
Avoidant personality disorder adalah gangguan kepribadian di mana penderitanya menghindari interaksi sosial karena merasa dirinya lebih rendah dari orang lain. Ia juga memiliki ketakutan yang sangat besar terhadap penolakan orang lain. Gangguan kepribadian ini bukan hanya terjadi sementara saja di satu fase kehidupan, tapi cenderung menetap.
Pengidap avoidant personality disorder cenderung khawatir mengecewakan orang lain dan takut terhadap kritik yang ditujukan kepada dirinya, sehingga ia cenderung menghindari berbagai aktivitas. Dalam hubungan sosial, mereka lebih memilih untuk menyendiri atau merasa kesepian dibandingkan mencoba menjalin hubungan dengan orang lain.
keadaan ini cukup lama diidap oleh Yania kecil hingga remaja. Perkataan Altez waktu itu yang mengatakan bahwa Yania adalah kerbau gendut, membuat Yania kecil hatinya menciut dan merasa jika memang seperti itulah semua orang memandangnya kecuali Ayah dan Bunanya.
Bertahun-tahun keluarga tersebut berusaha mengembalikan sosok putri mereka yang ceria dan percaya diri. Tapi sayangnya, sosok Yania hanya akan mau berada dalam satu tempat dimana disana ada satu orang kepercayaannya. Di sekolah ada Wiwin sahabatnya yang ia percaya. Di perusahaan, ada Joana yang di percayakan menjaga Yania.
Sementara kini di rumahnya yang kecil? Dia harus sendiri menghadapi orang baru yang juga merupakan musuh bebuyutan dari masa lalu. Namun, semua ini memang anjuran dari sang terapis untuk mengurai perlahan-lahan katakutan yang Yania alami. Cara mengurainya adalah dengan membiasakan diri bertatap muka dengan objek yang selama ini di anggap sebagai akar masalah, dalam hal ini adalah Altez.
"Mas sudah pulang?" Yania bertanya pada Altez dengan wajah kusutnya dan juga luka lecet dibeberapa titik di wajahnya.
"Hem....!" Jawab Altez dengan sangat malas. Sebenarnya, mau membuka mulut saja teramat sulit sebab dia telah menjadi sasaran amuk kedua pacarnya yaitu Nella dan Vivi di sebuah apartemen.
Yania mengulum senyumnya dan tertawa dalam hati. Dia sama sekali tidak menduga bila kejadiannya aan menjadi seheboh ini sampai Altez babak belur.
Suamiku sayang, bagaimana rasanya mencicipi karma? Enak? atau.... gurih gurih sedap? Batin Yania kegirangan.
Altez terlihat sangat kusut dan kehilangan moodnya. Dia langsung memasuki kamar tamu dan tak lagi berebut kamar seperti biasanya. Yania tertegun melihatnya. Rupanya begini Dia jika sedang gundah gulana?
Yania yang di acuhkan Altez pun tak ambil pusing. Dia melanjutkan aktivitasnya seperti biasa seperti saat Altez meninggalkannya untuk berlibur selama satu bulan ini bersama kekasihnya.
Ponsel Yania berdering, Dia seketika memasuki kamarnya dan menutup rapat rapat pintunya.
"Hallo Pa," Sapa Ayana melalui sambungan telepon selulernya.
"Hallo! Bagaimana anak Papa? sudah mulai melaksanakan misi?"
"Sudah Pa, Tapi Pa..., kenapa Altez bisa sampai babak belur begitu?"
Jadi....
Flash Back On.
Altez dan Vivi tengah berada di apartemen mereka menikmati hari hari layaknya bulan madu terindah sepanjang sejarah. Tapi, dihari terakhir mereka berlibur bersama, tepat bersamaan dengan datangnya Nella. Terjadi keributan yang luar bias dimana Nella melabrak keduanya. Nella sangat marah dan melakukan beberapa aksi anarki disana.
Rampung dengan Nella yang mengamuk, masih disusul lagi dengan satu kenyataan pahit yang harus ditelannya. Altez ternyata dia bukan satu satunya bagi Vivi. Vivi yang di ketahui Altez belum berkeluarga, nyatanya di hari itu terbongkar statusnya dimana ternyata Dia memiliki seorang suami yang bekerja di bidang pelayaran.
