
...-----π£π£π£-----...
...-----π£π£π£-----...
Hai!!
Good nite!! nite karena Othor nulisnya malam ya. Hihihi!π€.
Kalian sehat-sehat semu kan? Pada udh emam eyum? yak ilah sok imut banget nih Mimi. Udah deh kita lanjut ke bab berikutnya di mana ada salah satu adegan Altez dan Yeri yang terjebur ke danau.
Tenang aja, mereka tidak meninggoy kok, malahan cinta mereka semakin kuat. Cuman mereka pada belum sadar. Ya udah deh, check this out!!
Eh, lupa. I Love You!!!
Merasa puas setelah mencaci dan memaki kedua ibu-ibu yang terbukti mereka hanya memakai krim abal-abal dan mengakibatkan rusaknya wajah mereka, Altez meninju dinding. Dia yang Sanguinis memang begini. Mereka banyak omong, dan akan meledak-ledak daam menyelesaikan masalah tanpa berpikir panjang.
Berbeda dengan Yeri yang memiliki kepribadian Melankolis. Orang dengan kepribadian ini akan cenderung memikirkan segala sesuatu secara matang. Sebab itulah mereka memiliki julukan si pemikir. Sifat-sifat yang dimiliki oleh Melankolis adalah:
~Teliti
~Tidak gegabah.
~Banyak berpikir & sensitif.
~ Teratur & rapi.
~ Perfeksionis.
~Kurang percaya diri.
~Kreatif & Out of the box.
~Sulit menjalin hubungan dengan orang lain.
~ Tenang dan suka menyimpan rahasia.
Menyukai, fakta, data dan angka.
~Sering memperhatikan orang lain.
Inilah sederetan sifat yang Yeri miliki. Ia cenderung tenang dan menyimpan segala sesuatunya sendiri, tapi ia juga senang memperhatikan orang lain secara detail dalam diamnya. Itulah mengapa orang dalam tipe kepribadian seperti ini cenderung pendendam. Sama seperti Yeri yang masih menyimpan dendam walaupun sudah beberapa tahun berlalu.
"Harusnya kamu tadi tidak seperti itu dengan mereka Za. Mereka hanya di bayar." Ucap Yeri yang rupanya menaruh iba pada ibu-ibu yang sengaja ingin menjatuhkan reputasi perusahaannya.
"Jangan dibahas lagi bisa?" Celetuk Altez memotong pembicaraan Yeri.
"Ini nih, kamu. Sikapmu yang begini yang bikin males. Kamu itu banyak bicara tapi tidak mau gantian mendengarkan orang lain!"
"Memang, memang itu aku, kenapa?" Altez bertanya dengan menaikkan kedua alisnya seolah menantang.
__ADS_1
Yeri melemparkan pandangannya keluar jendela. Betapa jengah nya ia menghadapi sikap Altez yang menyebalkan ini. "Terserah!" Sahutnya kesal.
Kalau tidak ada hukum di negara dan agama ini, sudah ku cekik kamu. Huhhhh!! mengapa bisa aku malah menikahi orang menyebalkan seperti ini? Apa benar kata pak Reza dulu, bahwa dendam hanya kan menyulitkan hidupku? Yeri merenungi nasibnya.
"Yer, jangan ngambek kenapa?" Altez dengan jahilnya mentoel dagu Yeri.
"Diam tangannya atau ku plintir!" Yeri berbicara tanpa melihat wajah Altez yang sudah kembali ceria.
Memang begitulah Altez, mudah sedih dan marah, tapi juga gampang kembali ceria. Itulah karakternya. Berbalik dengan Yeri yang cenderung tenang dan datar, tapi sekalinya marah susah baiknya dan tidak akan percaya lagi.
"Sayang, nanti malam kita besuk Mama ya?"
"Mama sudah bisa dibesuk?" Yeri berbinar kala Altez menyambut seseorang yang beberapa hari lalu terbaring lemah tidak berdaya.
Altez mengangguk dan dengan cepatnya tangannya meraih satu tangan yeri untuk ia genggam.
