PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
70. Cemburu


__ADS_3

Semuanya terdiam dalam suasana menegangkan. Yeri saat ini sedang menatap tajam Altez yang baru saja memberikan tuduhan tanpa bukti nyata. Bercampur dengan rasa sedih dan kecewa atas tuduhan yang ia dapatkan, perlahan air mata Yeri berguguran.


"Terima kasih banyak atas tuduhan mu, sekarang aku jadi lebih mengerti bagaimana kamu menilai ku," ucap Yeri yang sejurus kemudian di ikuti dengan langkah cepatnya menuju ke kamar.


Yeri mengurung dirinya di dalam kamar dengan perasaan yang penuh dan menganga. Ia sama sekali tidak pernah menduga jika akan ada kejadian seperti ini di dalam hidupnya. Secara tidak langsung, tersibak sudah bagaimana sudut pandang Altez terhadap dirinya selama ini.


Aku tidak pernah menduga jika dia akan menyamakan kelakuanku dengan kelakuannya. Sakit, mengapa sangat sakit saat dia secara tidak langsung menolak kehadiran calon anak kami? batin Yeri yang kini tergugu dan terus mengusap perutnya yang rata.


"Al! apa yang kamu katakan? Yeri memang sedang hamil, dan itu anak kalian. Dia baru mengetahuinya pagi tadi. Saat dia mengetahui bahwa dia hamil dia sedang marah kepadamu yang mengabaikannya saat mendengar kabar kematian Nella," kata Joana sambil berdiri dan bersiap menyusul Yeri.


"Tolonglah jangan kekanakan, jangan impulsif begini!" seru Joana yang sudah berdiri di depan pintu kamar Yeri.


Joana mengetuk pintu kamar Yeri dengan hati-hati, dia menjadi ragu dan takut jika saja Yeri melakukan sesuatu sendirian. Sedangkan di sofa, kilatan permusuhan masih begitu kental terasa. Altez menatap tajam Vito dengan tangannya yang terlipat ke dada.


Mulutnya siap mencecar dan menghakimi pemuda tampan yang ada di depannya. "Kamu! jelaskan siapa kamu?" tanya Altez.


"Dia adik angkatnya istrimu!" seru Joana menyahut dengan nada kesalnya.


"Jo, aku bertanya padanya, bukan padamu!" balas Altez kesal dengan mengarahkan tatapannya pada Joana.


"Aku mewakilinya Al! Yeri mengangkat dia, murid teladan dan juga anak dari salah seorang pegawai terbaik di perusahaan istrimu yang beberapa tahun lalu meninggal," kata Joana mulai membuka semua cerita lawas yang ada sebagian yang tak Vito mengerti.


Vito terdiam lalu menganggukkan kepalanya. Ia seolah tengah menyerap segala informasi yang sama sekali belum ia ketahui. Walaupun demikian, kini dapat dipastikan saat ini terselip rasa kecewa sebab Yeri menutupi kebenaran tentang almarhum ayah Vito.


Oh, ternyata ayahku adalah seorang pegawai yang berdedikasi tinggi terhadap perusahaan Kak Yeri? Kenapa dia tidak pernah memberitahukan hal ini kepadaku?


"Yer, buka pintunya. Kamu ngapain di dalam? Kita selesaikan dulu kesalahpahaman ini Yer," ucap Joana yang membujuk Yeri.


Altez mulai terlihat bingung dan terbagi konsentrasinya. Satu sisi dia ingin mencecar Vito, namun di sisi lainnya ia juga ingin menyelesaikan kesalahpahaman dengan istrinya. Tidak ada yang lebih penting daripada istrinya saat ini, itulah keputusan yang diambilnya.

__ADS_1


Yeri menangis sedih saat tuduhan yang Altez layangkan begitu membuatnya merasa rendah. Namun, sekejap kemudian ia mulai berfikir untuk menemukan jalan keluar dari masalah yang tengah ia hadapi. Yeri segera bangkit dan membuka pintunya.


Yeri keluar dari kamar dan melewati Joana yang tengah menatapnya heran di depan pintu. "Yer, kita duduk dulu. Kita selesaikan masalah ini bersama ya?" lembut Joana berbicara dengan tangannya yang menggenggam tangan Yeri seolah mengirimkan kekuatan.


"Iya kita selesaikan ini," kata Yeri tanpa suara yang bergetar.


Entah kemana perginya air mata dan kesediaan itu, hanya ada jejak basah di sudut matanya. Yeri kembali melangkahkan kakinya dan mendekat ke sofa dengan Altez yang juga mengikutinya dan tatapan matanya. Tatapan mata yang menyatakan sebuah penyesalan.


"Kenapa kamu bisa sampai ke sini Za, siapa yang memberitahumu?" tanyanya yang melenceng dari topik.


