan ini karena Aku banyak berhutang budi pada mendiang Ayahmu Vito. Tetaplah menjadi anak baik. Batin Yeri dengan menepuk nepuk punggung Vito.
Mengapa aku harus jatuh hati pada orang yang ingin menjadikanku sebagai adiknya sendiri? Seperti inikah kejamnya cinta? Batin Vito meratapi nasib cintanya yang tak terbalaskan.
Saat yang bersamaan, ponsel Yeri mendapatkan panggilan. Sayangnya tak ada getar ataupun suara, Yeri memasang mode senyap sedari rapat di mulai dan sampai kini kakinya menginjak halaman rumahnya.
"Dari mana?" Tanya Altez yang mengejutkan Yeri saat Yeri baru membuka pintu rumahnya.
Nih ya tampilan si CEO yang PLAYBOY itu, Tuan muda Altezza Basman.
Yeri berjingkat memegangi dadanya. Dia terlonjak kaget saat suara bariton itu tiba tiba menggema di udara bertanya padanya.
"Aish...! hampir copot jantungku Za!!" Yeri mendengus kesal dan hampir saja melempar Altez dengan kunci mobil karena terkejut.
"Dari sekolah. Tadi bukannya aku sudah pamitan sama kamu kan?" Ucap Yeri yang kemudian duduk dan melepaskan sepatunya.
Altez kemudian mengambil sepatu Yeri yang baru saja dibukanya dan meletakkannya diruang belakang.
"Segera ganti baju, tidak usah mandi. 30 menit lagi kita sudah harus berangkat." Kat Altez yang kemudian membawakan tas kerja Yeri.
Yeri kebingungan dan hanya bisa mengerutkan keningnya. "Kemana?" Tanya Yeri yang mengekori langkah kaki Altez.
"Besok besok buang saja HP itu Yeri. Buat apa kamu beli ponsel mahal jika tidak ada gunanya?" Ketus Altez yang berbicara dengan nada kesal.
"Ada apa sih, kenapa juga baru pulang sudah di ocehi begini?" Yeri menggerutu dan duduk di tepi ranjang. Seketika mulutnya membulat dan mengatup dengan bantuan tangannya.
Suami galak 15 panggilan.
Mama mertua 3 panggilan.
"Maaf, aku lupa menghidupkan deringnya. Sekarang keluarlah aku akan bersiap siap!" Seru Yeri yang kemudian berlarian kalang kabur mempersiapkan diri sedangkan Altez memilih untuk pergi ke ruang tamu.
Pantas saja tadi wajahnya sudah seperti harimau yang akan menerkam mangsanya. Bodohnya aku yang lupa menghidupkan kembali deringnya. Yeri hanya bisa merutuki kebodohannya.
__ADS_1