PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
62.


__ADS_3

...----🌼🌼----...


Dor....!


Dor...!


Nella menggedor pintu kamar utama. Tentu saja hal itu membuat penghuni di dalamnya kelabakan dan mengerang kesal dalam waktu yang bersamaan.


"Altez! keluar kamu!" Nella berteriak tanpa tau malu.


Sementara itu di dalam kamar.


"Urus dulu sana ibu dari anak anakmu." Ucap Yeri yang menatap remeh Altez.


Sedangkan Altez yang sistem syaraf dan kerja ototnya sedang terfokus pada kegiatan menyenangkan dan menguras keringat itu merasa frustasi lantaran semuanya berjalan tak sesuai dengan ekspektasi.


"Argh....!" Ia mengerang kesal saat turun dari pinggul Yeri. Sepri harimau yang dipaksa untuk merelakan mangsanya pergi dengan mengejeknya.


"Awas saja kamu Yer!" Altez menatap tajam Yeri lalu membuka pintu.


"Ada apa kamu membuat keributan di rumahku?" Altez membentak Nella.


"Al, kamu harus bertanggungjawab. Aku mengandung anakmu.." Nella berbicara dengan mata yang sudah basah dan memasang wajah memelas.


Altez menatapnya remeh, tatapan mengintimidasi dan menghakimi dalam sekali waktu. "Anakku? anakku katamu?" Altez duduk di sofa tanpa mau melihat wajah Nella.


"Nella! cukup sudah kamu membuat rumah tanggaku berantakan. Selama ini aku hanya diam karena belum memiliki bukti. Tapi... apa kamu bisa menjelaskan ini?" Altez merogoh saku celananya dan memutar sebuah video di mana nampak jelas Nella tengah mabuk di sebuah bar.


Wajah nella memucat. Ia menelan ludahnya dengan susah payah seakan paru-parunya mengempis tiba-tiba. Perasaan yang muncul saat kebusukan seseorang terkuak. Matanya menunduk menatap lantai keramik yang dipijaknya.


"I... itu semua. Bukan aku Al, itu bukan aku!"

__ADS_1


"Bukan kamu? Apa kamu pikir aku ini buta? Oh, kamu butuh penguat dalam hal ini kan?" Altez mengangguk beberapa kali.


Yeri dengan cueknya duduk di meja makan dan menikmati camilannya dengan tenang. Ingat tadi pagi saat Vito datang berkunjung? Benar sekali, apa yang Vito bawa adalah camilan dengan memberikan selembar surat di dalam paper bag.


...*Bukan barang mahal kak, hanya camilan saja. Kuharap perasaanmu akan lebih membaik setelah memakannya.* Isi pesan dari Vito....


"Adik yang baik, tidak sia-sia dia memberikanku ini. Sangat berguna."Yeri tersenyum menatap bungkusan camilan yang ada di tangannya. "Lumayan untuk teman nonton drama." Ia mecibikkan bibirnya.


Yeri, Yeri... ampun deh. Itu suami lagi bertempur melawan nenek sihir dan berjuang untuk mempertahankan pernikahan biar tidak berantakan. Eh... kamu malah asyik nonton sambil nyemil. Deket sama Mimi udah Mimi jorokin kamu Yer. Apa kek, nangis guling-guling atau teriak-teriak histeris.


Tapi, memang itulah Yeri ia bersikap tenang sebisa mungkin. Itu hanya luarnya saja, dalam dirinya, ia sudah sangat ingin membanting kedua manusia yang membuat keributan di dalam rumahnya. Ia paling tidak suka keributan dan sekarang malah tersaji secara ekslusif di depan matanya.


"Woy! kalian!" Yeri melemparkan camilan dan tepat mendarat di kepala Nella. "Makan camilan tuh, biar seru ngobrolnya." Ucapnya santai. Ia kemudian berdiri dan terlihat seperti sedang membuat minuman.


Sementara itu, setelah camilan terbang tadi, keduanya berhenti berbicara dan kini menatap heran Yeri yang terlihat tenang dan santai. "Kenapa melihatku seperti itu? Kalian mau minum apa? biar dingin gitu." Ucap Yeri tanpa mengindahkan tatapan tajam dari keduanya.


"Al, aku minta kamu segera menikahi aku!" Nella mendesak Altez setelah iklan yang Yeri tayangkan lagi.


Oh, sungguh perdebatan ini seolah tak memiliki harga diri sama sekali di hadapan Yeri. Apa yang mereka ributkan di matanya hanyalah sesuatu yang remeh-temeh. Yeri memang begini, ia terbiasa menyelesaikan sesuatu dengan santai dan tenang. Tidak seperti Altez yang seperti mercon banting.


