PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
36.


__ADS_3

...~•~...



...~•~...


Di sebuah Bar.


"Dik, lu beneran udah telfon Altez kan?" Tanya fredi yang juga merupakan teman satu circle Altez dan Diko.


Diko masih asyik bermain dengan wanita yang duduk di atas pangkuannya dan tak mendengar pertanyaan Fredi. Lalu..., sejurus kemudian hinggaplah sebuah sebuah tangan lentik menoyor kepalanya.


"Budeg! Lu udah telfon Altez belom?" Fredi berseru bertanya dengan suara lantang sebab suaranya hilang ditelan dentuman musik yang menguasai ruangan.


"Lu ngomong apa?" Diko balas berteriak.


"lu udah telfon Altez...?" Fredi berteriak di telinga Diko.


"Oh, iya udah. Dia ga bisa dateng, mau rawat bininya yang sakit katanya." Diko menjelaskan sesuai dengan isi pembicaraan mereka di telfon tadi siang.


Fredi hanya mengangguk saja dan kembali menikmati minumannya. Meski fredi juga duduk disana, tapi dia tidak seperti Diko dan Altez yang suka jajan wanita, Fredi lebih bisa menghargai wanita meski ia begitu gemar dengan Alkohol.


Sukur deh kalo elu udah sadar Al. Gue cuma takut lu kena karmanya. Entah anak elu nantinya yang jadi mainan orang, entah rumah tangga elu yang kacau. yang jelas gue ikut seneng kalau elu udah berubah. Batin Fredi yang kemudian menikmati minumannya.


Di suatu rumah yang sederhana, seorang pemuda tidak bisa memejamkan matanya sebab teringat oleh sosok yang dikaguminya. Jemarinya terus saja bergerak perlahan menggeser foto foto koleksi yang tersimpan dalam sebuah aplikasi.


Foto kebersamaan yang ia peroleh terakhir kali saat mereka mengadakan acara bakti sosial.


"Kenapa aku jatuh cinta pada orang yang tulus dan baik kepadaku tanpa mengharap putus? sebenarnya aku sangat beruntung kan? Jika kami berhubungan sebagai kakak dan adik angkat, maka hubungan kami akan lebih langgeng dari sekedar pacaran bukan?" Vito sedang berbicara pada dirinya sendiri. Dia tak tahu arus bersedih atau bahagia sekarang ini.


"Yeri, tekadku sudah bulat. Besok aku akan segera mengunjungimu. Mulai saat ini aku akan sering sering mencari alasan untuk bisa bertemu denganmu." Vito berbicara pada sebuah foto yang tersenyum ke arahnya.


Vito melihat kembali tanganya dan tersenyum setelahnya. Ia teringat bagaimana dimalam itu tangannya memeluk dang mengusap kulit putih Yeri untuk yang pertama kalinya. Dosa termanis yang membuatnya terjebak dalam jerat istri orang.

__ADS_1


Sementara itu di kediaman Altezza Basman.


"Sakit banget Za?" Tanya Yeri dengan dahinya yang berkerut indah. Ia kemudian duduk di sebelah Altez yang lagi lagi menempati kamar tamu. "Sudah jam 2 loh Za, tidur ya?" Yeri terdengar seperti sedang membujuk anak TK.


"Em... Yer, kalau kamu hamil bagaimana?" Celetuknya tiba tiba yang membuat Yeri membelalakkan matanya.


Yeri sebenarnya bukan takut akan hamil atau apapun itu, Ia hanya takut jika sebagai orang tua nantinya ia tidak bisa menjadi contoh yang baik. Sebab selama ini Yeri selalu merasa tidak percaya diri akan kemampuannya sendri.


"Tidak mungkin sekali melakukannya aku bisa langsung hamil Za, ini bukan cerita seperti yang di novel novel. Sekali berbuat langsung hamil. Tokcer amat?" Cibirnya dengan kekehan di ujung kata.


"Sekali? Apa kamu lupa? malam itu kita melakukannya banyak kali bahkan sampai pagi. Entah apa yang Buna masukkan, tapi aku sampai kewalahan meladenimu." Selorohnya tanpa rasa malu membuat pipi Yeri bersemu.


