
Berbulan-bulan telah terlewati, kini usia kandungan Yeri sudah menginjak 7 bulan dan bertepatan dengan itu maka digelar juga lah acara 7 bulanan. Terjadi sedikit perdebatan antara menantu dan mertua di ruang keluarga rumah Altez. Keduanya beradu argumen sengit ditemani dengan secangkir kopi dan bidak catur.
Brak!
Suara hentakan peluncur catur menggema di ruangan yang hening. "Pokoknya, Ayah mau acara 7 bulanan dan selapanan nanti di rumah Ayah!" Ayah Ardi berbicara dengan sangat lugas dengan kedua tangannya yang melipat ke dada.
"Ayah, tapi Al juga sudah punya rumah. Rumah Al juga lebar Ayah, bisa lah untuk menampung sekitar 60 orang untuk acara itu," ucap Altez mengutarakan keinginannya.
Ayah Ardi mendengus. "Tidak! Kamu sudah mengambil anak Ayah, Jadi sekarang giliran Ayah mengambil alih anak kamu!"
Rupanya, lelaki yang sudah beruban ini masih menyimpan kekesalannya pada menantu satu-satunya di keluarga itu. Dia masih sangat kesal karena sekarang Yeri sudah sepenuhnya menjadi istri yang baik dan lebih banyak meluangkan waktu bersama suaminya daripada bersamanya. Ayah Ardi begitu ingin jika nanti cucunya lahir, harus berada dekat dengannya dan dengan pengawasannya.
"Ayah, tidak bisa begitu. Itu 'kan anak Al Ayah, dia tanggung jawab Al."
"Skak!" Ayah Ardi menghentakkan kudanya dan mengunci pergerakan raja milik Altez. "Tidak bisa! Sebagai menantu yang baik, kamu harus memenuhi keinginan mertuamu selama itu dalam hal kebaikan."
Yeri terkikik sambil berjalan dan memegangi perutnya. Ia menertawai kedua orang yang sedari tadi berdebat tanpa ujung. Mereka tidak sadar, jika saat mereka berdebat sedari tadi, Yeri menyimaknya dengan baik dan juga merekamnya dan membagikannya kepada Mama Alda.
"Sayang, coba bilang sama Ayah," rengek Altez meminta bantuan kepada Yeri.
Yeri semakin terkikik saat melihat ekspresi wajah suaminya yang kalah berdebat dan kini mencari perlindungan. Altez kehabisan kata-kata dalam melawan kemauan sang Ayah mertua. Ia tidak setuju, tetapi juga sama sekali tidak berani meninggikan suaranya. Sedari tadi ia selalu berbicara dengan nada rendahnya.
Yeri mengangguk sambil mencibikkan bibirnya. "Aku juga tidak keberatan kalau 7 bulanan diadakan di rumah Ayah. Tidak ada bedanya sayang, sama saja. Yang terpenting adalah acaranya berjalan dengan lancar," kata Yeri menenangkan sang suami.
"Tapi, Ra. Aku juga ingin melakukan sesuatu hal untuk anakku," kata Altez yang benar-benar tidak rela jika acara 7 bulan dilakukan di kediaman sang mertua.
__ADS_1
"Al, kamu itu masih banyak kesempatan untuk melakukan semuanya. Kamu masih bisa ikut menjaganya saat malam, mengganti popoknya dan masih banyak lagi. Seperti Ayah dulu yang selalu menjaga Yeri di malam hari agar Buna bisa tidur." Tanpa sadar, Ayah Ardi tersenyum saat mengenang masa lalu.
"Ayah, dulu sampai turun beberapa kilo karena menjaga Yeri yang suka begadang. Dan dia ini, selalu menangis kalau tidak ada orang lain di sampingnya." Ayah Ardi mengusap lembut surai Yeri dan sang anak pun segera memeluk dan menempatkan kepalanya di bahu snag Ayah.
"Terima kasih Ayah, sudah menjaga dan merawat Yeri sampai sebesar ini," ucap Yeri sambil tersenyum dan memeluk erat Ayah Ardi.
'Kamu beruntung Yeri, Ayah sangat menyayangimu. Tidak seperti aku, aku sama sekali tidak pernah mendengar kisah masa kecilku bersama Papaku. Untuk itu, aku ingin selalu dekat dengan anak-anakku. Aku tidak ingin seperti Ayahku yang menyia-nyiakan anaknya.' batin Altez.
