PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
20.


__ADS_3

...🐣🐣🐣...


"Senang di bacakan puisi?" Tanya Altez dengan wajah masamnya.


"Apasih?" Yania mendengus dan menyembunyikan senyuman di balik laptopnya. Dia tengah tersipu-sipu saat ini.


Tiba tiba saja di kepalanya kembali teringat saat dia yang tidak sengaja memesan lelaki dan ternyata adalah Vito, murid terbaik di sekolahnya.


"Ingat, kamu sudah menikah dan sudah punya suami." Celetuk Altez tiba tiba dan menatap serius Yania.


Yania menunduk dan menuliskan sesuatu di sebuah kertas kecil.


Bicarakan nanti setelah kelasku selesai. Tulisnya yang kemudian di kertas kecil tersebut.


Altez mencibikkan bibirnya dan mengangkat kedua alisnya lalu pergi meninggalkan Yania. Dari kejadian itu, Mama Alda meminta Altez untuk tetap di rumah sampai lukanya sembuh. Beruntunglah Dia sebab Ayah dan Buna mertuanya sedang berada di luar negri untuk berlibur. Itu artinya, tidak ada pertanyaan panjang yang akan hinggap padanya.


"Baik, kelas hari ini selesai. Sampai jumpa!" Yania melambaikan tangannya dan tersenyum menatap layar laptopnya.


Para siswa dan siswi pun membalas lambaian tangannya tak terkecuali Vito yang melambai dengan cara yang berbeda.


"Ada apa?" Tanya Yania yang telah selesai dari mengajar via online.


Yania duduk di kursi yang berada di taman belakang kamarnya juga dengan Altez yang menatap ke arahnya.


"Sebulan ini aku hanya di rumah." Ucapnya dengan menatap datar istrinya yang masih menunduk membaca sebuah buku.


Tak penting juga sebenarnya bagi Yania dia mau ada di rumah atau di goa. Sebab ada atau tidaknya Altez tak banyak berpengaruh dalam hidup Yania. "Terus..., mau diapain?"


"Ya apa kek, orang suami di rumah juga Kamunya cuek banget gitu!" Ujar Altez kesal.


"Masalahnya apa kalau aku cuekin kamu? Bukannya ini sudah perjanjian kamu kan? Tidak boleh mencampuri urusan satu sama lainnya." Kata Yania.


"Sudah tidak berlaku, sudah ku hapuskan!" Kata Altez yang menatap nyalang Yania.


"Dasar plin plan!" Kata Yania yang menatapnya tajam.


"Yaya, aku minta dari sekarang, kita perbaiki lagi hubungan kita." Kata Altez.


Ada apa ini? Dia begitu berambisi untuk berbaikan setelah melihat tampilan ku yang sesungguhnya. Coba saja kalau aku jelek seperti kemarin. Sudah pasti Dia akan cepat-cepat meminta cerai. Em... tapi dia Dia juga pernah bilang kan? apapun yang terjadi, Dia tak akan menceraikanku. Apa itu benar dari dalam hatinya?


"Mas Eza, apa kamu tahu?" Yania meletakkan bukunya dan duduk dengan menyilangkan kakinya.


Yania menarik nafasnya sebelum berbicara panjang lebar. "Dulu, setelah kamu menghinaku, Aku terkena Avoidant personality disorder. Avoidant personality disorder adalah gangguan kepribadian di mana penderitanya menghindari interaksi sosial karena merasa dirinya lebih rendah dari orang lain. Ia juga memiliki ketakutan yang sangat besar terhadap penolakan orang lain."

__ADS_1


"Aku, menyembunyikan diriku dari orang lain. Aku menghindari semua kegiatan sosial termasuk bersekolah. Aku takut bertemu orang baru karena takut mereka akan menolakku dan mengejekku seperti kerbau." Kata Yania yang kemudian menarik laci dari lemari kecil di sebelah tempat tidurnya.


BRUG!!


Yania meletakkan botol botol obat dan juga hasil dari setiap tes psikologi yang di jalaninya. "Lihat ini, selama bertahun-tahun aku harus mengkonsumsi ini. Ini semua gara-gara kamu!!" Yania mulai terbawa emosi dan memaki Altez.


"Aku tidak punya teman, aku tidak punya pengalaman apapun bersama orang lain. Dan aku kini mencintai kesendirian! Tak perduli gagal, menderita, atau mati sekalipun aku tidak membutuhkan orang lain!" Yania menangis di tepi ranjangnya.


"Gara-gara kamu! Aku tidak mempercayai apapun termasuk suatu hubungan ataupun ikatan. Bagiku semuanya palsu! sebab yang benar-benar mencintai diriku hanyalah diriku saja, bukan orang lain!" Yania memekik keras dengan menunjuk Altez.


"Yeri, aku mohon maafkan Aku! sumpah aku tidak tahu bila karena kesalahan ku waktu itu akan membuatmu jadi begini." Kata Altez.


Memang terkadang bagi kita itu hanyalah ucapan remeh dan tidak menimbulkan efek apapun. Tapi bagi orang lain? Benar pepatah mengatakan, Mulutmu adalah harimaumu.


Dan sekarang Altez ada dalam situasi ini.


"Maafkan Aku." Ucap Altez yang memohon dengan sangat sampai mengatupkan kedua tangannya dan berlutut di hadapan Yania.


"Jangan dekati aku, Menjauhlah!" Yania mendorong bahu Altez hingga Altez tersungkur.


