
...~~~...
"Hhhh, akhirnya..." Yania merenggangkan kedua tangannya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Senyum ceria terpatri di sudut bibirnya menyiratkan hatinya yang penuh kelegaan.
Altez yang baru saja sampai hanya menurunkan koper mereka dan melaju pergi setelahnya tanpa banyak bicara pada Yania. Yania yang melihat itu hanya diam saja dan tak ingin banyak bertanya.
Percuma juga dan apa pentingnya baginya? Altez tetaplah Altez yang menyebalkan. Yania mulai memasuki rumah barunya seorang diri dan mengamati seluruh ruangan.
Dia begitu senang, Ayahnya memberikan hadiah sesuai dengan apa yang dia harapkan. Hunian sederhana dengan kolam ikan tepat berada di samping kamarnya di bawah jendela. Desain kamarnya terbilang unik.
Karena Yania menunykai bunga dan ikan, Ayahnya sengaja membuatkan taman dan kolam ikan yang terhubung dengan kamar utama. Langsung tertembok pagar dan memiliki teras dengan gazebo kayu yang sangat familiar dengan suasana pedesaan.
"Kya! bagus sekali...! Dari luar sederhana, tapi di dalamnya. Ah .. ini kamarku, hanya kamarku!" Yania tersenyum senang melihat taman dan ikan mas koi di dalam kolam kecil tersebut. Kamar utama yang unik dengan gemercik suara air dari kolam mini.
Yania menata bajunya di lemari dan selesai dengan itu, dia menuju ke dapur. Rupanya kulkas juga sudah terisi oleh bahan makanan. Ayah dan ibunya begitu memperhatikan setiap detail dari kebutuhan anak semata wayangnya.
Di belakang rumah juga memiliki ruangan untuk menjemur baju. Ya, rumah yang sederhana tapi lengkap fasilitasnya. Rumah yang hanya memiliki satu kamar utama dan satu kamar tamu, dapur, garasi kecil untuk satu mobil, dan juga sebuah ruang tamu. Rumah minimalis itu sudah berpagar di sekelilingnya.
Ayahnya tau, Semenjak hari dimana anaknya di bully oleh Altez. Yania menjadi kehilangan rasa percaya terhadap orang lain apalagi orang baru. Yania memiliki gangguan untuk beradaptasi dan dia lebih suka menyendiri.
Dan untuk mengatasi hal itu Ayah Ardi sengaja membuatkan rumah dengan pagar tembok di sekelilingnya mengingat sang anak sangat menjaga privasi.
"Ahh, senangnya hidupku tanpa ada Altez." Yania berbaring di depan televisi yang menyala, dia menikmati semilir angin dari jendela yang terbuka. Dia begitu nyaman dengan kesendiriannya bahkan tak terbersit pertanyaan lagi tentang dimana suaminya kini?
Yania terlelap begitu nyaman di atas matraz yang memang ada di depan televisi.
...~~~~...
Altez dia tak pulang kerumah barunya dan lebih memilih langsung menuju ke apartemen Nella. Altez sudah menginap disana selama 3 hari. Kebetulan Nella sedang kosong jadwal hingga bisa bersantai setiap hari bersama Altez.
"Ah, sayang. Berapa hari aku tidak menjamahmu?" Tanya Altez yang telah selesai menuntaskan sesuatu yang beberapa hari menyumbat jalan kerja otaknya.
"Hahaha, sudah seminggu honey kita tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu." Nella memeluk posesif Altez seakan tak membiarkan seekor nyamuk pun hinggap di kulit sang kekasih.
Ponsel Altez berdering di sela-sela kebersamaannya dengan Nella. Terlihat hanya nomor saja dan tentu saja Nella menjadi penasaran dan menanyakannya.
"Siapa itu honey?" Tanya Nella sambil melongok memperhatikan layar ponsel Altez.
"Mungkin klien baru, namanya saja belum tersimpan di kontak." Kata Altez berdalih.
