PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
66.


__ADS_3

...🌼🌼🌼 ...


"Ngapain ke hotel, kalau akhirnya cuma mau tidur di sofa dengan dipangku suaminya?" Joana menggumam menatap Yeri yang tertidur dalam pangkuan Altez.


Yeri, rasa takutnya muncul dan itu sangat mengganggu kerja otaknya. Dia berfikiran, mungkin saja ular itu masih ada dan penyelamatnya hanyalah Altez. Lantai 9, mana bisa ular ada di lantai 9 sebuah hotel? Yeri agaknya mulai kembali pada sisi lemahnya. Ia ketakutan setengah mati sekarang.


Altez yang merasakan pegal di pahanya setelah memangku lama hingga Yeri tertidur, mulai melakukan sedikit pergerakan. Perlahan-lahan, ia menurunkan Yeri dari atas pangkuannya. Namun, saat tinggal sedikit lagi ia berhasil, Yeri tiba-tiba saja membuka matanya.


"Mau ke mana?"


"Yer, kakiku pegal dari tadi kamu minta dipangku terus. Tidur sendiri ya," ucap Altez yang membujuknya.


Yeri menggeleng. "Nggak!" Serunya.


"Kenapa enggak? tidur dengan Joana saja sana, aku pesan kamar yang lain."


"Nggak! maunya kita bertiga." Yeri kembali naik di atas pangkuan Altez.


Altez dengan segera menghentikan pergerakan Yeri dengan tangannya. "Stop! jangan naik lagi Yeri, kakiku masih kesemutan. Aliran darahku tidak mengalir lancar, sudah berapa jam kamu ku pangku?"


Yeri memutar bola matanya, ia sangat kesal sekarang. "Ya sudah, sana pergi!" Ia mendorong Altez dengan kakinya.


"Aduh, sopan sekali sikap istriku. Setelah minta pangku berjam-jam sekarang menendang ku begini."


"Loh, kamu kan tadi yang mau pergi? yang mengeluh lelah memangku aku? Ya sudah, sana cepat pergi,"


"Ya tapi yang sopan sayang caranya," kata Altez dengan sabarnya.


"Kalian ini bertengkar malam-malam. Diamlah, aku mau tidur." Joana berbicara dari tempat di mana ia tidur.


"Salahkan dia itu yang tidak mau memangku aku, aku masih takut," kata Yeri dengan menunjuk wajah Altez.


"Bukannya tidak mau sayang, tapi kakiku kesemutan," jawab Altez.

__ADS_1


"Aish! berisik sekali." Joana berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


"Mau ke mana kamu?" Tanya Yeri segera menodongnya.


Joana menghentikan langkahnya, dengan wajah malasnya ia menjawab. "Mau pesan kamar yang lain. Besok pekerjaanku sangat banyak, begadang tidak akan membuat konsentrasiku bisa terfokus dengan baik."


"Tapi, jo…."


"Blam!" Suara pintu tertutup dengan keras.


Kenapa yang pergi malah Joana? seharusnya aku, kalau begini caranya, jangankan bergeser posisi, mau ke kamar mandi saja bakalan sulit. Altez membatin menatap punggung Joana yang semakin menghilang di balik pintu.


"Kita pindah ke ranjang ya," bujuk Altez.


"Mau ngapain di ranjang?" Tanya Yeri penuh selidik dengan alisnya yang menukik.


Altez mengusap wajahnya kasar. Ia merasa frustasi dengan kelakuan Yeri yang selalu mencurigai setiap gerak-gerik pergerakannya. Altez kemudian menyelipkan anak rambut di belakang telinga Yeri dan menatapnya datar.


"Aku hanya mau tidur dengan meluruskan punggungku. Ini lantai 9, dan kita sudah jauh dari rumah, ular itu tidak mungkin sampai kesini." Altez berbicara dengan tenangnya.


"Ular-ular?"


"Iya, sebelum kamu datang, ada beberapa ular di dapur, salah satunya pergi Za, dan saat Joana mengejarnya hilang begitu saja. Tidak tahu bersembunyi di mana," ucapnya mengadu dengan bibir yang mengerucut.


"Cup!" Suara kecupan sekilas dari Altez.


Yeri melotot seketika dan memukuli Altez. "Kamu ya za, selalu cari kesempatan."


