PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
68. Salah


__ADS_3

"Kak Jo, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa tiba-tiba sekali Kak Yeri ingin aku datang?" tanya Vito yang masih kebingungan dengan penjemputan yang dilakukan oleh Joana.


"Entahlah, aku juga tidak mengerti apa maunya. Mungkin karena dia ingin membicarakan tentang kuliahmu?" jawab Joana tanpa mengalihkan pandangannya dari ramai lalu lalang jalanan kota.


Vito mengernyit heran, setelah beberapa hari lalu Yeri selalu saja bersikap acuh dan mengabaikannya dan mengatakan hanya ingi berkomunikasi sewajarnya adik kakak. Hari ini tiba-tiba saja ia meminta Joana untuk menjemputnya. Vito merasakan ada sesuatu yang janggal dalam hal ini.


"Kamu mau melanjutkan kemana?" tanya Joana yang sebenarnya hanya berbasa-basi mengisi mengisi kesunyian.


VIto yang tadinya sibuk dengan ramai jalanan kota seketika mengalihkan atensinya. "Aku akan tetap meneruskan beasiswa itu. setidaknya nanti aku tidak berhitung banyak pada Kak Yeri."


"Ah, kamu sangat berpikiran dewasa dalam hal ini. Tidak salah selama ini Yeri sering memujimu sebagai anak yang baik." Joana mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Almarhum Ayah yang selalu mengajarkanku agar tidak merepotkan orang lain. Tapi pada kenyataanya, aku malah merepotkan kalian," ucap Vito.


"Santai saja, memang begitu cara kerja alam semesta. Aku dan kamu itu sama," kata Joana yang membuat Vito semakin penasaran akan maksud ucapan Joana.


"Sama?" tanya Vito terheran.


"Iya, kalau kamu itu adik berbayar. Nah, aku ini adalah teman berbayar," ucap Joana yang semakin memicu rasa penasaran Vito. Ia bahkan sampai memutar duduknya dan kini menghadap pada Joana meski masih dengan seatbelt yang terpasang kencang.


"Teman berbayar?"


Joana menganggukkan kepalanya, "Iya berbayar To. Ayah Yeri membayar aku dan dokter Silvi untuk menjadi teman Yeri."


"Kenapa bisa begitu? bukannya manusia secara alami akan mendapatkan teman dari sosialisasinya sendiri?"


"Iyu bagi kita yang normal, tapi tidak bagi Yeri yang dari SD sampai masa remajanya hanya ia habiskan untuk mengurung diri dan menjauhkan dirinya sendiri dari pergaulan. Bagaimana dia bisa mempunyai teman?"

__ADS_1


Joana kemudian mulai menceritakan semuanya pada Vito tentang bagaimana Yeri yang berhati lembut menjadi hilang kepercayaan diri setelah Altez mem-bully-nya. Joana juga bercerita bagaimana dengan dia dan silvi yang kemudian perlahan berubah menjadi teman sesungguhnya karena kebaikan keluarga dan sikap lembut Yeri. Kini Vito mulai menyadari sesuatu mengapa mantan gurunya itu bisa sampai memiliki dua penampilan yang berbeda pada awalnya.


"Apa? jadi suami Kak Yeri itu adalah Altez yang Kakak ceritakan barusan, yang membuat Bu Yeri menjadi minder tidak ketulungan?" tanya Vito bercampur rasa kesal.


"Iya, itu merupakan bagian dari terapi yang ia jalani. Kamu tentu tau bagaimana sistem kerja terapi dan hipnoterapi?" tanya Joana pada Vito yang sudah pasti tau jawabannya.


"Iya, kita akan menggunakan media penyebab rasa takut sebagai terapi dan perlahan menghilangkan rasa takut itu," jawabnya.


"Cerdas!" cetus Joana memuji jawaban Vito.


"Aku tahu, sebab aku juga dulu pernah ikut treatment yang bisa dikatakan serupa dengan itu. Aku dulu phobia dengan tempat gelap, tapi sekarang sudah sembuh." Vito berbicara tanpa beban yang mana itu menandakan jika memang ia sudah tidak merasakan ketakutan akan tempat gelap lagi.


