PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
64.


__ADS_3

Yeri diminta datang ke kantor, terkait tentang kasus pencemaran nama baik yang dilakukan oleh ibu-ibu waktu lalu. Sebenarnya Yeri sama sekali tidak ingin mengajak Altez, ia tahu jika suami yang salah tema itu pasti akan membuat keributan.


"Pokoknya, saya tidak terima nama baik istri saya dan perusahaanya tercemar begini. Saya mau mereka dipenjarakan!" Seru Altez yang berbicara dengan berapi-api. Ia sangat marah saat mengetahui siapa yang menyuruh dua orang pembuat onar ini.


Yeri mengusap wajahnya kasar, ia sama sekali tidak ingin semuanya menjadi panjang dan berlarut-larut. Jika semuanya bisa diselesaikan secara damai, kenapa harus ada keributan 'kan? "Za, sayang. Sudah, aku tidak ingin menyusahkan mereka. Mereka bukan orang-orang yang bisa meninggalkan keluarga kecilnya begitu saja."


Kata sayang terpaksa Yeri gunakan mengingat ia kini tengah berada di hadapan banyak orang. Sementara, yang dipanggil dengan sebutan itu seketika berubah air mukanya. Pria bernama Altez itu mengulum senyumnya lalu mengangguk perlahan dengan alisnya yang bergerak naik turun. Sungguh menggemaskan untuk ditabok.


"Tapi mereka…" Altez menunjuk kepada dua ibu-ibu yang menunduk di ruang penyidikan.


Yeri tidak banyak bicara pada Altez ia hanya menodong suaminya itu dengan tatapan membunuh. Membuat Altez yang tadinya mengulum senyumnya dan hendak melayangkan protesnya seketika terdiam. Pria berambut kecoklatan itu mulai paham bahwa bukan hanya pedang yang dapat menikam tajam, melainkan tatapan mata juga.


"Kalian saya minta untuk membuat pengakuan sejujur-jujurnya besok. Saya minta pada pihak pers untuk menayangkannya secara live. Saya harap kalian bisa bekerjasama selagi saya masih memiliki niatan baik." Yeri menatap tajam kedua ibu-ibu yang tertunduk lesu itu.


"Jo! segera hubungi seluruh stasiun TV. Besok saya minta kamu mengurusnya, tayangkan secara live dan abadikan dalam satu disk. Siapa tau kita membutuhkannya lagi jika mereka masih berani membuat onar. Jejak digital itu lebih mematikan." Yeri menepuk kedua pundak ibu-ibu tadi.


Para pengacara dan polisi yang hadir, semuanya mengangguk setuju dengan keputusan Yeri. Yeri masih berdiri di belakang kedua ibu-ibu tadi. Ia mengusap lembut pundak ibu-ibu yang tengah menangis menyesali perbuatannya.


"Jangan menangis, setelah masalah ini selesai, kalian boleh bekerja di perusahaanku di bagian kebersihan. Tantu saja dengan pengawasan polisi, kalian wajib lapor setiap dua Minggu sekali," Yeri berbicara dengan sangat elegan.


Mata Altez dan mereka semua yang ada pada ruang penyidikan itu membulat seketika. Bagaimana bisa, sudah melakukan kejahatan malah diberikan pekerjaan? Altez tak habis pikir dengan cara berpikir istrinya. Jika itu dia, sudah pasti nasib para ibu-ibu itu akan berakhir secara mengenaskan.


"Yer, apa maksudmu?" Altez mendekat dan merasa gemas. Tindakan istrinya ini baginya adalah tindakan yang teramat salah.


"Apa yang kamu pikirkan? bagaimana jika mereka membuat kesalahan lagi dan mungkin saja lebih fatal daripada yang ini? Yer, mereka membahayakan keselamatanmu!" Kata Altez menyuarakan pendapatnya.

__ADS_1


Secara tiba-tiba, kedua ibu-ibu itu bersimpuh di lantai dan memeluk lalu bersujud di hadapan Yeri. Yeri memundurkan langkahnya dan memberikan senyum remeh kepada suaminya. Seolah, ia berkata, Lihat bagaimana cara anjing berterima kasih kepada si pemberi makan?