"Em... tapi malam ini aku juga ada acara. Ada undangan dari desainer ternama gitu. Kamu jenguk Mama sendiri tidak apa-apa?" ucap yeri yang baru ingat jika ia sudah memiliki janji lain.
Altez mengerem mendadak dan segera berputar arah tanpa bicara dengan Yeri yang dibuat bingung olehnya.
"Mau kemana?" Mimik wajah Yeri berubah panik saat Altez menambah kecepatan mobilnya dengan tiba-tiba. "Za, pelan-pelan saja. Aku belum mu mati Za!"
"Nah kan baru mau pegang suami kamu kalau ketakutan begini." Ucap Altez sesuka hatinya.
Bagaimana Yeri tidak takut, jika Altez hanya mengemudi dengan satu tangan dan dalam kecepatan tinggi. Kenakalan apalagi yang belum pernah Altez lakukan? Ia bahkan pernah tertangkap polisi karena mengikuti balapan liar dengan seorag gadis sebagai bahan taruhannya dan untuk hal itu, lagi lagi Mama Alda yang harus membereskannya.
Yeri merangkul lengan Altez da menaikkan kedua kakinya di atas kursi yang ia duduki. Altez tersenyum senang melihat kejahilannya sukses.
Laju mobi menurun dan semakin pelan. Altez menuruti sang istri. "Oke, demi kamu sayang." ucapnya dengan nada bicara mendayu dan jangan lupakan dengan tatapan nakalnya.
"Dasar Buaya!" Yeri mencibir sang suami.
"Kita jenguk Mama sekarang, Baru nanti malam kita ke pesta undangan itu." Ucap Altez yang merasa yakin jika ia juga akan Yeri ajak untuk menghadiri acara tersebut.
Yeri mengerutkan keningnya dan menatap Altez. "Siapa yang mau mengajakmu sih Za? Kakimu lihat, belum bisa pakai sepatu dan juga wajahmu masih lebam biru begitu. Kita menjenguk Mama bersama iya. Tapi kalau untuk acara pesta, aku hanya sebentar memberikan kado dan pulang."
"Mau beralasan apa kamu kalau hanya sebentar?"
Yeri tersenyum. "Kamu, kamu alasannya. Aku tinggal bilang, Saya permisi pulang, suami saya sedang sakit di rumah sendirian. Beres kan? Makanya kamu jangan ikut."
Altez terdiam. wajahnya menunjukkan kekecewaan. Ia sangat ingin menunjukan kepada Dunia bhawa Yeri adalah istrinya. tapi agaknya Yeri berusaha untuk mematahkan niatan itu.
"jangan berpikiran buruk, Aku sebenarnya masih tidak menyukai keramaian. Terlebih itu adalah sebuah kegiatan yang tidak teratur seperti pesta Za. Dalam acara pesta, aku merasa aku yang paing buruk rupa." Yeri berbicara dengan wajah yang tertunduk lesu.
Ini semua karena aku yang membully dia dimasa kecilnya. Dia jadi tidak memiliki rasa percaya diri dan selalu minder. Harus dengan apa aku membuat dia kembali memiliki rasa percaya diri itu?
"Husstt...! jangan begitu. Kamu itu cantik sayang." Altez mengusap pipi Yeri yang ternyata sudah basah. "Cup... cup...! siapa yang mengatakan istri Altezza Basman jelek? tidak ada, mereka semua hanya iri karena kamu yang cantik ini punya suami yang tampan sepertiku."
Altez berusaha untuk menghibur Yeri.
Malam hari Yeri tengah bersiap untuk menghadiri pest ulang tahun rekan bisnisnya. Ia menggunakan balutan dres merah panjang dengan kedua sisi kanan dan kiri yang terbelah indah.
__ADS_1
Altez sampai dibuat terkesima saat melihat tampilan Yeri yang begitu menggoda. Sedikit saja gerakannya, bagi Altez itu sudah seperti lambaian untuk bersenggama di atas ranjang. dasar otak mesum!