Yania hendak meninggalkan kamarnya tapi Altez dengan cepatnya berdiri dan mengejarnya tapi sayangnya, lagi-lagi Yania mendorongnya kuat hingga tanpa sengaja kepala Altez yang terluka terbentur sudut pintu.


DUG!!


"Aduh!" Rintih Altez yang kemudian memegangi kepalanya yang kembali meneteskan darah.


"Ma... maaf Mas." Ucapnya yang menjadi panik dan segera berlari untuk mengambil kotak p3k.


Altez masih berdiri dan menutup luka di kepalanya dengan telapak tangannya. Yania terlihat begitu panik dan ketakutan saat melihat Altez terluka karenanya. Tangannya sampai bergetar dan air matanya tak berhenti menetes.


"Sini aku obatin Mas." Kata Yania dengan tangannya yang bergetar.


"Tidak usah sebelum kamu mau maafin aku Ya." Kata Altez. "Biarkan saja aku mati kehabisan darah." Hardiknya.


Namanya luka di kepala, terkadang lukanya kecil saja darah yang mengucur sudah luar biasa banyaknya. Sepertinya hal ini di manfaatkan oleh Altez untuk mendapatkan maaf dari Yania.


"I... iya aku maafin." Kata Yania.


Aku hanya tidak mau saja menjadi terduga dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga. Aku tidak bisa menanggung segala resiko terburuknya. Batinnya berkelumit.


"Sungguh?" Tanya Altez memastikan.


"Iya, sudah sini aku obatin." Yania menjadi tidak sabaran dan segera membersihkan darah dari kepala Altez dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


"Memang tadinya aku mau minta tolong buat gantiin perban, tidak tahunya harus dengan perjuangan dulu baru bisa di gantiin perban sama istri sendiri." Gumam Altez yang teramat jelas di telinga Yania.


NYES!


Hati Yania terenyuh saat Altez menyebutnya sebagai istri dan secara tidak langsung mengakuinya sebagai istri.


Ah, hampir saja aku meleleh. Tapi, jangan tergoda. Apa kamu lupa Yania? Dia ini adalah buaya Rawa yang sudah terakreditasi. Dia sudah memiliki lisensi per-buayaan. Pikir Ayana.


Belum selesai dengan mengganti perban Altez, Pintu rumah mereka sudah diketuk dari luar. Yania segera berdiri dan membukakan pintunya.


"Ya, siapa?" Tanya Yania pada awalnya hingga akhirnya lidahnya menjadi Kelu saat seseorang yang tak terduga datang. untuk bertamu.


"Buna?" Yania terperanjat dan sangat terkejut saat Sang ibunda datang berkunjung.


"Mana suamimu yang peselingkuh itu?"


Buna Yusmi datang dan segera pulang dari liburannya hanya semata-mata untuk melabrak menantunya.


PLAK!!


Satu tamparan mendarat di pipi Altez. Terasa panas dan nyeri saat tangan Buna menampar pipinya.


"Buna!" Yania memekik dan menghalangi dengan berdiri di antara Buna dan Altez.


"Kenapa Buna menamparnya? Dia salah apa Buna?" Tanya Yania yang menghalangi jarak pandang Buna dan Altez.


Buna tetap berusaha untuk meraih Altez dan ingin mencakar atau menjambaknya. "Biarkan Buna menghajar anak itu. Bisa bisanya bikin malu keluarga kita! Semua, semua TV di penuhi oleh gosip murahan tentang suamimu!"


"Semua mulut membicarakannya. Semua teman Buna sedang bergunjing sekarang." Kata Buna.


"Buna Malu!" Buna Yusmi mengusap wajahnya kasar.


"Yaya! beresi bajumu. Kita pulang sekarang! Ceraikan saja Dia! Tidak ada untungnya keluarga kita menjalin ikatan dengan Dia ini. Ternyata dia sama dengan Ayahnya."Ucap Buna Yusmi berapi-api.


"Buna, Buna boleh menghina saya. Tapi jangan Almarhum Ayah saya, Sudah cukup Ayah saya meninggal karena kesalahan saya!" Kata Altez membela mendiang sang Ayah.


"Gara-gara kamu katamu? Ayahmu meninggal bersama selingkuhannya yang merupakan sekretarisnya dan mereka lari dari kejaran suami si sekertaris yang hendak membunuhnya dan akhirnya mereka terlibat kecelakaan."


"Ayahmu mati bukan gara-gara kamu tapi gara-gara berselingkuh! aslakan kamu tahu itu. Dan sekarang, kamu juga gemar berselingkuh kan? Jadi ini sudah menurun dan mendarah daging. Tadinya aku pikir kamu akan bersikap baik dan setia seperti Mamamu. Ternyata Aku salah." Kata Buna yang kemudian menatap Yania.


"Ayo kita pergi! Biar pengacara yang mengurus perceraian kalian!" Buna Yusmi menarik tangan Yania.


Altez yang masih tercengang tak tinggal diam, Dia juga ikut menarik tangan Yania.

__ADS_1


"Anda tidak lebih berhak daripada saya. Saya berhak sepenuhnya secara agama dan perdata pada istri saya. Dan saya, sampai mati pun, tidak akan pernah menceraikan Dia! Hanya maut yang bisa memisahkan kami." Kata Altez yang membuat Yania merinding mendengarnya.


Kini Yania berada pada Dua pilihan. Dia tak mau mengecewakan atau membuat sakit hati di antaranya. Yania sedang dilema besar. Memilih mematuhi Ibu yang telah melahirkannya ke dunia? Atau suaminya yang sudah berhak secara lahir dan batin padanya?


__ADS_2