"Tidak usah seperti ini, aku tidak suka." Yeri pergi meninggalkan kedua ibu-ibu itu dengan gaya angkuhnya.


Kembali ia mengenakan kacamata hitamnya. Yeri berjalan dengan Joana yang mengekor di belakang. "Bu, tapi saya rasa benar apa kata suami Anda. Mereka mungkin saja akan melakukan kejahatan lagi," Joana berbicara dengan terus membuntuti Yeri.


"Jo, tidak ada manusia yang luput dari dosa. Biarkan saja mereka bekerja sebagai tukang sapu di pabrik."


"Tu-tukang sapu? tapi mereka perempuan," ucap Joana keberatan.


"Inilah fungsi dari perjuangan Raden Ajeng Kartini. Ke-se-ta-ra-an!" Yeri kembali melenggang.


Altez masih berada di dalam ruang penyidikan. "Pak, pokoknya saya minta agar kedua ibu-ibu ini membuat perjanjian. Saya masih tidak bisa mempercayai mereka," Altez berbicara kepada polisi.


Altez terdiam dan mendekat pada kedua ibu-ibu itu. "Wajah kalian mirip, apa kalian kakak adik?


"Iya Pak, kami kakak beradik dan menjadi janda di hari yang sama. Suami kami meninggal dalam kecelakaan kerja. Kasihani kami Pak, kami hanya membutuhkan uang untuk menyambung hidup anak-anak kami."


"Pak, saya mau keterangan dari mereka ini dibuktikan. Saya tidak mau ada sesuatu apapun itu bisa mencelakakan istri saya." Altez kembali duduk dengan jari jemarinya yang saling menggenggam. Ia terdiam.


Ini sebab Yeri tidak memenjarakan tetapi malah memberikan pekerjaan? Berarti selama pengusutan kasus, dia sebenarnya sudah mencari tahu tentang profokator dan dalang semuanya. Pikir Altez.


"Kami bisa membuktikannya Pak. Anda bisa mengantarkan kami ke kontrakan kami."


"Baik, Pak polisi mari kita cek langsung keterangan pelaku ini!" Altez berdiri dan segara menuju ke pintu keluar.

__ADS_1


"Baik Pak, mari," kata Pak polisi dengan tangannya yang mempersilahkan Altez untuk keluar.


Altez dan pengacara Yeri, juga ditemani oleh polisi, datang mengunjungi sebuah kontrakan kecil.


"Ibu!" Seru bocah cilik berlari menghampiri salah satu pelaku. Bocah cilik itu memeluk ibunya dengan sayang dan terlihat kerinduan setelah 3 hari masa penyidikan ibunya tertahan di kantor polisi.


"Sayang!" Wanita gemuk itu menangis sambil memeluk anaknya. "Mana Kakak?" Tanyanya pada si bocah yang masih berusia 3 tahun itu.


"Kakak? kakak atit, panas," Bocah kecil itu mengadu dengan bahasa yang sederhana. Kepolosannya membuat Altez menaruh iba.


Altez yang tadinya berapi-api kini mulai mereda dan padam. "Ini, pakai uang ini untuk mengobati anakmu dan belikan mereka makan. Jangan lupa dengan perjanjian kita besok." Altez memberikan sejumlah uang lembaran pink pada wanita gendut tersebut.


"Terima kasih banyak Bapak." Keduanya sambil menangis tergugu.


"Berterima kasihlah pada istriku. Dia yang telah mengajarkanku bersikap baik begini. Jangan hambur-hamburkan uang itu. Manfaatkan dengan baik." Altez mengusap lembut pucuk kepala bocah cilik yang juga menatapnya dengan tatapan naif.


Altez kembali pulang ke rumahnya setelah selesai dengan mengantarkan Yeri. Hari sudah malam, Altez merasa lapar tetapi semua uang cash miliknya telah ia berikan pada dua ibu-ibu tadi. Ia menghubungi Yeri tapi tak mendapatkan jawaban.


Altez yang berhenti di depan garasi di kagetkan dengan suara ribut-ribut dari dalam.


"Yeri, awas!" Terdengar suara Joana yang menjerit keras.


Altez seketika berlari.


"Ada apa?"

__ADS_1


__ADS_2