"Tidak! aku tidak akan pernah menceraikanmu." Kata Altez menyahuti.


Serasa di atas awan dan memenangkan pertarungan sebelum mengeluarkan senjata andalan, Yeri terdiam dengan ekspresi wajah yang datar. "Kamu dengar itu? Altez mau berada di sisiku tanpa paksaan. Aku tidak pernah memaksanya untuk tinggal. Satu yang harus kamu pahami Nella. Lelaki ada di sisi kita itu hanya karena mereka mau. Jika tidak, ya seperti kamu ini contohnya. Mengemis pada suami orang!"


Jeb....!


Tenang tapi mematikan, seperti ubur-ubur beracun yang membunuh lawan dengan halus sentuhan. Yeri berbicara dengan tenang tanpa tatapan remeh dan dia juga masih asyik menikmati camilan juga susu almond yang ada di hadapannya.


"Aku akan membawa ini ke media televisi." Nella mengancam.


Yeri tertawa. "Hahahha! kamu pikir aku peduli? Hartamu itu tidak ada seujung kuku hartaku Nella. Aku hanya diam selama ini karena aku menyayangi hartaku. Sayang sekali kan, jika harus mengeluarkan uang untuk membayar pengacara untuk mengurus semua ini?"

__ADS_1


"Lakukanlah apa yang kamu mau hingga mungkin, dalam beberapa hari kedepan. Kamu, hanya tinggal nama." Imbuhnya yang kemudian menatap datar keduanya.


Altez seketika menoleh saat mendengar hal itu dari bibir istrinya. Mengancam dan menyertakan pembunuhan?


"Kamu mengancamku?" Nella memekik dan menatap nyalang Yeri.


Yeri tertawa dan mendekat pada Nella. "Mengancam? bukan sayang, ini bukan ancaman. Ini hanya peringatan dari istri sah lelaki yang kamu tuduh telah menghamilimu." Kata Yeri dengan santainya.


"Jika kamu bisa membuatnya menceraikanku, ambillah. Silahkan! aku tidak keberatan." Yeri berbicara seolah tanpa beban.


Bukankah kebanyakan di sinetron atau dalam drama, si istri sah akan memohon dan menangis agar suaminya tak menikah lagi? Tapi Yeri? Yeri malah memberikan peluang besar. Disisi lain, Altez merasa jika Yeri sama sekali tidak menghargainya dengan segala ucapannya barusan. Ucapan di mana dia memperbolehkan dan menantang Nella agar Altez bersedia untuk menceraikannya.


Nella hanya terdiam membeku. Kini dia sadar siapa sosok sederhana yang ia remehkan selama ini. Yeri, memang tidak pernah menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Ia hanya ingin mencari ketenangan dalam hidup. Ia bukan sosok mahluk yang haus akan pujian dan sanjungan. Sepertinya, kesederhanaan memanglah satu prinsip yang tak tergoyahkan dalam dirinya.


"Yeri!" Altez membentak sang istri. "Kamu..." Ia menahan kemarahannya, tangannya mengepal di sisi pahanya. Terlihat betapa urat lehernya menegang dan buku-buku tangannya mulai memutih menahan kemarahannya.


"Husst...!" Yeri dengan anggun dan elegan duduk di atas pangkuan Altez tanpa ada rasa ragu ataupun malu. Ia seolah sengaja ingin mengusir Nella dengan cara lembutnya. "Jagan berteriak sayang, kamu bukan Rock star." Ia berbicara sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Yeri kemudian mengecup bibir Altez di hadapan Nella. "Jika tidak ada keperluan lagi silahkan pergi!" Ucapnya dengan tersenyum manis dan lembut pada Nella yang menatapnya dengan muka merah padam.


Lagi Yeri mengecup dan kali ini sedikit *****4* bibir Altez, meski Altez tak membalasnya. "Pintu keluarnya di sana! Kami sangat sibuk, tidak bisa mengantarmu." Yeri berbicara dengan bibir yang masih menempel di bibir Altez.


Nella benar-benar marah dibuatnya. Ia meninggalkan rumah Altez dan Yeri dengan amarah yang meledak-ledak.


"Si4l!! aku salah membuat rencana!!" Dia merema* rambutnya frustasi di dalam mobilnya.


Di dalam rumah Altez dan Yeri.


"Ouh....! berisik sekali kalian ini. Aku harus sampai menciummu segala untuk mengusirnya." Yeri berkicau setelah kepergian Nella.


"Apa aku sangat tidak berharga di matamu?" Altez bertanya kepada Yeri tanpa menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2