
"Ayah, sudahlah. Jangan terus bersikap keras seperti itu terhadap menantu kita. Kasihan kan?" ucap Buna Yusmi yang dengan sabarnya menegur sang suami yang sepanjang acara makan malam sama sekali tidak mengindahkan keberadaan Altez.
Ayah Ardi memilih untuk bungkam dan mengabaikan nasihat istrinya. Baginya memang apa yang sudah Altez lakukan adalah suatu hal yang tidak sepantasnya. Menantunya itu bisa dibilang tidak bisa menjadi imam yang baik untuk anak semata wayangnya.
"Ayah, sebentar lagi kita jadi kakek dan nenek. Ayolah Ayah, maafkan Altez ya?"
Geram karena sang istri tidak berhenti membujuknya, Ayah Ardi kemudian menjawabnya. "Buna, silahkan kalau Buna mau menyayangi ataupun memanjakan dia. Tapi jangan paksa Ayah untuk mempercayainya lagi."
"Ayah," Buna Yusmi hanya bisa mengusap dadanya menatap nanar suaminya.
***
"Yer, hari ini tidak usah ke mana-mana. Kamu di rumah saja, anti pengacaraku datang untuk mengurus pelimpahan perusahaan," ucap Altez yang seketika membuat Yeri terdiam.
Wanita itu tengah berkutat dengan tumpukan berkas yang Joana kirimkan hari ini. "Apalagi sih Za, tidak bisa kapan-kapan saja?"
"Tidak bisa sayang, semuanya haru cepat dilakukan sebelum perutmu semakin membesar. Kasihan kan anak kita kalau kecapean?" tandas Altez dengan mengusap perut rata sang istri.
"Za, pekerjaanku sedang menumpuk. aku harus membaca ini satu persatu sebelum menandatangani setiap proposal dari berbagai divisi," kata Yeri yang mengeluhkan banyaknya pekerjanya.
Altez mengulum senyumnya kemudian berlari kecil ke dapur dan kembali dengan membawakan air hangat di baskom. Ia dengan sabarnya mencelupkan kaki Yeri lalu memijit tengkuk sang istri. Ia begitu sigap melakukannya.
"Kamu aneh, ada apa?" celetuk Yeri menatap heran sang suami yang terlihat begitu senang.
"Aneh? Apa bersikap baik pada istri sendiri itu salah?" ucapnya sembari memijit tengkuk Yeri perlahan.
"Ini aneh Za, kamu biasa yang mina di layani tapi sekarang kenapa begini?"
__ADS_1
"Sudah jangan banyak bicara, sebaiknya cepat lakukan pekerjaanmu dan selesaikan. Lalu ikut aku," kata Altez dengan akhiran mencuri ciuman di pipi Yeri.
"Tuh, 'kan. Pasti ada apa-apa ini," gumam Yeri menaruh curiga.
"Kamu tidak ingin membeli sesuatu atau apa gitu?" tanya Altez di sela-sela memijit sang istri.
"Tidak," jawab Yeri singkat. "Za, kakiku sudah bisa di angkat belum? Aku haus," ucapya yang memang kehausan sebab air minu di gelasnya memang sudah habis.
"Tidak usah ke mana-mana, biar aku saja yang ambilkan," kata Altez seraya berlari menuju dapur untuk mengambilkan minum.
Beberapa detik kemudian ia kembali. "Ini!" Ia menyodorkannya penuh semangat. "Kamu mau apa lagi? Mau makan rujak atau apa? Atau sesuatu yang hangat?" tanyanya rentetan tanpa jeda.
"Za, kamu kenapa?" tanya Yeri dengan menutup berkas terakhir yang selesai ia tanda tangani.
"Oh, sudah selesai? Pas sekali satu jam lagi pengacaraku, notaris dan beberapa direktur akan datang," kata Altez dengan bersemangat.
"Za, apa sebaiknya kita urus itu besok saja kita ke kantor. Tidak usah merepotkan orang lain sampai seperti itu, itu urusan besar Za," tolak Yeri dengan alasan yang logis.
"Za, tidak bisa 'kah kamu membuktikannya dengan cara lain selain melimpahkan kepemilikan perusahaan?"