Satu hal yang perlu di buka disini, Altez itu memiliki daya ingat yang kuat terkhusus untuk mengingat denah dan nomor. Nella yang selama ini merasa hanya dia satu-satunya, yang sesungguhnya adalah dia itu merupakan salah satunya.
Pacar Altez bukan hanya Nella seorang. Tapi berhubung dan terhubung Nella merupakan ratu iklan, maka Nella lah yang paling terpandang. Sementara yang lainnya hanya memiliki nama kecil dan bahkan tak terendus dari peredaran.
"Oh, angkat saja sayang. Siapa tau penting." Kata Nella.
__ADS_1
Altez melihat jam di ponselnya, ini sudah 3 hari dia mangkir dari kewajibanya mengisi absen di kantor. Dan nomor yang menghubungi barusan adalah nomor dari salah satu pacarnya yang memiliki restoran tak jauh dari kantornya.
"Hemhh, baiklah... kalau kamu yang minta. Sebentar aku angkat dulu ya." Ucap Altez kemudian mengecup kening Nella dan keluar meninggalkan kamar.
Altez sibuk berbicara dan membuat janji lain, Tapi Nella masih sangat percaya bila Altez adalah satu-satunya miliknya.
Nella, asal kamu tahu ya.. Altez itu milik bersama, bahkan yang punya hak resmi dan istimewa saja tak begitu percaya dan berharap pada Altez.
Altez kembali pada Nella dan memeluknya dengan sangat erat. Altez juga menghujani wajah Nella dengan ciuman. Ouh bibir Altez yang manis sangat lihai dalam merayu dan meluluhkan hati perempuan. Tez itu bibir apa Madu?
"Sayang, aku disini sudah lumayan lama kan?" Ucap Altez dengan tangan nakalnya yang bermain di sekitaran paha Nella.
"Iya, lalu?"
"Telfon tadi Rupanya dari sekretaris Mama. Dia menegurku karena berhari-hari absen dan mangkir dari rapat. Jadi hari ini aku harus datang sebelum Mama datang." Ucapnya berbohong.
"Oh, ya sudah berangkatlah. Aku juga bingung memikirkan cara untuk merayu Mama dia masih marah soal aku yang menggugurkan kandungan. Kamu tahu kan, saat itu aku sedang ada kontrak?"
"Iya, tapi aku kecewa denganmu juga. Kenapa kamu lebih memilih kontrak daripada anak kita." Tutur Altez sok sedih, padahal dia juga tak memikirkan hal tersebut secuil pun. Malah sangat dia harapkan dimana Nella mau menggugurkan kandungan tanpa dia harus memintanya.
Dia hanya perlu berpura-pura memasang wajah sedih dan kecewa di hadapan Nella, agar Nella merasa bersalah dan siap menebusnya dengan sesuatu yang lain. Sungguh Altez memiliki kelicikan di atas rata-rata.
...~~~~...
Altez pulang ke kediaman barunya dan berencana untuk mengambil beberapa baju ganti untuk di bawanya ke tempat pacarnya yang lain. Tapi dia dikejutkan dengan sesuatu yang masih berada di depan pintu rumahnya.
"Koperku kan? ini koperku?" Altez tertegun mengamati benda berwarna hitam yang masih berada di samping pintu depan rumah.
"Yaya!" Teriaknya di depan pintu rumahnya.
Yania sebagai istri sama sekali tidak mengurusi barang-barang Altez. Dia dengan sengaja membiarkannya kehujanan dan kepanasan di luar rumah dan tak perduli jika mungkin akan di ambil orang.
Altez masuk dengan kobaran amarah. Dia langsung menuju ke kamar utama, tapi sialnya kamar itu terkunci rapat. Altez menggedor-gedor pintu kamar tersebut.
"Yaya! Buka!" Serunya meluap-luap.
"Aku tahu kamu di dalam, Buka!" Altez berteriak seperti orang gila yang sedang mengamuk.
Tetap tak ada jawaban, dia mengotak-atik ponselnya dan berniat untuk menghubungi Yania. "Oh, ****!! nomornya saja aku tidak punya!" Altez sungguh di buat frustrasi sekarang.
