
...~•~...
...~•~...
Joana setia berdiri di samping Altez dan saat mereka memasuki ruangan kerja Yeri, Altez menjadi kian geram saat melihat Bisma.
Joana mengambil langkah cepat dengan memberikan wanti wanti sebagai antisipasi jika saja Altez mengamuk di sana.
"Pak, ingat ini di kantor. Saya harap anda bisa menjaga sikap dan juga nama baik istri anda." Ucap Joana saat melihat tangan Altez sudah mengepal pada kedua sisinya.
Altez hanya memberikan lirikan sebagai balasannya. Ia lalu berbalik badan dan meninggalkan ruangan Yeri. Joana masih setia mengekor di belakang Altez.
"Kamu kenapa mengikuti saya terus?" Ketus Altez bertanya dengan nada bicara yang jauh dari kata ramah.
"Ini perintah dari Bu Yeri Pak, untuk menemani anda selama beliau bertemu dengan audit." Jawab Joana dengan jujur.
Altez mengulum senyumnya. Ada rasa yang menggelitik di dada saat Joana berkata bahwa ia di utus untuk menemani suaminya. itu artinya Yeri peduli kepadanya kan?
"Apa benar? Kamu tidak bohong kan Jo?" Ulang Altez yang memastikan dengan mimik wajah senang.
"Maaf Pak, saya tidak terbiasa berbohong dalam menjalankan amanah." Tegas, lugas, padat dan jelas serta memberikan sentilan yang membuat Altez tersenyum kecut.
Ah, kalimat itu seolah ia senagaja menyinggungku yang suka sekali berbohong pada wanita. Em... tapi itu semua dulu, sekarang semenjak aku bersama Yeri aku sudah tidak pernah melakukannya. Altez menerawang kelakuannya akhir akhir ini.
"Oke, lalu saya harus menunggu istri saya dimana? Saya tidak mau berada satu ruangan dengan Bisma." Ucap Altez dengan congkaknya.
"Mari Bapak ikut saya." Joana memandunya dengan sopan.
Joana membawa Altez menuju ke tempat dimana Yeri sering menghabiskan waktu sendirian disaat sedang banyak tekanan. Ruangan itu mirip seperti taman kecil dimana ada aquarium dan juga bunga bunga serta ada ayunan di salah satu sudutnya.
"Tempat apa ini?" Altez memindai apa yang sedang dilihatnya pertama kali.
__ADS_1
"Ini adalah tempat rahasia milik Bu Yeri Hanya saya dan juga pekerja yang bertugas membersihkannya yang tahu."Joana mempersilahkan Altez untuk masuk kedalamnya.
Seperti sebuah kubus yang terbuat dari kaca dengan isi tanaman dan hewan di dalamnya. Altez juga merasa nyaman di tempat itu.
"Jadi istri saya senang berada di sini?"
"iya pak."
"Lalu ini kan kantor tempat dimana seharusnya Dia bekerja dan bukan bersantai, lalu mengapa harus ada tempat seperti ini? Ini kan hanya akan membuatnya bermalas-malasan?" Terka Altez tanpa tau bagaimana realitanya.
"......" Joana diam dan tidak menanggapi.
"Bapak silahkan tunggu saja di sini, saya kan menemui Ibu Yeri." Joana berpamitan dan segera pergi tergesa-gesa tanpa menunggu kata Ya dari Altez.
...~•~ ...
"Fiuh...! merepotkan sekali harus mengurus dua pria secara bersamaan begini. Yeri tidak pernah memiliki kekasih, sekalinya ada yang berlomba jadi rusuh seperti ini. Bisa tidak datangnya satu satu?" Joana menggerutu sepanjang jalan ia kembali ke ruangan Yeri.
Dia mengambil nafas sebelum masuk kedalam ruangan Yeri. Dia tahu jika Bisma akan segera memberondongnya dengan setumpuk pertanyaan.
"Aku lelah ya, harus bolak balik mengurus kalian. kalau bukan karena kalian yang suka adu jotos, malas aku mengurusnya." Joana mendumel tiada henti. "Dia ku tinggalkan di atap, dan kamu, kenapa datang tanpa membuat janji terlebih dahulu?"
Bisma tersenyum senang seolah dia baru saja menerima hadiah. "Semalam, ada kiriman mobil datang ke rumah dan mereka yang mengantar bilang kalau itu adalah hadiah. Aku tidak mengerti mengapa Yeri memberikan hadiah mobil kepadaku?"
