
"Jo, apa masih lama Yeri datang? Dia jadi datang atau tidak sih?" tanya Bisma dengan arah pandang yang mengamati pintu masuk restoran tersebut.
Joana terkesan acuh dengan menampilkan wajah lesunya. Ia terlihat tidak bersemangat sama sekali, ia bahkan hanya mengaduk-aduk smoothies stroberi miliknya. Nampaknya orang kepercayaan Yeri ini sedang tidak bersemangat.
"Dia tidak akan datang Bis, suaminya mengurungnya di dalam Apartemen." jawab Joana membuat Bisma seketika mengalihkan pandangannya dan kini fokus tertuju pada Joana.
"Apa katamu?"
"Ia suaminya kini sudah menjadi budak cintanya Yeri. Dia bahkan sudah berniat untuk memberikan perusahaanya kepada Yeri."
"Pelimpahan perusahaan? Altez, melakukan itu?" Bisma berdecak tak percaya. Ia bahkan sampai melonggarkan dasinya.
Seorang Altez, sampai rela melepaskan induk perusahaan yang selama ini menjadi kebanggaannya. Perusahaan yang selalu ia unggulkan juga sekaligus gunakan sebagai alat untuk memikat para gadis belia. Hal ini tentu saja membuat Bisma tidak percaya.
"Altez, si brengsek itu melepaskan perusahaanya?" Bisma semakin tidak percaya dan ia menggelengkan kepalanya.
"Kalau sampai hal itu terjadi, itu berarti peluangku untuk mendekati Yeri akan semakin kecil dong?"
"Apa perlu aku menjawabnya, jika kamu saja sudah tahu jawabannya?" cetus Joana dengan angkuhnya yang kemudian berdiri dan merapikan berkas mereka.
"Aku permisi Bis, pekerjaanku menumpuk." joana segera bangkit lalu menenggak minuman milik Bisma. "Cari saja perempuan lain, tidak baik mendekati wanita hamil," ucap Joana dengan entengnya.
"Apa? Yeri hamil!" Bisma memekik tidak percaya.
"Yak! biasa saja!" Joana ikut memekik kesal karena Bisma yang mengagetkannya. "Dia dihamili oleh suaminya Bis, mau apa kamu? Mau lapor polisi?" cecar Joana. "Sudahlah, dunia ini luas, banyak wanita yang berceceran, kamu bisa memungut salah satunya asal bukan istri orang."
***
Cuaca terik, sinar matahari menembus dan menyinari segala sisi ruang. Yeri hanya terdiam dan menikmati sensasi rendaman air hangat daam bathup. Ia ingin mengusir segala ganjalan di hati dan pikirannya terkait dengan hubungannya dengan Altez yang bisa dikatakan membaik.
__ADS_1
"Aku ingin balas dendam, tapi kenapa aku malah dihamili oleh musuhku sendiri?" gumam Yeri sembari bermain busa sabun.
"Apa ini yang disebut kualat sama suami?"
"Ah, tapi aku masih tidak yakin kalau dia benar-benar ingin berubah." gumamnya lagi sambil membuka sebuah notifikasi yang masuk melalui email.
Matanya terbelalak kala membaca notifikasi pesan tersebut. Email yang berisi lampiran tentang pelimpahan kekuasaan atas perusahaan milik Altez. Yeri juga membaca nama yang tertera di sana yang menyatakan jika pengacara akan mengadakan pertemuan untuk membahas tentang pelimpahan tersebut.
"A-apa ini? Apa dia gila?" Yeri terbata-bata membaca email terlampir. Ia bahkan sampai tergagap saat membacanya.
Ia berjalan cepat Sengah berlari, bahkan ia sama sekali tidak menghiraukan busa sabun yang masih menempel di rambutnya. Yeri keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa dan melihat Altez yang tengah duduk santai di meja makan sambil mengotak-atik laptopnya. Kekhawatiran memenuhi raut wajah Altez, i juga menyambut Yeri dengan segera alu memegang lengannya.
"Sayang, ada apa? Jangan berlari, kamu sedang hamil," kata Altez yang kemudian membawa Yeri untuk duduk di sofa.
"Bisa jelaskan apa maksud dari pengacaramu ini?" Yeri menunjukkan email yang masuk ke dalam kotaknya.
Altez membacanya dengan seksama lalu tersenyum setelahnya membuat Yeri semakin tidak bisa memahami apa yang sedang Altez lakukan saat ini. Tidak ada kekecewaan ataupun keraguan, Altez terlihat senang dan bersemangat. Yeri menatapnya dengan penuh tanya.