Tiba-tiba saja perutnya menyuarakan aksi demo. Cacing cacing yang ada di perutnya mulai menggelar orkestra besar-besaran.
"Ah, aku lapar." Gumamnya kesal.
Altez berjalan menyusuri setiap ruangan lalu membuka tudung saji. Matanya berbinar kala melihat sajian yang ada di atas meja. "Ah, lumayan untuk mengganjal. Banyak bermain dengan Nella sampai-sampai aku lupa makan siang." Gumamnya.
__ADS_1
Satu suap Pertama. " Ah, lumayan daripada tidak."
Suapan kedua. "Boleh juga." Altez menganggukkan kepalanya.
Suapan ketiga. " Enak nih, habiskan tidak apa-apa kali ya." Ucapnya sambil terus memakan masakan Yania.
satu piring nasi lengkap dengan lauknya berupa sambel goreng ati ampela dengan tumis buncis daging sapi juga jangan lupakan sepiring bergedel kentang yang juga habis di lahapnya.
"Alhamdulillah, kenyang." Katanya.
"Lumayan juga masakan si jelek." Ucapnya sambil berdiri meninggalkan meja dan kemudian menghampiri kopernya yang teronggok di raung tamu.
Setelah kenyang, amarahnya mulai menurun. Dia mulai berfikir untuk mencari kamar lain. Altez memutuskan untuk masuk kedalam kamar tamu yang bila di bandingkan dengan kamar utama ukurannya sangat jauh berbeda.
"Ah, disini saja tidak apa-apa. Sementara, hanya untuk sekedar menaruh koper. Sekalian aku mengambil sebagian barang-barang ku dari rumah Mama." Ucap Altez bermonolog.
Altez pergi begitu saja menuju ke kediaman pacarnya yang lain lagi. Oh... sungguh buaya buntung! sana sini nikung!
Di sebuah kantor SMA swasta.
"Bu Yania, mari makan." Ajak pak Reza si guru olahraga dan Bu Salma rekan kerja Yania.
"Em... tidak Pak Bu, saya akan menyelesaikan ini dulu. Kebetulan saya sedang diet dan akan makan nanti saja kalau sudah pulang." Ucap Yania sambil tersenyum ramah.
"Oh, ya sudah kita duluan ya Bu." Uajr Bu Salma.
Yania mengangguk sambil tersenyum.
"Diet Ya?" Tanya Wiwin sahabat karib Yania.
"Iyalah win, kamu tau kan gimana perjuanganku menuju langsing? Masa iya sekarang, sudah siap tempur mau gendut lagi. Bisa di hina mati-matian sama Altez nanti.
"Eh, gimana setelah menikah, Ada getaran-getaran apa gitu nggak?" Tanya Wiwin sambil terus mengunyah cemilannya.
"Getaran? Getaran magnitudo kali ah. Gila aja sih kalau sampe aku jatuh cinta sama Dia. Dih amit-amit jabang bayi." Ucap Yania sambil mengetuk-ngetuk keningnya lalu berpindah mengetuk meja untuk membuang si*lnya.
"Halah, jangan gitu. Kita kan ga pernah tau Ya. Siapa tau Dari musuh jadi I lop yuh!" Ujar Wiwin dengan mentoel dagu Yania.
" Hoek! amit-amit deh gue!" Ulangnya Pagi sambil bergidik ngeri.
"Waduh, Belum belum udah Hoek Hoek aja. Kamu hamil?" Celetuk Wiwin asal.
"Auh sakit Ya...!" Wiwin mengaduh kesakitan karena Yania mencubit gemas pipinya.
"Jangan Sampek deh Win. Kamu tahu dianitu jadi playboy sekarang. Ga tau lagi pacarnya ada berapa, yang jelas aku ga mau jadi korbannya."
__ADS_1
"Tapi kalau kamu jadi pawangnya dan jadi yang terakhir buat dia gimana?" Celetuk Wiwin.
Aku, jadi PAWANG CEO PLAYBOY? Yania terdiam dalam pemikirannya.