
...~•~ ...
...~•~ ...
BRAK!!!
Dentuman keras dari sebuah benturan antara kedua mobil terjadi di jalanan. Asap mengepul dari salah satu mobil yang berwarna hitam dengan kap mesin yang ringsek. Sementara sedan kuning terlempar dan mendarat cantik di bahu jalan.
"Jo!" Teriak Yeri saat mendapati benturan terjadi dan sebelum mobilnya menepi di bahu jalan.
"Bu, anda tidak apa apa?" Joana memastikan.
"Aku baik baik saja hanya saja kepalaku pusing." Jawab Yeri yang memegangi kepalanya. Melihat kondisi dari atasannya yang mengeluh pusing, Joana menjadi naik pitam.
Pasalnya wanita tomboi ini sudah mengemudi sesuai jalur dan tidak merasa menyalahi suatu rambu apapun. Joana turun lalu menyincing lengan bajunya hingga batas siku. Dia sangat marah dan siap beradu jotos dengan siapapun lawannya.
Tok...!!
Tok...!!
Joana mengetuk kaca si pengemudi mobil SUV yang hitam di belakangnya yang tadi menabraknya.
Altez membuka kaca jendela perlahan dengan meringis kesakitan, Dia yang menabrak dengan sengaja dan Dia juga yang kini kakinya pincang dan berdarah. Sementara Yeri masih meredam rasa pusing yang menyerang kepalanya.
"Mata bapak di mana?" Ketus Joana berbicara tanpa memastikan siapa lawan bicarnya.
Altez belum bisa menjawab pasalnya kaki dan kepalanya masih merasa sakit.
"Kalo ditanya itu jawab! bukannya diam aja!" Joana semakin berapi api sebab lawan bicaranya masih duduk dan menunduk merasakan sakit di kakinya.
Altez mendongak dang menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya. "Kenapa malah wanita?" Gumamnya tanpa menjawab pertanyaan Joana.
Sementara itu Joana sudah terkejut melihat siapa lawan bicaranya. Joana segera berlari dan kembali ke mobil sedan kuning milik sepupunya.
"Bu, Rupanya yang menabrak kita adalah suami Ibu. tuan Altez!" kata Joana melaporkan.
Belum selesai dengan sesi laporan, Altez sudah berjalan pincang menghampiri mobil sedan kuning nahas itu. "Keluar kalian! Yeri! Bisma!"
Yeri dan Jona melongo saat mendengar nama Bisma juga disebut. "dia juga panggil Bisma?" Desis Yeri.
__ADS_1
"Entahlah apa mereka saling kenal?" ucapnya lirih.
"Bisma! keluar kamu!" Ucapnya berteriak.
Yeri turun dan melihat sosok suaminya yang sudah berdiri di samping pintu mobil. "Kamu sengaja menabrak mobilku? Kamu mau aku mati?" Ucap Yeri bersungut-sungut.
"Aku mau memberi pelajaran pada istri yang pamitnya bekerja tapi malah pergi dengan lelaki lain." Kata Altez percaya diri.
"Pergi dengan lelaki lain?" Yeri berdecih, ia tak percaya dengan apa yang meluncur dari lisan Altez. "Eh! memangnya aku ini kamu yang suka selingkuh?"
"Lalu apa namanya kalau tidak selingkuh? kamu tadi di jemput dia kan? dan ini arahnya tidak ke kantormu." Altez membela dirinya.
Yeri tertawa-tawa kecut. "Hahahaha! lucunya..., lucunya." Yeri menggeleng tak percaya. "Kamu ini menilai orang lain sama denganmu? melakukan hal yang sering kamu lakukan begitu?" Yeri memijit keningnya yang berdenyut.
"Mana? mana ada Bisma di sini?" Yeri menodong Altez untuk menunjukkan bukti.
"Dia hanya meminjamkan mobilnya pada sekretarisku untuk menjemputku, dan kamu pikir kami akan berselingkuh begitu? Aku rasa yang seperti itu adalah kamu dengan kebiasaan mu dan bukan aku."
Altez kehabisan kata kata, tuduhannya sama sekali tidak terbukti dan dia terbakar emosi.
"Sekarang, aku minta kamu bertanggung jawab dan mengganti semua kerugian ini." kata Yeri yang kemudian membawa barang barangnya turun.
"Aku bersama pria lain itu tidak berduaan Za! aku membawa sekretarisku dan dia membawa timnya! bukan seperti kamu yang hanya berduaan di kamar ataupun hotel! tolonglah Za, bersikaplah dewasa. Jangan menilai semua orang akan mempunyai kelakuan yang sama denganmu!" Kata Yeri yang kemudian menghentikan taksi dan naik bersama dengan Joana.