"Pokoknya 7 bulanan besok biarkan Ayah yang mengadakan acaranya. Tidak ada keberatan, tidak ada penolakan. Dan nanti saat lahiran, sebulan pertama kalian harus tinggal dengan Ayah." Ayah Ardi kemudian mengecup pucuk kepala Yeri.
Selesai dengan kunjungannya, Ayah Ardi kemudian berpamitan dan meninggalkan kediaman menantunya. "Ayah pulang dulu," ucapnya sembari mencium pucuk kepala Yeri.
"Kamu, anak nakal. Jaga anakku," ucapnya dengan menunjuk Altez menggunakan dagunya.
"Iya Ayah," jawab Altez kemudian mencium punggung tangan sang mertua.
"Daddy kenapa?" tanya Yeri dengan menirukan suara anak kecil dan tangannya yang bergerak menempatkan tangan Altez di atas perutnya yang buncit.
Altez terkesiap dan mengusir lamunannya. "Oh, tidak apa-apa sayang. Masuk yuk! Udara malam tidak bagus buat kamu sayang," ujarnya yang kemudian menggiring sang istri untuk masuk.
Yeri bisa merasakan perubahan sikap suaminya yang menjadi pendiam. Ada apa, apa Altez benar-benar tidak suka akan hasil pembicaraan mereka tadi? Apa dia benar-benar menentang kemauan Ayah mertuanya?
Yeri tengah mengganti bajunya dan bersiap untuk tidur, sedangkan Altez seperti biasanya dia yang selalu membuatkan susu hamil untuk sang istri. Perhatian dan cara Altez memanjakan Yeri kini sungguh membuat wanita yang berbadan dua itu yakin akan niat sang suami untuk menjadi lebih baik. Yeri pun menerimanya dengan baik dan membalasnya layaknya istri yang bersikap baik pada suaminya.
"Sayang, minum susunya," kata Altez yang meletakkan susu di atas meja.
__ADS_1
Yeri dengan segera menengguk habis susunya dan meraih tangan Altez yang tengah berdiri di sampingnya. Altez melamun dan entah melamunkan apa. Ia terlihat serius dan ingin menyampaikan sesuatu.
"Za, kamu kenapa, dari tadi melamun? Ada apa hum?"
Alih-alih menjawabnya, Altez malah menarik tangan Yeri dan membawanya menaiki ranjang. Mereka duduk bersila dan berhadapan. Altez tersenyum dan tangannya terulur mengusap surai Yeri.
"Sayang, sekarang aku tahu kepribadian baikmu itu terbentuk karena apa," ucap Altez tiba-tiba.
Yeri mengernyitkan dahinya, ia bingung mengapa ucapan suaminya mengarah pada sisi acak yang belum ia pahami ke mana tujuannya. "Apa maksudnya Za?"
"Sudah sangat lama aku mengamati setiap sikapmu, kebiasaanmu, kesederhanaanmu, dan semuanya." Altez menatap lurus sang istri dan mengusap jari jemarinya yang tengah ia genggam.
"Lalu?"
"Sekarang aku tahu bila itu semua adalah karena peranan Ayah dalam hidupmu. Ayah yang melindungimu, menjagamu, memberikan contoh dan mendidikmu untuk menjadi putri yang baik seperti ini." Altez berbicara dengan tatapan penuh kekaguman terhadap sang istri.
"Aku ingin jadi seperti Ayah sayang," imbuhnya lagi dengan senyuman yang mengembang di ujung kalimatnya.
"Benarkah?"
"Iya, aku ingin seperti dia yang sukses mendidik anaknya seperti kamu ini." Altez mengusap pipi Yeri.
"Sini," kata Yeri yang meminta sang suami untuk masuk ke dalam pelukannya. Ia sudah merentangkan kedua tangannya menunggu jatuhnya sang suami ke dalam pelukannya.
Tentu saja hati Altez menghangat mendapatkan perlakuan manis dari Yeri yang notabene adalah pribadi yang jarang mengumbar kemesraan.
__ADS_1
"Kamu mengidolakan Ayah?" tanya Yeri saat Altez memeluknya.