Pertanyaan Yeri cukup membuat Altez berhenti memijat kakinya. Lelaki jangkung itu menatap sendu sang istri dengan penuh tanya dan asa. Ia tak tahu lagi harus dengan apa membuktikan ketulusannya.
"Sayang, lalu aku harus bagaimana? Aku tulus ingin memperbaiki semuanya. Aku serius, apa jika hanya dengan kata-kata kamu akan percaya? Semua yang aku berikan padamu, kamu kembalikan. Bahkan sekarang ini aku numpang makan dan minum padamu," kata Altez dengan emosional.
'Iya, dia benar. Mengapa aku sangat susah percaya padanya meski dia sudah susah payah mencoba? Apa semua yang ku lakukan ini sama sekali tidak membuahkan hasil? Aku masih tidak percaya baik pada diriku sendiri, maupun orang lain?' batin Yeri.
"Kemarilah!" Yeri menggerakkan tangannya dan membukanya lebar-lebar. Ia ingin Altez masuk ke dalam pelukannya. Ia ingin memastikan suatu hal.
__ADS_1
"Apa?" tanya Altez yang masih terbawa emosi.
"Kemarilah, aku ingin memelukmu untuk memastikan suatu hal Za," ujarnya jujur.
Altez mendekat dan mereka berpelukan erat. 'Aku merasa nyaman saat dia memelukku begini. Apa itu berarti aku juga membalas rasanya?' batin Yeri meraba perasaannya.
"Ada apa Sayang? Kenapa tiba-tiba sekali ingin memelukku?" Altez masih tidak mengerti mengapa Yeri ingin memeluknya saat perdebatan itu terjadi.
"Berikan saja nanti apa yang kamu miliki untuk anak kita. Aku, mempunyai uang yang cukup untuk hidupku." kata Yeri setelah mengetahui apa isi hatinya yang sebenarnya terhadap Altez.
"Yeri, itu sama saja dengan kamu menolakku!" sergah Altez yang dengan segera melerai pelukan mereka. "Kamu bilang ingin memberikan kesempatan, tapi kamu baru saja bilang kalau kamu punya uang untuk dirimu sendiri." Altez menghela nafasnya, ia kembali meledak-ledak.
"Yer, aku ini laki-laki. Aku ingin wanitaku bergantung padaku, menerima semua pemberianku. Mengeluh padaku dan aku yang datang sebagai pahlawannya. Lalu kamu? Kamu selalu berdiri di atas kakimu sendiri tanpa mau berkeluh-kesah atupun merepotkan ku. Lalu aku harus mulai dari mana semua ini?" cerocos Altez yang seketika dibungkam Yeri dengan sebuah kecupan singkat di bibir.
Matanya membulat sempurna saat Yeri menciumnya. Seulas senyuman Yeri berikan pada lelaki yang mematung di hadapannya. Sesuatu hal yang telah ia pastikan kini sudah ditemukan jawabannya.
"Kita mulai sama-sama dan perlahan. Mulai besok kamu yang akan memenuhi segala kebutuhanku dan anak kita."
"Tidak! Mulai sekarang saja, kita awali dengan memeriksakan kandunganmu ke dokter ya? Aku ingin melihat bagaimana wajahnya," kata Altez begitu senangnya.
"Astaga! Mana bisa Za, belum berbentuk dia, kemarin saja masih sebesar biji kedelai," ucap Yeri dengan terkekeh mendengar celotehan naif suaminya.
"Oke, tidak apa-apa belum bisa melihat wajahnya. Tapi kita tetap memeriksakannya."
Tidak dapat ditolak atau memang karena Yeri yang memberikan kesempatan. Keduanya kini berada di dalam mobil dan hendak menuju ke rumah sakit. Terpancar senyum kebahagiaan dari bibir Altez.
Sementara Yeri, ia hanya bisa mengulum senyumnya sembari mengusap perutnya yang rata.
__ADS_1
'Dia sudah benar-benar berubah. Nak, lihat Papa-mu, dia begitu senang dengan kehadiranmu. Mama berharap semuanya akan tetap seperti ini sampai kita menua bersama.' batin Yeri yang mulai menggantungkan asanya.
'Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikanku kesempatan, Engkau telah memperbaiki diriku dengan menurunkan bidadari seperti istriku.' batin Altez dengan sesekali ia mengecup tangan Yeri yang di genggamnya.