PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
83. Siapa yang cemburu


__ADS_3

Tidak bertegur sapa saat keduanya tengah berada di dalam mobil membelah jalanan kota selesai dari acara makan alam. Yeri terlihat tidak menaruh atensi lebih pada setiap usaha Altez untuk mengajaknya bicara. Altez menjadi sangat kebingungan akan sikap acak istrinya.


Baru saja tadi semuanya baik-baik saja. Dan, sekarang berubah tidak baik-baik saja. Atmosfer yang mencekam kembali, membuat Altez hanya bisa menerka dalam diamnya. Ia tak mau semakin salah bertindak.


'Kenapa jadi diam dan tidak mau melihatku sih? Ada apa' batin Altez melirik sang istri.


"Sayang, jadi kapan kamu berencana untuk memeriksakan kandungan?" tanya Altez setelah sekian lama terdiam.


"Belum tahu," jawab Yeri sekenanya dan terkesan malas.


'Sudah begitu saja jawabnya? sebenarnya ada salah apa aku? Aku ingin bertanya langsung, tapi dari ekspresinya dia akan menerkamku kalau aku salah berbicara. Tapi, jika tidak ku coba mana aku tahu mau dia ini apa,' batin Altez.


"Sayang kenapa? Dari tadi kelihatan lesu, kamu lelah seharian ini banyak melakukan aktivitas?"


'Hatiku yang lelah, dasar tidak peka! Bisa-bisanya dia masih bertanya dengan santai setelah seharian ini sama sekali tidak memberikanku penjelasan tentang wanita di restoran tadi pagi. Dia kira aku tidak melihatnya? Jelas-jelas sampai mengabaikan aku, istrinya. Masih juga tidak paham mauku apa, Cih!' batin Yeri berdecak kesal.


"Tidak, aku hanya mengantuk."


Singkat, jelas dan padat tanpa tersendat. Yeri mengatakannya sembari mencoba menutup matanya. Ia berlagak seolah mengantuk padahal hanya ingin menghentikan percakapan dengan suaminya. Yeri merasa kesal setelah seharian menunggu suaminya menjelaskan tentang wanita yang tadi menemuinya di restoran.


"Ya sudah, tidurlah dulu," kata Altez dengan mengusap lembut pucuk kepala Yeri.


Yeri sedikit beringsut saat Altez menyentuhnya, seolah ia tidak ingin disentuh. Menjaga jarak dan tidak ingin berkomunikasi. Yang Yeri inginkan hanyalah diam.


'Hah? hanya ku pegang saja langsung begitu? Dia marah, eh tunggu tadi pagi, di restoran, Vina,' batin Altez menerka.


Bukannya merasa bersalah dan bersiap menyusun kalimat penjelasan, Altez malah mengulum senyumnya senang. Ia sangat senang setelah menyadari suatu fakta bahwa Yeri mulai cemburu terhadapnya. Itu tandanya, perlahan, istrinya mulai memiliki rasa.


Altez segera menancap gas dan dalam beberapa menit mereka sampai di Apartemen. Setelah kejadian dan pertengkaran itu, mereka sama sekali belum kembali ke rumahnya. Keduanya masih merasa was-was akan keberadaan ular tersebut dan menunggu kabar dari Joana.


Altez memarkirkan mobilnya dengan halus dan Yeri sama sekali tidak menyadarinya sebab ia sedang terlelap dalam tidurnya. Altez dengan segera menggendong sang istri dan membawanya masuk kedalam flat. Selama membopong tubuh sang istri, ia selalu tersenyum melihat wajahnya meski kakinya telah kesemutan karena menahan berat tubuh wanitanya.


Di dalam lift, "eungh!" Yeri menggeliat dalam gendongan sang suami.


Samar-samar Indra penciumannya mengendus aroma parfum yang akhir-akhir menjadi akrab dengan hidungnya. "Za, kita sudah sampai? Oh, masih di dalam lift," gumamnya setelah sadar dan mengamati sekitarnya.


"Tidurlah, masih mengantuk 'kan?" Altez bertanya dengan senyuman manisnya.


"Turunkan," Yeri bergerak meronta perlahan.


"Tidak," tolak Altez dengan sengaja mengayunkan tubuh sang istri hingga sedikit terlonjak ke atas dibarengi dengan suara lift yang terbuka.


"Za, aku malu," Yeri clingukan mengamati sekitarnya.

__ADS_1


"Kenapa malu, kamu istriku, dan ini adalah hunian kita. Kenapa harus malu?"


"Za, tolonglah. Jangan begini, bagaimana membuka pintunya jika aku begini?" tanya Yeri dengan wajah menahan kesal.


"Cium dulu baru aku turunkan," pinta Altez dengan tatapan menggoda.


'Apa-apaan sih dia ini, drama sekali,' batin Yeri berdecak kesal.


Cup!


Satu kecupan mendarat di pipi kanan Altez yang sebenarnya masih lebam karena tonjokan Bisma. "Auh!" keluhnya.


"Kenapa?" tanya Yeri yang lupa jika sebenarnya wajah suaminya masih mengalami lebam-lebam.


"Pas kena yang bekas di tonjok Bisma, jangan di situ, di sini saja sayang," Altez memonyongkan bibirnya dan memejamkan matanya dengan kedua tangannya yang kembali mengayunkan tubuh sang istri.


"Za! Iya, iya aku cium," ucap Yeri yang akhirnya menurutinya meski tidak sepenuhnya ikhlas.


Altez tersenyum senang saat kemauannya di penuhi dan ia membalas ciuman sang istri dengan beberapa kali kecupan di bibirnya. Bertepatan dengan itu, juga muncul seorang wanita yang tengah berjalan dan berhenti tepat di depan mereka sekedar untuk bertegur sapa.