"Lalu, jika kalian dibayar oleh Ayah Kak Yeri, bagaimana dengan aku? Em, maksudku posisiku dihadapan keluarganya, mereka sudah tahu atau belum?"


"Belum, kalau kamu berbeda. Kamu, Yeri sendiri yang pilih, sementara aku dan Silvi adalah pilihan Ayah dan Ibunya. Perlahan, Yeri akan membicarakan hal ini dengan Ayahnya." jawaban Joana sebenarnya sedikit banyak membuat Vito menjadi agak kecewa.


***


Sampai di apartemen Yeri, Joana langsung menggiring Vito untuk masuk ke dalam flat tersebut. Vito bahkan sebenarnya masih sangat ingat kode pintu dan juga lantai di mana flat Yeri berada. Ia sejujurnya masih sangat ingat tentang malam di mana Yeri sempat memintanya untuk menemaninya tidur.


"Hai!" seru Yeri yang kemudian melambai saat melihat kedatangan Vito dan Joana.


"Siang Bu, ini pesanan Ibu." Joana menyapa lalu meletakkan juga sebuah bungkusan berwarna coklat.


"Terima kasih." Balas Yeri sambil tersenyum.


Tidak lagi seperti saat pertama bertemu diaman Yeri hanya mengenakan chemise, hari ini ia menggunakan baju casual, kaos oblong yang di padukan dengan celana panjang hitam. ia terlihat lebih segar setelah merias diri.

__ADS_1


Dia berdandan uuntuk menyambut Vito? Ada maslah apa lagi antara dia dan Altez? baru kemarin dia digendong begitu mesranya. Sekarang? Joana hanya bisa membatin dan menerka-nerka apa yang sedang terjadi.


"Ayo kita makan dulu dan setelah ini baru kita pergi," ucap Yeri sembari menata makanan yang ada di meja makan dengan wajahnya yang terus saja memancarkan senyuman.


"Memangnya kita mau kemana Kak?" tanya Vito yang akhirnya mengekori di belakang Yeri.


"Au sedang ingin jalan-jalan saja. Setidaknya mengisi hari tenangmu sebelum kamu masuk kuliah 'kan?" Ia menaikkan alisnya dengan wajah yang tersenyum.


"Kak Joana bisa tinggalkan kami sebentar?" pinta Vito tiba-tiba setelah merasa ada yang tidak beres dengan sikap Yeri.


"Oh, ok!" Joana tidak banyak bertanya lagi. Ia hanya patuh dan memberikan kode ok dengan jati tangannya.


"Kenapa kamu malah meminta Joana pergi?" Yeri menatap Vito.


"Katakan padaku sebenarnya ada apa ini?" Vito bertanya seolah usia mereka sejajar sekarang dan seolah ia bukanlah adik angkat Yeri.


Vito menunjukkan sisi lelakinya, ia terlihat dewasa jika sedang begini. Ia menarik lengan Yeri perlahan untuk duduk di kursi meja makan. Yeri hanya menurut dan raut wajahnya yang berubah sayu.


"Cerita, ada apa?" tanya Vito dengan lembut, bahkan suara rendahnya malah berhasil menggugurkan air mata Yeri yang sedari tadi tertahan.


Yeri menangis tergugu, dan berkali-kali mengusap sendiri air matanya dengan Vito yang terus memberikan tisu padanya. "Cerita, berbagi itu tidak buruk," kata Vito dengan terus mengusap tangan Yeri yang ia genggam.


Yeri tidak menolak saat Vito menggenggam tangannya. pergerakan halus dan lembut dari tangan yang lebih lebar dari miliknya itu mampu menghantarkan kenyamanan untuknya. Ia kemudian perlahan mengangkat wajahnya, agaknya ia siap untuk mulai bercerita.


"Aku telah salah," ucapnya di sela-sela tangisannya yang tertahan dnegan suaranya yang bergetar.


"Salah apa? Apanya yang salah? tanya Vito tidak mengerti.

__ADS_1


__ADS_2