PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
71. Inggin berubah


__ADS_3

"Tidak ada sejarahnya aku cemburu denganmu, aku hanya ingin pergi sejauh-jauhnya darimu," kata Yeri dengan menunjukkan ketidaksukaannya.


Altez yang tadinya menyunggingkan senyuman seketika musnah dan berganti dengan rasa kecewa. Ia kemudian memeluk paksa Yeri semaunya dan menempatkan bibirnya di pipi sang istri. Altez seolah sengaja ingin membuat rambut-rambut halus di tubuh Yeri meremang.


"Kalau sama suami itu ngomongnya harus baik-baik sayang, jangan seperti itu. Lagian berkali-kali aku sudah bilang sama kamu kan. Aku nggak bakalan mau cerai sama kamu kecuali cerai mati," ucap Altez.


Yeri melirik Altez yang menyembunyikan wajahnya dalam ceruk lehernya. "Ka...." belum selesai Yeri berbicara, Altez sudah menyambarnya lagi.


"Dede, tolong kasih tau Mama sayang, Papa sudah taubat sekarang, sudah ada kamu. Papa hanya akan memberikan seluruh milik Papa untuk kalian," Ucap Alteez sembari mengelus perut Yeri yang masih rata.


"Cih!" Yeri berdecih. "Kamu taubat?" Ia menunjukkan ketidakpercayaannya.


Tidak mungkin secepat ini dia taubat. Mungkin ini hanya pengalihan dari rasa sedihnya karena kematian mantan pacarnya-Nella. Batin Yeri.


Ternyata benar perasaan dan keyakinanku selama ini. Dia hamil dan mengandung anakku. Mulai sekarang aku harus menunjukkan keseriusanku pada keluarga kecilku. Batin Altez dengan tangan yang terus saja bergerak perlahan mengusap perut rata Yeri.


"Istriku, tolonglah percaya padaku. Aku benar-benar ingin berubah, aku tidak mau menjadi Altez yang dulu," ucap Altez penuh penekanan.


Yeri tetap diam dan tak memberikan balasan dari setiap sentuhan yang Altez berikan. "Aku butuh bukti Papa, bukan janji," jawab Yeri dengan menirukan suara anak kecil membuat Altez mengulum senyumnya.


"Bukti?" Altez menaikkan kedua alisnya dengan mulut yang tersenyum bahagia. "Besok ikut Papa ya, ke kantor Papa. Sebentar saja," ucap Altez seolah ia sedang berbicara dengan buah hatinya secara nyata.


Yeri memiringkan wajahnya dan kini mereka saling berhadapan. Ia hanya bercanda tadi saat menjawab pertanyaan Altez. Ia tidak tahu bila Altez akan meladeni dengan sangat serius seperti ini.


"Mau apa mengajakku ke kantor?" tanya Yeri dengan wajah penuh dengan raut kecemasan.

__ADS_1


"Apa sih sayang, aku bukan mengajakmu. Tapi, aku mau mengajak Dede, ya?" kata Altez sengaja menggoda Yeri.


"Sama saja Za, dia masih berada di dalam perutku," kata Yeri berdalih.


Altez kemudian memiringkan tubuhnya dan mereka kini saling berhadapan. Nafasnya menerpa kulit putih mulus wajah Yeri dan membuatnya merasakan sengatan listrik statis dalam tubuhnya. Tetapi, sebisa mungkin Yeri menyembunyikannya.


"Sayang, dengarkan aku,." Altez menyelipkan ank rambut Yeri ke belakang telinga. "Sekarang, ada Dia diantara kita, aku tidak ingin seperti mendiang Ayahku yang menelantarkan istri yang sedang hamil besar dan anaknya. Aku juga tidak mau anakku tumbuh menjadi sosok yang kurang kasih sayang sepertiku," ucap Altez seolah kembali membuka luka lamanya.


"Aku ingin anak-anakku memiliki keluarga yang utuh dan lengkap. Cukup aku saja yang sengsara, anakku jangan." Altez menatap Yeri dengan sendu. Pelupuk yang menimbun air mata hingga menggembung itu perlahan mulai merasakan panas dan meleleh.


"Aku mencintaimu sayang, aku banyak mengalami perubahan baik setelah bertemu dan menikah denganmu. Terima kasih." Altez menatap tulus Yeri.