Setelah di amuk oleh Nella, Altez harus menerim sanksi dari suami Vivi. Vivi di gugat cerai, dan Altez terkena denda berupa uang.
Sebenarnya suami Vivi ingin memenjarakan keduanya, tapi lagi lagi Mama Alda turun tangan dan menyelamatkan putranya dengan satu perjanjian yang hanya di ketahui oleh keduanya.
...Flash Back Off....
"Wah....! iyakah?" Yania sampai terkagum kagum setelah mendengarkan cerita dari Papa Ardi yang secara khusus mendengarkan laporan dari mata matanya.
"Iya, Papa tidak tahu kalau melakukan hal jahat itu menyenangkan. Kenapa kita tidak dari dulu saja mencari anak kurang ajar ini pelajaran?"
__ADS_1
"Pa~~~~, Dia suamiku sekarang Pa." Ucap Yania seakan membela Altez.
" Apa tadi? Suamiku? Kamu berkata suamiku sweety?" Papa Ardi tak percaya dibuatnya.
"Pa, sudahlah. Aku hanya ingin membuatya menderita secara perlahan, tapi tidak dengan luka secara fisik begini. Apa mata mata Papa melaporkan jika Dia sudah memeriksakan diri ke Rumah sakit?" Tanya Yania yang tak teg melihat Altez yang babak belur.
Tadinya Yania hanya berfikir Altez bila Altez terluka karena cakaran wanita. Seberapa parahnya sih luka dari pukulan wanita? Taapi, setelah mendengar jika luka itu juga sebagian di dapatkan dari suami Vivi, membuat Yania berfikir ulang. Berarti lumayan remuk redam.
"Ada apa kamu ini sayang? kenapa jadi kasihan sama anak menyebalkan itu?" Tanya Papa Ardi yang menjadi kesal setelah mendengarkan putrinya mengkhawatirkan musuh mereka.
Panggilan terputus sepihak dengan kemarahan di kubu Papa Ardi.
...Pov Yania....
Melihatnya babak belur terluka karena cakaran pacarnya sih aku masih bisa menerimanya karena hal itu ringan. Tapi jika sudah luka baku hantam dengan suami Vivi? Oh tidak...., mengapa aku harus menaruh iba sedangkan Dia saja sudah memberikanku cacat seumur hidup? Aku saja sampai sekarang masih takut jika harus berada dikerumunan sendirian.
Tapi kan aku bidadari baik hati, masa iya suami terluka hanya membiarkannya saja?Ah, sebaiknya aku menawarkan sesuatu sebelum nanti mama mertuaku datang memeriksa anak sulungnya yang manja ini.
Aku membuatkannya secangkir teh hijau dan juga beberapa potong kue. Terlihat dia tidak menutup rapat pintu kamarnya. Dan dia berbaring begitu saja tanpa berganti baju.
"Mas, aku masuk ya? Ini aku buatkan teh hangat." Aku meletakkan nampan yang ku bawa di atas nakas.
Dia bergeming dan tak mau melihatku. Terbukti dengan ketika aku masuk, Dia langsung tengkurap.
Jujur saja sebagai manusia, prikemanusiaanku mulai bangkit. Aku mendekat dan membalikkan tubuhnya yang tengkurap.
Tadi, Dia sengaja menggunakan kacamata hitam dan juga topi untuk menutupi semuanya ini. Apakah aku sudah sangat berlebihan dalam menjalankan misiku?
"Astagfirullah, Mas! Kamu katanya pergi kerja ada bisnis di luar, Tapi kenapa pulang malah seperti ini?" Sumpah kali ini aku memang sangat terkejut aku hampir lari saat melihat matanya yang memerah sebelah kanan karena terkena pukulan.
Dia diam tak menjawabnya. Aku seketika menjadi panik. "Kita ke Rumah sakit. Apa kamu sudah ke Rumah sakit?"
"Kemarilah, Aku hanya ingin istirahat, jadi jangan berisik." Ucapnya yang memintaku untuk duduk di tepi ranjang dekatnya.
"Ceritakan padaku kenapa bisa begini?" Aku bertanya padanya dengan mataku yang sudah mulai merembes mengeluarkan air mata.
Apa ini? Aku yang ingi melukainya, tapi Aku juga yang tak tega melihatnya terluka?
Aku duduk di sampingnya dan Dia kemudian menempatkan kepalanya di atas pahaku. Wah.... mengapa rasanya an*ing banget?
