
...~•~...
...~•~...
Waktu sudah menunjukkan pukul 22:30 malam, Yeri seharusnya ia sudah pulang ke kediaman mereka. Tapi, ia sama sekali belum menampakkan batang hidungnya. Altez sudah cemas dan gelisah menunggunya. Bagaimana tidak, istrinya itu tak mau membalas pesan ataupun mengangkat panggilannya.
"Ayolah Yeri, kamu kemana?" Ia berharap harap cemas menanti kepulangan istrinya.
Sementara itu di tempat lain.
"Vito, malam ini kamu bisa temani saya?" Yeri bertanya pada Vito yang tengah membaca formulir pendaftarannya ke universitas yang ia tuju.
"Kak, ada apa? Kamu terlihat sedang banyak maslah." Vito memperhatikan mimik wajah Yeri.
Yeri mendesah dan ia meringkuk di bangku kemudi dengan melipat dan memeluk lututnya. "Tidak, hanya sedang banyak urusan pekerjaan saja, kilahnya.
Vito lalu mengangguk dan seseorang tiba tiba mengetuk kaca jendela mobil mereka.
Tok...!
Tok...!
Seorang wanita dengan celana kolornya dan satunya lagi dengan daster batiknya.
"Yeri! keluar!" Serunya memanggil Yeri.
"Ada apa?" Yeri menyahut dengan wajah malasnya dan juga terlihat lelah dan lesu.
Ia kemudian membuka kaca jendela dan tetap berada pada posisinya. Pasalnya setelah kunjungan Vito dan meeting bersama Bisma, Yeri tak mengijinkan Vito untuk pulang. Ia seolah sedang butuh teman tapi enggan untuk mengatakan.
"Kenapa?" Tanyanya lagi mengulang pertanyaan yang ia tujukan pada Joana.
"Ada apa, ada apa?" Joana menggerutu. "Ayo masuk kedalam atau ku seret kamu?" Ia menghardik Yeri.
"Iya kak, sana masuk lah dan aku akan pulang, kakak terlihat lelah." Kata Vito.
"Yer, ayolah masuk, kita perlu bicara." Silvi berbicara dengan tenang dan membujuk Yeri.
__ADS_1
"Hhhh...! harus ya, kalian memaksaku seperti ini?" Yeri mendesah pasrah.
"Ah, kelamaan!" Cetus Joana tidak sabaran. Ia lalu menggendong Yeri secara paksa.
"Ya! lepaskan aku!" Yeri meronta ingin turun tapi Joana malah menggendongnya seperti pengantin baru.
"Jangan banyak bergerak tau ku jatuhkan kamu!" Joana mengancamnya.
Vito ikut turun dan hendak mencari taksi untuk pulang. Tapi, langkahnya terhenti kala Yeri berseru memanggil namanya. "Vito! jangan pulang!" Serunya tanpa tau malu.
"Vito!, kamu pulang saja! kami ingin berunding dulu bertiga!" Joana menimpali dengan mata yang memicing menatap tajam Yeri. "Apa apaan mau suruh dia menginap, Kamu sedang ada hal yang harus dibicarakan dengan kami. Urgent!" Imbuhnya dengan mata melotot pada Yeri.
"Eung...," Yeri mengkerut dan hanya bisa menurut. Bagaimanapun ia akan kalah tenaga dengan Joana. Secara, Joana adalah wanita tangguh.
Mereka berjalan beriringan memasuki flat milik Yeri. Joana baru meletakkan Yeri ketika mereka sampai di flat yang Yeri huni.
"Jelaskan, apa yang sebenarnya sedang terjadi." Tutur Silvi yang mengambil tempat di samping Yeri.
"Ini minum!" Joana memberikan tablet kunyah pada Yeri. "Aku tau kamu sedang sakit perut karena magh mu kambuh kan? Kamu kalau tidak sedang stres banyak pikiran tidak akan makan makanan pedas seperti tadi." Kata Joana menceramahi.
Joana sangat hapal pada kebiasaan kebiasaan Yeri. Ia akan tahu bahkan jika hanya dengan melihat perubahan mimik wajah temannya itu.
"Katakan, ada apa? aku melihat gossip di lambe ndomble tadi. Apa benar yang mereka tulis jika Altez membuat ulah lagi?" Silvi bertanya.
Yeri mengangguk dengan mulut yang terus mengunyah tablet pereda asam lambung tersebut. "Iya, Nella hamil." Jawabnya terkesan acuh.