"Apa dia mulai jatuh cinta padaku?" Bisma percaya diri berlebihan. Dia begitu senang menerima hadiah tanpa tau fakta sebenarnya.
"Hhhhhh....!" Joana menghela nafasnya seolah tengah melepaskan beban berat. "Mobil itu aku yang pilihkan, memang Yeri yang mengeluarkan uang dan itu adalah sebagai ganti rugi dari si kuning mu yang di tabrak oleh suaminya tempo hari."
"Tunggu bisa kamu jelaskan secara rinci? si kuning di tabrak oleh suami Yeri? berarti Altez dong?"
Joana memutar bola matanya malas. Ia tak tahu sejak kapan sepupunya menjadi sangat bodoh dalam memahami suatu hal seperti ini. "Iya, kamu pikir suami Yeri ada berapa?"
Bisma mendidih darahnya saat tahu fakta jika mobil kesayangannya di tabrak oleh Altez. Dia akan semkin marah lagi jika tahu Altez melakukannya secara sengaja.
__ADS_1
"Apa dia sengaja melakukannya?" Tanyanya menodong Joana yang matanya tertuju pada minuman di meja.
Joana berbalik badan dan meringis kesal. Dia melupakan sesuatu.
"Entah aku tidak tahu. Aku pergi, aku melupakan sesuatu, kamu tunggu saja di sini." Ucap Joana yang berjalan setengah berlari.
Joana menggerutu lagi sepanjang jalan menuju ke atap gedung. "Aish, bodoh! bodoh! bodoh!" Ia menepuk nepuk keningnya. "Pak Altez belum ku berikan camilan dan minuman sudah ku tinggal saja." Ucapnya mendumel.
Keenakan menunggu Yeri di dalam tempat rahasianya, membuat Altez tertidur. Ia bahkan tidak tahu saat Joana datang menyuguhkan minuman dan makanan untuknya.
Di ruang kerjanya setelah selesai dengan pekerjanya.
"Hai, Bisma apa kabar? kenapa datang tanpa pemberitahuan?" Tanya Yeri pada Bisma tentu saja selalu ada Joana yang mendampingi.
"Hai!" Jawabnya sambil tersenyum. "Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih untuk mobil yang kamu kirimkan. Tapi sepertinya kamu berhutang penjelasan kepadaku." Kata Bisma dengan menatap datar Yeri.
"Maaf, seharusnya aku membicarakan hal ini terlebih dahulu. Tapi aku rasa hasilnya akan tetap berbeda jika aku memperbaikinya. Jadi aku memutuskan untuk menggantinya dengan yang baru."
"Kenapa harus kamu yang mengganti jika yang melakukan perusakan bukan kamu?"
"Sama saja, yang melakukan adalah suamiku dan ia melakukannya secara tidak sengaja."
What? tidak sengaja? jelas jelas dia melakukannya secara sadar dan hampir membuat kita berdua tinggal nama. Dia bilang tidak sengaja? Apa Yeri benar benar sudah cinta mati, hingga menutupi semua kebusukan suaminya? Dari perselingkuhan itu dan sekarang penabrakan ini. Aku sama sekali tidak mengerti. Yeri, kamu berhutang banyak cerita denganku dan Silvi.
"Oh, aku tidak percaya ini." Bisma mengulum senyumnya penuh arti. "Kamu yang dari dulu tak pernah pasang badan dengan urusan orang lain, kini terang terangan pasang badan untuk mengurusi suamimu?" Tanya Bisma heran.
Iya, kenapa aku mengatakan jika dia melakukannya tanpa senagaja dihadapan Bisma? Padahal akan lebih asik jika aku melihat keduanya bertengkar dan saling tinju. Ada apa denganku? Kenapa aku terkesan seperti istri yang baik hati dan menutup segala aib suami?
"Em... bukankah sudah sepantasnya seperti itu?" Yeri berbicara dengan menaikkan alisnya seolah Bisma harus mengiyakan pendapatnya.
"Pernikahan kalian bukan atas dasar cinta yeri, aku tahu dari Ayahmu. Dan sekarang...."
"Dan sekarang, aku dan dia sudah sah secara hukum dan agama. Baik buruknya kami yang menentukan." Jawaban Yeri cukup membuat Bisma dan Joana tercengang.
__ADS_1
What? Batin Joana dan Bisma bersamaan.