Jantungku tak terkondisikan dengan baik sekarang, tiba tiba aku deg degan dan keringat dingin mulai keluar dari pori poriku. Bahkan telapak tanganku juga berkeringat. Aku sudah beberapa kali menyewa pria, tapi itu hanya simulasi sebagai pacar saja dan ada yang pernah menggunakan pahaku seagai bantalan. Dan sekarang?
Ingin ku teriak, ingin ku menjerit... Tapi Ah, ya sudahlah memang aku istrinya kan? Untung saja kerja joana begitu akurat hingga aku bisa bersiap siap jauh sebelum di pulang.
Menyambunyikan kulit putihku dari mata mereka yang jelalatan dang menghakimi rasanya sudah menjadi pilihan terbaik bagiku.
"Em, Tapi..." Aku kenapa tiba tiba menjadi gagap begini sih?
__ADS_1
"Yaya, sehari saja kit berdamai ya? Aku sedang lelah, Sehari saja, perlakukan aku layaknya suamimu."
What The F*ck!! Hei, sadar dong... bukannya selama ini selalu aku yang berbicara dengan sopan dan baik dan memperlakukanmu layaknya manusia?
Sementara kamu? Mulutmu, Oh iya..., masalahmu adalah mulutmu Altez!!
Jujur saja aku hampir terenyuh dan menuruti perkataanya. Tapi beberapa detik kemudian, ada kalimat susulan yang membuatku ingin menguburnya hidup hidup.
"Tapi jangan bermimpi untuk aku mencintaimu, tidak akan! karena aku tidak buta!" Ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun, itu artinya ku ini sangat jelek di matanya yang mana Dia tak akan memilihku jika matanya bisa melihat normal.
Oh, Ya sudah jika begitu tuan Altez rupanya aku harus mengurungkan niat baikku ini.
Aku seketika bangkit dan membuat kepalanya bergoyang cukup keras dan Dia mengaduh kesakitan.
"Skit Yaya!" Keluhnya sambil tengkurap dan memegang kepalanya.
'Lebay!" Cibirku kesal.
"Tuh kan berdarah lag!" Ujarnya dan benar saja kepalanya bagian samping mengeluarkan darah. Membuatku panik dan kembali memangku kepalanya.
Dalam masa ini, Oke, abaikan perasaan dan tingkatkan kemanusiaan saja. lupakan jika aku sangat membencinya. Dia kembali menggunakan pahaku sebagai bantalan, dan aku melihat lukanya yang baru di perban.
"Sudah di jahit kan?" Tanyaku memastikan.
"Udah tadi, di obras juga." Jawabnya yang membuatku kembali dongkol tapi juga ingin tertawa.
"Aku serius, Mas, bisa kamu perbiki gaya bicaramu yang ceplas-ceplos itu, gaya bicaramu sering membuat orang lain sakit hati."
"Kenapa? aku hanya berbicara yang semestinya. Seperti tadi saat berkelahi awalnya aku hanya berkata pada lawanku jika pantas saja di tinggal selingkuh orang dia kringatnya bau."
"Memangnya yang kamu olok itu siapa?" Tanyaku sekedar ingin memancingnya membuka semuanya.
"Suami pacarku."
"OH...., untung saja untung...! aku menikah denganmu bukan karena sayang. Kalo ga...!"
"Kenapa memangnya?"
"Kalo ga udah aku cincang kamu! Kenapa masih utuh sih? kenapa ga di penggal aja sekalian tadi sama suami pacarmu itu!"
"Mulutmu ya!" Celetuknya sambil meraup mulutku. "Seneng kalo aku mati?"
"Ya gimana ya...., Em...., Jadi janda kaya sepertinya oke juga."
"Eh, tidak akan ya! Pokoknya kalau aku mati, aku juga akan bawa kamu. Dan selama aku hidup ga akan ceraikan kamu! Enak saja aku mati di hajar malaikat, kamu di dunia foya foya sama suami baru. No... No... No...!"
"Dengar ya, Yania Iswari binti Ardi Baskoro, Selama aku masih hidup, jangan bermimpi untuk bisa lepas dariku." Ucapnya sambil menjewer telingaku. Huh, kalo ga inget dia lagi sakit, udah pengen ku banting aja dia ini.
__ADS_1
KATA KATA ADALAH DOA.