"Biar kamu tenang sayang, biar tidak takut lagi." Altez menangkis pukulan Yeri dengan tangannya. "Lagian rumah kota kan di dekat sawah, mungkin saja mereka keluar dari sarangnya untuk mencari makan dan malah tersesat di rumah kita."


Alasan Altez bisa masuk di akal, memang masih terasa logis, kala ular-ular itu masuk kedalam rumah. Mengingat, lokasi rumah mereka yang bersebelahan dengan hamparan sawah. Yeri terdiam menghentikan pergerakannya dalam memukuli Altez.


"Kamu benar, seharusnya aku memikirkan hal itu sedari awal memilih hadiah rumah," cetus Yeri dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Altez segera bangkit dari duduknya dan membawa Yeri, ia membopong istrinya. "Sudah, sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu, ular-ular itu tidak akan ada di sini," ucapnya menenangkan sang istri.


"Pokoknya kamu harus dekat sama aku, kamu tidur di sebelahku." Yeri celingukan mengamati sekitarnya.


Mendadak Altez jadi sangat senang dan sumringah. Ia yang tadinya berjalan dengan sedikit pincang dan kesemutan, langsung meletakkan Yeri di atas ranjang. Ia senyum-senyum sendiri dan itu juga sangat jelas di mata Yeri.


"Jangan pikirkan yang tidak-tidak, aku hanya memintamu untuk menemaniku. Bukan yang lain," ujar Yeri kesal.


"Iya, iya sayang, iya. Terserah kamu," Ucap Altez.


Yeri masih was-was mengamati sekitarnya, Altez menyadari hal itu, ia kemudian membawa Yeri ke dalam dekapannya. Yeri hanya diam dan menurut, dia seperti kucing kecil yang begitu manis dan penurut sekarang. Bahkan saat Altez menenangkannya dan mencium pucuk kepalanya pun, ia hanya pasrah menerima.


"Cup!" Satu kecupan mendarat di pucuk kepala Yeri. "Tidurlah, aku yang akan menjagamu," ucap Altez lirih.


Mengusap dengan lembut dan sabar, penuh perhatian, tangan Altez bergerak perlahan di atas kepala sang istri. Surai-surai yang hitam nan halus Yeri, seolah menjadi saksi akan luluhnya hari seorang Yeri dengan perlahan. Namun, ia sama sekali belum menyadari hal itu.


Dia yang menenangkanku, dia juga yang terlelap duluan. Batin Yeri yang perlahan ia memperhatikan wajah Altez dari dekat, sangat dekat bahkan nafas sang suami terasa membelai lembut pipinya. Yeri mengamati si pria menyebalkan yang suka bergonta-ganti wanita itu dalam tidurnya yang tenang.


Apa yang mendasari sikap baikmu padaku? apa karena fisikku? atau karena yang lain? Batin Yeri.


Setelah lama ku amati, dia tampan juga. Bulu matanya lentik, wajahnya tyrus, hidungnya mancung, dia juga tinggi. Ah, andai saja kelakuannya tidak menyebalkan. Aku tidak akan keberatan memiliki keturunan darinya," Batin Yeri.


Lama mengamati wajah sang suami, hingga akhirnya ia tertidur dalam lelapnya. Yeri tertidur dalam dekapan Altez dalam keadaan sadar, ia tidak sedang di bawah pengaruh obat sekarang. Pertama kalinya, mereka dipersatukan dalam suatu keadaan yang tenang dan damai.


*Pagi hari*


Altez mengamati wajah polos sang istri yang tertidur pulas dalam dekapannya. Dia cantik sekali walaupun tanpa make-up. Maafkan aku yang membuatmu tidak percaya dengan fisikmu sendiri. Kamu cantik istriku, kamu cantik.


Perlahan, dengan sangat lembut dan hati-hati, Altez mengecup pipi Yeri. Siapa sangka ternyata apa yang ia upayakan dalam pergerakan halus dan lembut itu masih saja mengusik tidur Yeri. Yeri terbangun dan langsung merauk bibir Altez.


"Nah, ketangkap basah lagi kamu ya!" Ketusnya.


"Apasih Yer? apa salahnya mencium istri sendiri?"

__ADS_1


Yeri berbicara dengan gugup. "Sa... salah kalau aku tidak mengijinkannya."


"Kenapa hanya mencium saja tidak boleh, sedangkan semalaman kamu tidur dalam pelukanku dengan aku yang memegang semua anggota tubuhmu saja tidak apa-apa?"


__ADS_2