"Ehem!" Vina sengaja berdehem untuk mendapatkan atensi.


Altez dan Yeri menoleh. "Vina? Hai Vin! kenalkan dia istriku, dia juga tengah hamil sama sepertimu. Kamu kenapa di luar malam-malam begini?" tanya Altez dengan ceria ia sudah melupakan sebab mengapa istrinya marah.


"Em, lagi nungguin suamiku Al. Aku memintanya untuk mencari kue lupis, entahlah ngidamku suka tidak lihat waktu. Kadang kasihan aku dengan suamiku, tapi mau bagaimana lagi. Jika tidak dituruti aku tidak bisa tidur sampai pagi," jawab Vina dengan sesekali mengusap perutnya juga memberikan senyuman manisnya.


"Oh, iya Mbak ini yang tadi pagi ketemu dan langsung pergi kan?" tanya Vina dengan mengingat kembali kejadian tadi pagi di restoran. "Padahal tadi pagi aku mau ngobrol banyak dengan dia, tapi Mbak langsung pergi jadi dia juga langsung mengejar Anda."


"Em, tadi pagi aku sangat buru-buru dan tidak sempat mengulur waktu lagi. Ada rapat penting soalnya," jawab Yeri dengan senyum kikuk.


"Oh, begitu. Bagaimana Mbak, apa dia sudah jinak?" tanya Vina sambil menahan senyumnya dan melirik Altez yang seketika wajahnya menjadi merah terutama telinganya.


"Jinak?" Yeri mengernyitkan alisnya.


Vina terkikik kecil dan menepuk-nepuk pundak Altez. "Iya, dia ini buaya Mbak. Dulunya, sih begitu. Semasa SMA, hampir semua wanita pernah dipacarinya. Anehnya, dari mereka yang diselingkuhi Al ini, tidak ada yang snaggup membuat perhitungan dan hanya memaafkan setiap Al membuat kesalahan. Termasuk saya yang bodoh saat itu." kata Vina yang menertawakan masa lalu saat mereka remaja.


"Jadi Mbak juga mantannya?" tanya Yeri dengan tatapan mengerikan mengarah pada Altez.


"Iya, kami dulu pacaran 1 Minggu. Hahaha, cinta monyet."


"Belum sih Mbak, dia belum jinak," kata Yeri yang juga ikut tertawa kaku.


"Sudah sayang, aku sudah jinak Vin. Dia ini pawangku. Udahlah pokoknya dia yang terakhir, ya nggak sayang?" tanyanya sembari memainkan alisnya seolah dia adalah mahluk tertampan di Dunia.

__ADS_1


"Nggak!" ketus Yeri menjawabnya.


"Iya, kamu pawangnya. Pokoknya udah tobat aku sama kamu aja nggak tengok- tengok lagi," ucap Altez dengan nada manjanya.


"Sayang, kamu di sini? Ngapain, ini sudah malam loh," kata Suami Vina yang berjalan sembari membawa bungkusan putih.


"Ini, Mas aku ketemu temen lama aku yang kemarin aku ceritain ke kamu itu loh,"


"Oh yang playboy itu? Yang pacar 1 Minggu kamu?" tandas Suami Vina membuat Altez menelan ludahnya kasar dan Yeri tertawa terpingkal-pingkal.


"Yeri," Yeri mengulurkan tangannya berkenalan dan di sambut baik dengan Wildan.


"Wildan," ucapnya kemudian yang juga berjabatan tangan dengan Altez.


"Wildan."


"Altezza."


"Ini sayang yang kamu mau, ayo kita masuk. Besok lagi ngobrolnya, sudah malam, kita istirahat." kata Wildan yang kemudian merangkul pinggang sang istri dan sesekali tangannya bergerak mengusap punggung istrinya.


"Mbak, mau nyicip? Kebetulan ini agak banyak belinya," kata Vina yang masih berdiri berbasa-basi menawari.


"Apa boleh? Sebenarnya aku penasaran apa itu pukis?" tanya Yeri dengan polosnya.


"Ini, pokoknya enak. Aku juga tidak tahu, bahan-bahannya dan bagaimana buatnya. Tapi aku tahu di mana tempat membelinya,"


"Oh, enak!" seru Yeri.


"Kita bagi dua ya," kata Vina yang kemudian membagi pukis tersebut dalam dua wadah yang ada di dalamnya.


"Ayo Mas," Vina mengajak Suaminya. "Mbak, Al, kami pulang ya?"


"Iya, terima kasih Vin," ucap Altez yang diangguki oleh Vina dan Suaminya, sedangkan Yeri mulutnya sudah dipenuhi dengan pukis.


"Apa seenak itu?" tanya Altez sembari membuka pintu.


"Iya, kamu mau Za?"


"Mau kalau dikasih," jawab Altez yang kemudian membukakan pintu untuk Yeri.


"Bagaimana, apa masih marah? Sudah tahukan apa kisah kami? Hanya cinta monyet, dan lihat sekarang kami hanya teman biasa." Altez menjelaskan bagaimana hubungan mereka di masa lalu beserta bukti nyata.


"Memangnya siapa yang marah?" cicit Yeri yang tidak mengakui bentuk kemarahannya seharian ini.

__ADS_1


"Kenapa sih, tinggal bilang. Sayang, aku cemburu! begitu saja susahnya minta ampun? Hum? Padahal aku sangat senang kalau kamu bilang begitu. Cemburu itu tanda Cinta sayang. Mengakulah," ucap Altez membujuk sang istri.


"Siapa yang cemburu?" desis Yeri tanpa mau melihat wajah Altez. Pipinya sudah memerah bak udang rebus di tambah saus sekarang.


__ADS_2