"Biasa saja melihatnya. Jangan seperti itu!" Yeri memberikan ultimatum bahakan sebelum Altez sempat melancarkan aksinya.
Altez hanya bisa mengurungkan niatnya dan menelan ludahnya kasar.
"Yer, kamu sangat cantik. Tapi aku tidak rela jika kecantikanmu dinikmati oleh pria lain. Ganti baju ya?"
"Ganti apalagi, sudah tidak ada waktu. kalau kamu rewel aku berangkat sendiri saja. Kamu tidak usah mengantar segala!"
Lagi dan lagi, Altez selalu kalah jika melawan pawangnya.
...-----πΌπΌ-----...
Yeri si perfectsionis itu selalu memenuhi ucapannya. Ia hanya menghadiri pesta selama 30 menit dan selama 30 menit itu di gunakan Altez untuk mengobrol dengan teman lamanya yang tak sengaja bertemu di taman depan hotel.
Yeri yang baru saja keluar sempat kebingungan mencari Altez karena mobil terlihat kosong. tapi tidak menunggu lama, Altez kemudian muncul dan berjala dengan pincang.
"Darimana saja? sudah tau kakinya sakit, masih sja jalan jalan."
"Cie, istriku perhatian sekali rupanya. Aku jadi senang." Altez menggoda Yeri yang mana Yeri juga memerah pipinya karena tersipu malu.
"Sudah ayo naik, aku sudah tidak sabar memakan semangka matang." Kata Altez menyinggung sesuatu yang merah dan menyegarkan.
"Kapan kamu beli semangka?" Tanya Yeri dengan wajah lugunya.
"Udah lama banget, aku simpan aja biar matang sempurna." jawabnya penuh arti terselubung.
Kamu semangkanya! Batin Altez dalam senyumnya yang terkulum.
Mereka mengendarai mobil melewati sebuah danau buatan sebelum memasuki area komplek perumahan mewah yang tadi baru saja keduanya datangi.
Awalnya semuanya baik-baik saja, sampai mereka berpapasan dengan sebuah mobil yang berlawanan arah. Mobil itu oleng dan nyaris menabrak mobil yang Altez dan Yeri kendarai. Untungnya Altez masih bisa membanting stir, tapi masalah lainnya muncul, mobil mereka terjun bebas ke dalam danau buatan.
"Aaaaaa!!" Yeri berteriak histeris, sementara Altez segera melepaskan sabuk pengaman Yeri dalam waktu singkat. Ia bahkan tidak memikirkan keadaanya.
Altez dengan cepat membuka kunci sabuk pengaman dan sisi pintu di sebelahnya sebelum mobil mereka menyentuh dasar danau. Tapi sayangnya, saat ia mencoba untuk membuka kunci sabuk pengamannya, kunci itu macet.
Di sisi sebelahnya Yeri sudah bisa bergerak, ia berenang dan berusaha melepaskan sabuk pengaman Altez dengan susah payah tapi sia-sia. Karena tadi Altez hanya fokus pada sabuk pengaman istrinya, ia sampai tidak terpikirkan untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum tercebur ke dasar danau. Alhasil ia kehabisan nafas.
Kira-kira begitu deh posisinya pas tercebur.
Ini adalah saat dimana Yeri membagi sisa oksigen yang ia punya dengan Altez.
Tak bisa melihat dan hanya bisa meraba. Keduanya tenggelam dalam kegelapan dan dingin air danau. Tangan Yeri terus berusaha untuk melepaskan sabuk pengaman Altez. Yeri dapat merasakan Altez yang ia pegang pipinya menggeleng. Itu merupakan suatu tanda agar Yeri segera meninggalkannya dan berenang keluar dari danau.
Sementara itu di bawah pohon, ada seseorang yang tersenyum senang melihat adegan ini. Dia tertawa ketika melihat gelembung-gelembung itu berhenti bermunculan dari dasar danau.
"Mampus!!" Ujarnya senang.
__ADS_1