"Sayang, jangan marah-marah. Kemarilah, kita duduk dulu yang anteng," kata Altez dengan sabarnya. Begini rupanya kalau buaya telah menjadi budak cinta?
"Aku memberikan perusahaan itu untukmu dan untuk anak-anak kita," kata Altez.
"Za, jangan bercanda! ini bukan suatu hal yang pantas untuk dijadikan mainan," ucap Yeri bersungut-sungut. Pasalnya Altez berbicara sambil mengulum senyumnya.
Lelaki tampan berwajah tirus dengan postur tinggi tegap itu kemudian menangkup wajah sang istri dan mengecup keningnya perlahan sebelum ia mulai berbicara dengan serius. "Apa salahnya, jika aku memberikan milikku untuk istri dan anak-anakku?" ia balik bertanya dan berhasil membuat Yeri terenyuh dalam suasana yang aneh ini.
Yeri hanya terdiam mematung saat kecupan hangat itu mendarat cantik di keningnya. Ia mencari keraguan yang barangkali terselip dalam manik sang suami. Nihil, kosong, tidak ada, hanya ada kejujuran dan ketulusan di sana. Sekeras apapun ia mencoba melawan dan mencari titik kebohongan Altez, tetap saja kejujuran dan ketulusan yang muncul menyibak birainya.
"Za,"
__ADS_1
"Sayang, aku ikhlas melakukannya dan Mama juga sudah setuju, apalagi masalahnya?"
"Kalau perusahaanmu kamu kasih ke aku, terus kamu kerja apa?"
"Ya, aku tetap akan bekerja di sana, tapi di bawah pengawasan kamu dan juga aturan kamu," kata Altez tanpa beban.
"Za, nggak gitu dong konsepnya. KAmu itu suami aku," kata yeri yang membuat Altez senyum-senyum sendiri.
"Apa tadi? Suami, kamu bilang aku Suami kamu? Kamu sudah mengakui? Iya sayang?" tanya Altez dengan sumringah. Ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena pengakuan Yeri.
Yeri memutar bola matanya malas, ia mendesah perlahan, "Hhhh!"
"Za, serius dong," ucapnya karena sang suami malah tertawa-tawa kesenangan.
Altez menatapnya dengan berbinar. " Iya apa sayang? ini aku serius," jawabnya tanpa menghentikan senyuman yang menghiasi sudut bibirnya.
"Aku sama sekali tidak menginginkan perusahaan kamu Za, dari awal kita menikah aku hanya ingin membuat kamu menderita. Dengan penampilanku yang jelek, dengan rumah sederhana kita, dengan aku yang selalu mengganggu di balik layar tentang hubunganmu dengan Nella." Yeri mengakui segala perbuatannya dengan harapan Altez akan marah padanya alu mencabut keputusannya.
"Terus apalagi?" tanya Altez tanpa ada nada emosi.
"Apalagi? " ulang Yeri sembari menatap sang suami dengan mata yang berkaca-kaca. "Za, harusnya kamu marah dong sama aku," ucap yeri yang siap mengucurkan air matanya.
"Marah?" tanya Altez sambil menaikkan sebelah alisnya. Ia mendekat dan kemudian memeluk sang istri. "Bagiamana aku bisa marah terhadap pawangku, hum?" Altez mengusap pipi Yeri dengan sayangnya.
"Karena kamu, aku jadi memiliki hubungan yang baik dengan Mama, karena kamu juga aku bisa lebih menghargai orang lain dan juga tau bagaimana cara menggunakan harta. Hidup sederhana, dan berhenti dari alkohol dan juga club malam."
"Kenapa karena aku? Aku sama sekali idak pernah melarangmu, aku bahkan tidak pernah peduli kamu akan pulang atau tidak," kata Yeri degan tetesan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya. Ia sama sekali tidak menyangka jika suaminya akan menjadi dewasa dan bijaksana seperti ini.
"Hey, jangan menangis sayang," Ucap Altez yang kemudian memeluk ang istri. "Jangan menangis, kamu sedang hamil. Harusnya kamu senang dan bahagia, aku memberikan perusahaan itu karena aku mencintai kalian. Aku tidak ingin seperti Papa yang menghamburkan uang dan lupa dengan istri dan anaknya demi mencari kesenangan dengan wanita lain."
__ADS_1
"Biar kamu yang pegang semuanya dan aku akan menjadi gembel kalau sampai menyakiti kalian," kata Altez dengan tangan yang terus mengusap punggung sang istri untuk meredakan tangisannya.
Jika dia benar-benar telah berubah menjadi baik begini, apa aku masih akan melanjutkan misiku?