"Urus semua ini aku tidak mau tahu! perbaiki atau ganti yang baru sebelum semua wartawan membuat berita yang tidak tidak." Kata Yeri berpesan sebelum pergi meninggalkan Altez.
"Si4l!!!" Altez menendang ban mobil Bisma dan membuatnya kembali meringis kesakitan.
Di dalam mobil yang Yeri tumpangi.
"Aku tidak mengira jika dia akan menjadi gila dan tidak terkontrol seperti itu." Yeri menggumam. "Auh...., leherku." Keluhnya sembari memijit lehernya yang merasakan sesuatu yang sedikit berbeda dari biasanya.
Jelas saja suamimu menjadi tidak terkontrol jika sudah menyangkut Bisma. Aku rasa dia cemburu kepadamu. Oh.., atau jangan jangan suamimu itu mulai mencintaimu? Ini kabar penting bagi Bisma, Dia harus tahu. Batin Joana memikirkan segala yang baru sja terjadi dengan segala kemungkinannya.
"Yeri! apa kabar?" Bisma menyambut tekannya dengan suka cita. "Loh, mana mobilku? tadi kalian pakai mobilku kan? kenapa sekarang pakai taksi?" Bisma terheran dan menggaruk kepalanya.
"Ada suatu masalah tadi di jalan, dan kami sudah membereskannya. Oh iya Bis, kamu suka warna apa?" Tanya Yeri tiba tiba menyinggung soal warna kesukaan.
Bisma melihat Joana sekilas seolah bertanya ada apa ini? kemana mobilku?
Dan joana hanya menggidikkan kedua bahunya tanpa bicara.
__ADS_1
"Merah bagus, aku suka." Jawabnya.
Yeri lalu mengetikkan sesuatu di layar ponselnya dan memberikannya pada Joana.
Ganti dengan model dan tipe yang sama, hanya saja carikan yang warna merah.
Joana yang membaca pesan tersebut hanya memasang ekspresi datar dan melihat Bisma sesaat tanpa tersenyum atau apapun.
"Sudah, kita bahas mengenai pembuatan iklan saja. Artisnya kamu mau pakai siapa? Aku minta jangan pakai Nella." Kata Yeri serius.
Bisma mengangguk. "Tidak akan, aku sudah mendengar rumornya, bahkan semua produk kecantikan banyak yang membatalkan kontrak dengan dia. Apa itu tidak terlalu kejam?"
"Kejam amna dengan dia yang membuatku malu?"
"Ah, iya itu urusan pribadimu. Sudah jangan di bahas, bisa kita lanjutkan diskusi mengenai lokasi pengambilan gambar saja?"
"Em.." Yeri mengangguk paham lalu mulai membahas soal urusan kerja.
Sementara itu di sebuah dealer mobil, Altez tengah mengurus dua perbaikan dari dua merek mobil yang berbeda. Secara otomatis itu menguras waktu san tenaganya. Inilah definisi menggali liang sendiri.
"Ah...!" Altez sampai di rumah tetapi yeri belum pulang. Dia telah berkeliling rumah dan memastikan. Sembari menunggu Yeri pulang Altez berinisiatif untuk membuat makan malam guna meraih hati sang istri agar tak marah lagi.
"Apa ya?" Dia bermonolog sambil menggigit sendok.
Beberapa saat kemudian Yeri pulang. hal pertma yang ia temui adalah spatula miliknya yang tergeletak di lantai dengan ujung yang bengkong.
Ingat tadi sewaktu Altez marah tanpa sebab dan membuang spatula? nah itulah dia bengkong pada ujungnya dan sayangnya spatula berbahan stainless steel itu merupakan spatula kesayangan Yeri hadiah pemberian dari mendiang neneknya.
"Yer, sudah pulang? Aku sudah mengurus mobilnya tadi, dan Maaf." ucap Altez dengan penyesalan di wajahnya.
"Maaf untuk itu? Lalu untuk ini?" Yeri mengangkat spatulanya ke udara dan menonjolkan sisi penyoknya.
"Aish...!" Altez memejamkn matanya dia tau firasatnya tak akan keliru. Yeri pasti akan marah lagi kali ini.
"Perbaiki ini tanpa cacat! jika tidak jangan harap aku akan memaafkanmu!"
"Yer! yeri!!" Altez mengekor tapi malah hantaman pintu yang ia peroleh.
BUM!!
"Jangan bicara padaku sebelum memperbaikinya!!"
__ADS_1