PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
39.


__ADS_3

...~•~...



...~•~...


Bisma meninggalkan ruangan Yeri dengan setumpuk tanya di kepalanya. Telinganya masih terngiang bagaimana tadi Yeri berucap soal rumah tangga. Seakan ini menegaskan satu hal bahwa apapun itu didalam rumah tangganya, orang lain tak bisa menyentuhnya.


"Argh...!" Bisma yang kesal menendang sebuah botol plastik bekas.


Wuing....! melayang bebas di udara dan mendarat di kening seorang pejalan kaki wanita yang bertubuh gemoy.


Bisma melotot saat melihat bagaimana botol itu mengenai dahi si pejalan kaki. Dengan seger ia bersembunyi di balik mobil barunya yang terparkir di pelataran kantor Yeri.


"Woy!" Bentak si wanita yang reflek saat botol itu mendarat di wajahnya.


Si udin satpam yang berdedikasi tinggi yang juga melihat kejadian tadi langsung memberikan atensinya saat teriakan itu terlontar.


"Pak, lihat tidak siapa yang melempar saya?" Tanya Wiwin yang setengah berlari menghampiri si saksi.


Si Udin menahan tawanya saat melihat Bisma yang memberikan kode dengan menyilangkan tangannya di dada padanya. Bisma juga meletakkan telunjuk di bibirnya sebagai tanda agar si Udin diam.


Tapi..., bukan Udin namanya jika tidak berlaku adil dan bijaksana.


"lihat enggak Pak" Wiwin menodongnya dengan kesal.


Mulut Udin memang diam, tapi telunjuknya menunjuk Bisma yang tengah berjongkok menyembunyikan dirinya.


"Oh, jadi kamu?" Wiwin mulai menyembur Bisma yang masih berjongkok layaknya seorang ibu yang memarahi anaknya. "Kamu thu enggak apa yang kamu lakukan ini jahat? gimana kalau yang kena tadi anak kecil? untung aja lemakku tebal jadi ga sebegitu terasa."


Awalnya Wiwin mengoceh dengan menunduk, tapi saat Bisma berdiri, Wiwin di buat tercenganng. Tinggi tubuh Bisma yang 184cm membuat Wiwin yang hanya 159 terpaksa mendongakkan kepalanya.


"Maaf, maaf saya tidak sengaja." kata Bisma dengan mengatupkan tangannya dan ekspresi wajahnya yang tidak enak hati. "Apa ada yang terluka?"


"Ada sebentar lagi leher saya kecengklak karena terlalu lama berbicara dengan anda. lain kali hati hati." Tutur Wiwin yang kemudian pergi tanpa babibubebo lagi membuat Bisma terdiam di tempatnya.


"SShhhh....!" Bisma mendesis "Tadi itu dia ceramah atau pidato sih? marah atau apa? udah gitu doang?" Gumamnya yang seolah Wiwin kurang lama dalam mengoceh.


"Mbak Wiwin ya?" Tanya si Udin memastikan.

__ADS_1


"Iya Pak, saya diminta sama Bu Yeri untuk datang kesini. bapak bisa bantu saya ke ruangannya? saya takut tersesat." Kata Wiwin dengan polosnya.


"Kunci mobil?" Bisma merogoh saku jas dan celananya dan ia kemudian menepuk jidatnya. "Ah~~~, ketinggalan." Cicitnya bermonolog dan kemudian kembali memasuki lobby yang mana masih ada Wiwin disana.


"Pak Bisma mau ke atas lagi?" Tanya si Udin.


Bisma memasang raut wajah datar. "Iya, ada apa?"


Wiwin hanya diam dan malas menatap Bisma. Dia masih kesal dengan kejadian tadi dan itu sangat terlihat jelas dari bibirnya yang mengerucut dan pipinya yang menggembung.


Sok imut. Bisma mencela saat melirik Wiwin.


Tiang listrik. Wiwin mengomentari dalam hati saat melihat Bisma.


"Mint tolong, antarkan teman Bu Yeri ini ke atas. Beliau pertama kali kesini jadi belum tau letak ruangan Bu Yeri."


Bisma mengangguk. "Mari saya antar, sekalian saya mengambil barang saya yang tertinggal."


Mari saya antar sekalian. Wiwin membatin dengan menye menye. Tadi aja lu pas nimpuk kepala gue lihai banget nyumputnya, sekarang sok baik dan bertangungjawab. Batinnya kesal.