Yeri tak berbicara apa-apa, perlahan tangannya bergerak halus mengusap bagian belakang kepala Altez seolah tahu kalau apa yang Altez katakan adalah gambaran kesedihan yang lama terpendam. "Iyakah?" Yeri memicingkan matanya.


"Aku tidak percaya, Ssshhh--- sepertinya kamu mulai mengeluarkan rayuan maut?"


"Cup!" satu kecupan mendarat di bibir Altez.


"Jangan bicara seperti itu, baru saja kamu bilang ingin membesarkan nak kita dengan penuh kasih sayang. Kalau kamu kehilangan nyawa maka aku akan jadi janda dong? lalu..." Yeri menghentikan perkataanya sebab Altez sudah menyumpal mulutnya dengan bibirnya.


Awalnya terkejut dan diam, tapi lama-lama eri juga memberikan balasan dan perlawanan. Ia juga menikmati setiap sentuhan dan luma*an dari kenyal dan manis bibir Altez. Permainan ciuman itu berhenti dengan tiba-tiba di tengah jalan menyisakan Altez yang melongo dan bersiap kembali untuk menyerang.


"Stop!" Yeri mendorong bibir Altez untuk menjauh. Altez menatapnya bingung.


"Kenapa?" tanyanya yang merasa tanggung karena permainan berhenti.

__ADS_1


"Kamu masih merokok?" Yeri menelisik dengan tatapan mata mengintimidasi.


Altez meringis seperti kuda. ia memamerkan jajaran giginya yang putih. "Hehehe, iya sayang," jawabnya.


"Berhenti merokok demi kami, atau jangan pernah menyentuhku apalagi menciumku. Sisa nikotin yang menempel di rongga mulutmu itu bisa tertelan dan itu tidak baik untuk janin. Kamu mau nanti anak kita lahir dengan mulut yang bau tembakau dan bibir yang hitam?" cecarnya.


"Tapi, sayang itu berlebihan sekali," sanggah Altez.


"No! itu fakta, bukan mitos, aku tidak mau anakku nantinya menjadi bahan bully-an seperti Mamanya dulu. Cukup aku saja," kata Yeri bersikeras dengan pendapatnya.


"Kita tidak pernah tau efek dari kandungan zat beracun dalam nikotin itu se-bahaya apa terhadap tumbuh kembang janin Za. Aku tidak mau terjadi apa-apa terhadap fisik anakku dan banyak yang akan menghinanya," ucap Yeri seolah membaca catatan lama dari masa kecilnya.


"Iya sayang, demi kalian mulai detik ini aku akan berhenti. Tetapi sebelum itu, boleh ya ku habiskan dua batang rokokku yang masih ada itu?" Altez menunjuk rokoknya yang ada di atas meja.


"Silahkan, tapi di luar dan jangan sampai asapnya masuk ke dalam ruangan ini." Yeri mengajukan syarat.


"Oke!" Altez bangkit dan sedikit berseru lu secepat kilat ia menyambar rokoknya dan pergi meninggalkan Apartemen Yeri.


Altez segera turun dan menuju ke area terbuka untuk menghisap rokoknya. hatinya benar-benar senang saat ini karena Yeri sudah mau menerima perasaanya. Kebahagiaanya semakin berlipat ganda kala Yeri memberikan ia satu janin yang beberapa bulan ke depan siap dilahirkan ke dunia ini dan menjadi pemilik darah Tuan Altezza Basman.


Saat tengah menyesap rokoknya sebagai salam perpisahan, Altez d kejutkan dengan kehadiran serang wanita cantik yang berpakaian minim. Wanita itu memaki kacamata hitam dan membukanya tepat di hadapan Altez.


Dari penampilannya, wanita itu terlihat sudah bersuami. Dia terlihat membuncit dan hanya menggunakan sendal dengan sol rendah. Ia menyapa Altez dengan caranya yang sungguh mengejutkan bagi Altez.


"Altez? Long time no see," ucapnya yang berbarengan dengan gerakan tubuhnya yang condong ke depan dengan lipstik merah yang menyapa pipi putih Altez.

__ADS_1


"I miss you so much, Did you see this Daddy?" tanyanya dengan tawa renyah dan tangan yang mengusap percaya diri perut buncitnya.


__ADS_2