Meskipun terlihat acuh, akan tetapi matanya tak bisa membohongi. Ada kesedihan di dalamnya. Tangan Silvi terulur mengusap punggung Yeri lalu memeluknya.
"Apa? jadi suamimu menghamili selingkuhannya?" Joana memekik "Lalu apa tindakanmu selanjutnya, apa kalian akan bercerai?"
"Iya, aku akan menceraikannya. Aku tak suka berbagi dan berebut." Ucapnya sendu dengan mata yang berkaca-kaca.
Silvi yang paham akan situasi dan keadaan Yeri lalu memeluknya erat. Ia ingin menularkan ketenangan dan memberikan rasa nyaman pada Yeri. "Menangis lah jika ingin menangis. Aku paham bagaimana perasaanmu saat ini."
"Aku tidak mencintainya, tapi mengapa kejadian ini membuatku merasakan sakit?" Gumam Yeri dalam siakannya.
"Dimana dia sekarang? biar kuberi dia pelajaran!" Joana bersungut-sungut mengatakannya ia geram dengan sikap Altez.
"Jangan! ini tidak akan selesai dengan kekerasan. Biar aku menyelesaikan Maslah yang ku buat sendiri." Kata Yeri.
__ADS_1
Silvi ikut menitikkan air matanya. "Seharusnya sebentar lagi kamu sudah sembuh, tapi mengapa justru terluka lagi?" Gumamnya merasa iba dengan masalah yang menimpa temannya.
Yeri menggeleng perlahan dengan wajah yang basah oleh air mata.
Seperti inikah cara takdir bekerja? mengombang ambingkan manusia untuk menguji katahanan hatinya.
"Aku menyesal karena menyerahkan keperawananku padanya. Seharusnya kami tidak melakukannya."
"Mau bagaimana lagi, kau sudah melakukannya." Silvi menimpali.
Joana membelalakkan matanya, "Bagaimana bisa kamu menyesal sedangkan pada malam itu kalian melakukannya. Apa dia memperkosamu?"
"Tidak! tapi Buna yang memberikan obat perangsang pada kami. Saat itu, aku ingat bagaimana reaksi aneh itu kurasakan setelah aku meminum jus pemberian Buna." Tutur Teri menceritakan.
Joana meninju bantal sofa. "Aish! Buna mu itu pasti sangat menginginkan seorang cucu. Tapi... Argh! Aku ingin memukul sesuatu sekarang!" Joana bangkit lalu keluar meninggalkan apartemen Yeri. Entah kemana dia, yang jelas dia butuh sesuatu untuk meluapkan emosinya.
Sementara itu di tempat lain.
"Pak, apa istri saya sudah pulang?" Altez berlari mendekat pada satpam penjaga malam.
"Sudah dari sore tadi pak." Jawab si Udin tanpa berbasa basi.
"Apa bapak tau kemana terakhir kali istri saya pergi?" Tanya Altez yang hanya ingin mencari keberadaan sang istri.
Si Udin menggeleng. "Maaf pak, saya hanya satpam dan bukan suaminya. Kalau bapak sebagai suaminya saja tidak tahu, apalagi saya?"
Benar kata si Udin, jika suaminya saja sama sekali tidak tahu menahu, lalu apa ia Udin yang orang luar bisa tahu?
Pagi harinya.
Yeri memutuskan untuk pergi ke kantor setelah semalaman ia meluapkan kekesalannya. Satu yang ia sesali adalah kehilangan keperawanannya dan bukan soal dia yang nantinya akan hamil dan kehilangan suaminya.
Mobil Yeri memasuki area parkir yang berada di depan gedung. Ia sengaja memarkirkan kendaraannya di sana karena memang ia hanya akan sebentar mengecek suatu email yang masuk di kantornya.
Belum sempat kakinya memijak lantai area parkir, Altez sudah berlari dan menghambur memeluknya. Yeri hanya diam dan memejamkan matanya. Sebenarnya hatinya sudah bergemuruh marah. Ia ingin menghajar Altez sekarang, tapi...
Apakah kekerasan akan menyelesaikan semuanya? Tidak. Sebisa mungkin dia harus bisa menguasai emosinya dan bersikap tenang.
"Sayang aku minta maaf. Sumpah aku tidak menduga jika akan terjadi hal seperti ini. Aku mohon kembalilah." Altez memohon dengan tatapan sendunya. Tangannya memberikan jarak sepanjang tangan untuk mereka saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Tidak menduga? apa kamu selalu mabuk saat melakukan hal itu bersamanya?" Yeri bertanya tanpa ekspresi di wajahnya. Ia menatap dingin Aktez.