Mereka hendak memasuki lift dan resepsionist memanggil Bisma.


"Oh, iya terimakasih." Jawab Bisma yang menerim kunci dan seketika menatap Wiwin seolah ia ingin mengurungkan niatnya untuk naik kembali ke lantai ruangan Yeri dan meninggalkan Wiwin tanpa arah dan tujuan.


Wiwin hany diam dan menghela nafasnya dalam dalam seolah tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Yaitu pergi melangkah tanpa pemandu arah. Wiwin mulai melangkahkan kakinya dan spontan memegang bahunya.


"Mari saya antar, itung itung sebagai permintaan maaf saya." Ucap Bisma.


Wiwin mengangguk. Gue kira lu bakal ninggalin gue dengan tidak bertanggungjawab.


Wiwin dan Bisma naik ke lantai dimana ruangan Yeri berada. Selama di dalam lift keduanya hanya saling diam serta mengeluarkan ilmu kebatinan. Ya, mereka saling cibir satu sama lain melalui batin mereka.


"Sudah sampai." Kata Bisma."Itu ruangannya." Ia menunjuk satu ruangan dengan pintu yang paling besar berwarna putih.


"Makasih." kata Wiwin tanpa memberikan seulas senyuman.


Dih, udah gendut, pendek, judes lagi. yang kayak gitu pasti susah laku dan jarang ada yang mau. Cantik sih, tapi Hiiih.... galak. Bisma bergidik ngeri dan segera kembali menaiki lift.


Wiwin dan Yeri akhirnya bertemu dan bercengkrama lama. Kedatangan Wiwin adalah untuk menemui donatur acara bakti sosial yang kembali akan di lakukan akhir semester juga sebagai acara perpisahan.

__ADS_1


"Sumpah ga nyangka loh aku kalau selama ini donaturnya kamu Yer." Kata Wiwin yang masih berdecak kagum mengamati seisi ruangan Yeri.


"Bisa aja Win, ga usah kayak gitu. tadi gimana nyasar ga?"


"Emm.... enggak sih, di pandu sama tiang listrik aku." Kata Wiwin dengan polosnya dengan minuman yang juga berada di dalam genggamannya.


"Tiang listrik?"


"Iya, orangnya tinggi, gede, pake baju item item."


"Yakin tuh orang? bukan gondoruwo?" Yeri menggoda sahabatnya.


"Yer! Ah~~~!" Wiwin segera berlari mendekat dan memeluk lengan Yeri.


"Bercanda Win. Oh iya anak anak gimana kabarnya?"


Memang ada kerinduan tersendiri di hati Yeri saat biasa bertemu dan mengajar mereka dan kini sudah sama sekali tidak pernah melakukannya.


"Kita kehilangan satu siswi Yer, Dia hamil di luar nikah. Vio. dan juga seorang siswa Adam."


"Adam kenapa? dia tidak apa-apa kan?" Yeri terlihat cemas.


"Adam yang menghamili Vio. Em... dan juga Vito." Ucapan Wiwin menggantung dan Yeti sudah menyambarnya saat nama Vito disebut.


"Kenapa Vito, ikut menghamili Vio gitu atau bagaimana?"


"Sabar geh, Vito dapat beasiswa Yer. Dia mau ambil kuliah di Inggris." Kata Wiwin menjelaskan.


Yeri mengangguk paham. Entah mengapa ada kecemasan tersendiri saat nama Vito disebut.


Baguslah kalau dia dapat beasiswa, berarti aku tinggal menjadi backup saja buatnya. Dia memang sangat pintar. Tapi kenapa dia belum bilang padaku? Batin Yeri meraba.


Yeri lama berbincang dan sepertinya dia melupakan sesuatu yang tengah berada di atas atap. Sampai sore hari hingga semua karyawan pulang, saat Yeri berkemas.


"Bu, Yeri Pak Altez sepertinya masih ketiduran di atap." Kata Joana yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.


"Apa? Altez?" Yeri membelalakkan matanya dan menepuk keningnya. "Gimana bisa lupa sih, berarti setengah hari dia ada di atap sendirian?" Cicitnya sambil berjalan.


"Kamu boleh pulang, biar saya yang jemput sendiri. Bilang sama satpam untuk menunggu sampai saya keluar." Kata Yeri yang segera memasuki lift dengan setengah berlari.

__ADS_1


Khawatir banget sama suamimu, orang dia aja tertidur pulas di atap. Batin Joana.


__ADS_2