"Tidak penting sayang, yang terpenting sekarang adalah kehamilanmu. Benar kamu hamil?" tanya Altez dengan tatapan mata penuh harapan dan binaran kebahagiaan.


Yeri menunduk lalu mengusap perutnya yang masih rata. "Iya aku hamil," jawabnya hampa.


Altez tinggal sejengkal lagi bisa menggapai dan memeluknya saat ia mendekat kepada istrinya dan maksud ingin merayakan kehamilannya. Namun, respon berbeda Yeri berikan. Ia langsung menolak Altez dan menggerakkan tangannya dengan tanda menolak.


"Aku hamil anaknya, bukan anakmu. Bagaimana kamu senang bukan? aku sangat sesuai dengan tuduhan dan harapanmu tadi?" ucapnya ringan tanpa beban dan sekarang duduk di sebelah Vito tanpa jarak sama sekali.


"Ada apa Jo? benar bukan ini anaknya. Aku telah menjalin hubungan terlarang dengan dia. Vito, jangan kamu tutupi lagi. Jangan takut kepadanya. Separuh sahamnya telah menjadi milikku," ucap Yeri dengan tatapan mata yang merendahkan Altez.


"Maaf! selesaikan masalah rumah tangga kalian berdua dan jangan seret aku di dalamnya. Aku memang orang tidak punya, tapi bukan berarti Anda bisa mempermainkan jalan hidupku begini!" kata Vito dengan emosinya yang tertahan.


Harga dirinya tercabik-cabik saat Yeri dengan sengaja mengatakan jika ia memiliki hubungan dengannya dihadapan suaminya. Tanpa Yeri sadari, hal itu seolah mengatakan jika Vito memanfaatkan dirinya demi meraup keuntungan. Vito tidak diajarkan untuk menghalalkan segala cara demi menikmati harta yang tak seharusnya.


"Vito, bu-bukan begitu," pelan Yeri berbicara dengan tangannya yang meraih dan menggenggam tangan Vito.


"Maaf Kak, aku harus pergi. Aku masih ada urusan," ucap Vito.


Melihat bagaimana interaksi keduanya membuat Altez kepanasan. Kalau saja hubungan mereka bukan kakak adik angkat, sudah pasti Altez akan menghajarnya sampai babak-belur. Altez sebisa mungkin menahan emosinya.

__ADS_1


"Ayo, To. Aku antar kamu pulang," ucap Joana yang seketika menyambar tangan Vito dan menggiringnya keluar dari flat.


Suasana tegang kembali terjadi dalam ruangan itu saat Altez mulai ingin meralat perkataanya barusan. "Dia anakku 'kan?" tanyanya.


"Bukan, entah dia anak siapa. Aku sampai lupa siapa Ayahnya. Terlalu banyak," ucap Yeri kesal.


"Sayang aku mohon jangan bicara seperti itu." Altez selangkah mendekat.


"Apa? jangan bicara seperti itu?" Yeri menyeringai. "Cih!" ia berdecih.


"Bukannya tadi barusan kamu yang menyamakan aku dengan kamu. Kamu menilaiku sama dengan kelakuanmu di luaran sana. Iya kan?"


Tak dapat ditolaknya, tapi memang itu cara manusia menduga. Ia akan menduga sesuai dengan apa yang biasa ia lakukan, dan akan menilai segala sesuatu dari sudut pandangannya secara impulsif ketika emosi. Altez sama dalam hal ini.


"Sayang, aku minta maaf. Aku hanya cemburu tadi saat menguping pembicaraan kalian,"


Yeri bergeming ia masih diam di tempatnya tanpa mau melihat wajah suaminya. "Sebaiknya kita berpisah saja, aku merasa semuanya akan tetap begini pada akhirnya."


Berpisah? mengapa? pertanyaan itu memenuhi kepala Altez. "No! kamu sedang hamil, juga aku tidak akan pernah mau menceraikanmu. Ti-tik!"


"Aku yang akan membuat gugatan dan mengakui pada hakim bahwa aku berselingkuh dan anak ini adalah anak hasil perselingkuhan ku bukan anakmu. Kamu senang kan? setidaknya tuduhan mu tadi terbukti benar."


"Senang?" Ulang Altez dengan segera memeluk istrinya.


"Aku senang karena kamu tengah mengandung anakku. Maaf ya, maafkan aku yang sudah melukaimu dengan mulutku."


"Jangan urus aku dan anak ini, urus saja pemakaman pacarmu itu!" Yeri memberontak dan ingin melepaskan diri dari pelukan Altez.


"Kamu cemburu? iya, kamu cemburu?" Altez memberikan jarak sepanjang lengannya lalu mengguncang kedua lengan Yeri.

__ADS_1


"Cemburu? aku? that's big no!" tolaknya.


__ADS_2