"Em... maksudku kan hanya satu malam itu saja." Yeri berkilah untuk menepis rasa malunya. ia memainkan ujung baju tidurnya.


"Apa mau diulang lagi? kita remedial deh, Gimana?" Altez senagaja menggoda yeri sambil mengerlingkan matanya dan tersenyum manis semanis sakarin.


"Enggak ada remed, ini ujian nasional, bukan try out!" ujar Yeri yang kemudian memalingkan wajahnya yang kian memerah.


Altez tau jika istrinya kini pipinya tengah bersemu dan malu. Yeri tersipu dengan perkataan suaminya. Tapi..., dia sama sekali belum menyadari jika ini adalah reaksi malu dan tersipu.


"Tumben mau bobo aja harus pamitan dulu. Kenapa, udh ga bisa jauh jauh sama suamimu yang tampan, menawan dan rupawan ini?" Altez berpose dengan jari telunjuk dan jari jempolnya yang bertengger di dagu dan memainkan kedua alisnya naik turun.


"Iyuh...!" Yeri menggidikkan bahunya geli. Dia keluar dan menutup pintu kamar tamu meninggalkan Altez yang tersenyum melihatnya.


Aku enggak bisa tidur karena kamu yang menolak untuk tidur denganku Yeri. Kapan kamu sadar jika yang kamu lakukan ini adalah dosa besar? Menolak suami terus terusan, aku takut istriku tidak mencium bau surga. Batin Altez menerawang.


Pagi harinya setelah malam yang panjang.


Yeri sudah bangun dan bersiap pergi ke kantor. Ia melihat Altez yang masih terlelap dalam balutan selimutnya. Yeri tidak mau mengganggu sebab semalam aja Altez susah tidur.


"Ini saja cukup untuk sarapan." Yeri menata sepiring nasi dengan lauk sederhana juga tulisan di kertas kecil.


^^^Jangan lupa minum obat!^^^

__ADS_1


^^^Isi tulisan tersebut.^^^


Saat mendengar suara deru mesin mobil yang menyala dan menjauh Altez segera bangun dan memarahi sesuatu yang biasa bangun di pagi hari itu. Sayangnya sesuatu itu semalam menyemburkan benih berharganya.


Iya, akibat mimpi durjana, terong Altez memuntahkan kuah santannya dan membuat celananya basah.


"Kamu ini ga tau waktu banget! padahal kemarin sudah di kuras banyak hari ini masih saja nyembur. Kurang ajar!" Altez menunduk memarahi si otong.


Tiba tiba Altez ingat akan suatu hal. "Tunggu, mobil Yeri sedang di pakai sama Bisma. Lalu tadi suara mobil itu? Yeri naik taksi atau di jemput lagi? Kebangetan kalau sampai Bisma berani jemput bini gue."


Altez berinisiatif untuk menghubungi Joana dan menanyakan hal yang membuatnya gelisah dadakan.


"halo Jo."


"Iya pak?"


"Apa ibu sedang bersama kamu?"


"Iya, aku dijemput sama Joana. Ada apa? mau kamu tabrak lagi?" Yeri yang gemas sudah tidak tahan lagi mendengar perbincangan antara sekretarisnya dan suaminya yang lebay tingkat kecamatan ini.


"Hehehehe! ya enggak lah. masa iya aku mau nabrak istri aku sendiri?" Altez salah tingkah.


"Masa iya, masa iya! kemaren apa namanya kalau bukan nabrak?" Ketus yeri berbicara. "Udah, aku mau kerja. Sarapan kamu ada di meja makan, jangan lupa minum obatnya." Yeri berpesan.


"Iya istriku yang perhatian~~." jawab Altez yang masih ingin melanjutkan perkataanya tapi sudah di akhiri oleh Yeri.


"Emu....." Altez memonyongkan bibirnya tapi seketika terhenti kala ia sadar lawan bicaranya sudah memutus panggilan.


"Ah ga jadi, udah di tutup duluan." Ia menggerutu kemudian.


"23 menit 45 detik." Ucap Joana tanpa mengalihkan pandangannya.


Yeri memicingkan matanya. "Apanya?"

__ADS_1


"Kalian baru berpisah selma 23 menit 45 detik dan dia sudah cemas. Apa ini tanda jika kalian sudah saling mencintai?"


__ADS_2