
...πΌπΌπΌ...
"Awas, aku mau mandi." Ketus Yeri yang masih berusaha mengontrol dirinya sendiri.
Altez mengulum senyumnya dan mengekor di belakang Yeri. "Berarti nanti malam, untuk membuktikan kesungguhanku, kita tidurnya satu kamar ya?"
Yeri menghentikan langkahnya dan berputar menghadap Altez. "Enak aja! kamu tidur di depan TV."
"Enggak bisa gitu lah Yer, kita butuh memperkuat ikatan kita. Kita butuh Bounding and Quality time."
"No! bounding aja sana sama guling. Enggak ada begituan."
"Tapi Yer, barang barangku masih di kamar tamu dan ada Joana di sana. Gimana, aku tidak bisa keluar masuk kan? Jadi... aku pindahkan barang-barang ku ke kamar kita ya?"
Iya sih, barang barangnya masih berada di kamar tamu. Kenapa semuanya jadi begini sih? ini bukannya aku yang menyiksa dia tapi dia yang menyiksa aku. tapi tunggu..., Aku merasa nyaman dan tenang kalau ada dia di sekitarku.
"Ya sudah, pindahkan saja barang barangmu."Kata Yeri yang membuat Altez tersenyum senang. "Tapi kamu tidur di lantai." Kata Yeri yang seketika membuat Altez layu dan kehilangan mimpinya.
Ok, itu lebih baik daripada harus seperti semalam, aku tidak bisa tidur karena mencemaskannya yang menangis. Batin Altez bersyukur.
Yeri sibuk dengan ritual mandinya dan Altez masih dengan berjalan pincang karena kakinya yang sakit harus berwara-wiri mengurus barang barangnya.
"Kakimu sudah sembuh?" tanya Yeri sambil bercermin dan merias diri.
Ah, dia sangat perhatian padaku. Batin Altez senang.
"Masih sakit, tapi sudah lebih baik." Jawabnya,
"Oh, kukira semakin parah dan butuh tindakan amputasi. Kalau iya, bilang ya?" Yeri mengolok kaki Altez.
Altez tercengang dengan perkataan istrinya yang tanpa filter itu. Seolah Yeri sangat mendambakan kesialan menimpanya. "Kamu sangat senang jika melihat suamimu yang tampan ini terluka." Altez menggerutu lirih tapi terdengar jelas di telinga Yeri.
"Tampan? iya sih aku akui kamu tampan. Buktinya banyak perempuan yang suka sama kamu. Tapi, akhlakmu jelek!" Yeri mengucapkannya sembari memakai eyeliner.
Altez yang sedang menata baju tiba-tiba menghambur memeluknya. "Jangan bilang begitu, nanti anak kita dengar. Yer, aku ingin berubah demi Mama, kamu dan anak kita." Altez berbicara dengan lembutnya dan menciumi leher jenjang Yeri. "Ga boleh menolak suami, dosa loh." Imbuhnya lagi mematahkan niatan Yeri untuk memberontak.
"Anak siapa? aku tidak hamil!" Cetus Yeri dengan satu tangannya yang menghalangi bibir Altez yang siap menelusuri leher jenjangnya. "Cium lagi aku remas ya bibir kamu." Ancamnya kesal.
"Galaknya, tapi ngangenin (π)." Altez mencium pipi Yeri.
"Dasar Buaya!" Umpat Yeri geram, pasalnya matanya tercoreng dengan Eyeliner yang tadi ia kenakan.
__ADS_1
"Buaya itu setia sayang, mereka hanya akan punya satu pasangan selama masa hidupnya."
"Iya, mereka setia kalau masih di air. Kalau di darat? Jadi seperti kamu ini." Yeri mencibir kesal. Tapi ucapannya itu malah semkin membuat Altez mengeratkan pelukannya dan menghujani lehernya dengan ciuman meski terhalang rambut panjangnya.
"Si galak." Gumam Altez dengan gemas dan hawa senang yang melingkupinya.
"Awas, jauhan! aku mau dandan dulu!" yeri meronta dan pada akhirnya Altez mengalah lalu melepaskannya.
...πππ...
Di ruang kerja Bisma.
"Belum ada dua bulan, sudah muncul saja berita seperti ini. Apa Yeri benar-benar mencintai dan bahagia bersama Altez ya? sampai-sampai dia sama sekali tidak terpengaruh berita miring seperti ini." Bisma berbicara pada layar monitornya.
Bisma duduk memutar lalu menaikkan kedua kakinya dan bersilang di meja. Tatapan menghadap ke langit-langit. "Kenapa dari sekian banyak wanita aku malah menyukai kamu Yeri? aku tau ini salah, tapi aku juga tak bisa mengendalikannya."
Di saat seperti ini merupakan saat yang baik bagi Bisma untuk mendekati Yeri. Ia pikir seperti pasangan pada umumnya yang jika diterpa maslaah akan saling berjauhan bahkan segera bercerai.
Namun....
Tidak dengan pasangan aneh ini yang malah tetap berdekatan meski di tengah badai yang menerjang.
"Ah, Joana." Bisma memiliki ide di kepalanya.
Tak menunggu lama, Joana segera mengangkat panggilannya.
"Hallo ada apa?" Joana menjawab tapi dengan nada kesal.
"Eh, kenapa marah-marah? aku belum tanya apa-apa." Bisma menggumam.
"Hooh! aku setres menghadapi si pembuat maslaah Nella. Ada apa?"
"Nella? sepagi ini?"
"Iya, Dia datang mencari Aktez di rumah Yeri. Ada apa kamu banyak tanya?" Joana masih berbicara dengan nada kesalnya.
Bisma seakan ragu. "Emm.... apa hari ini Yeri berangkat ke kantor?" Tanyanya.
"Iya, dia berangkat."
Tut....!
__ADS_1
Panggilan terputus secara sepihak menyisakan Bisma yang semakin penasaran dan bertanya-tanya dalam hatinya.
"Kalau dia berangkat... Ah aku akan menunggunya di kantornya." Bisma segera menyambar kunci mobil pemberian Yeri dan menuju ke kantor Yeri.
Sementara itu di tempat lain..
Seorang wanita tengah meringis memijat kakinya yang terkilir akibat pertengkarannya dengan Joana. Masih untung dia Joana tidak membantingnya.
"Si4l...!" Nella mengerang kesal dan memukul-mukul pahanya.
"Apa benar semudah itu Altez berpaling? semudah itu? baru berapa bulan dan dia sudah memiliki wanita lain di hatinya?" Nella masih tidak percaya.
Nella berdiri dan berjalan pincang. "Auh!" Rintihnya.
Pergulatan tadi membuat Joana mengambil tindakan keras dengan mendorongnya hingga terjengkang kebelakang dengan heelsnya yang tinggi membuatnya terjatuh. Nella yang kesakitan dan mengeluhkan perutnya sama sekali tidak di gubris oleh Joana yang meninggalkannya begitu saja.
Satu hal disini yang Joana lupakan dan mungkin akan menjadi bukti yang kuat untuk Altez suatu hari nanti.
Di kamar Yeri.
"Jangan terlalu cantik Yer." Protes Altez saat melihat Yeri berdandan.
"Apa tidak bisa kamu ke kantor dengan tampilan seperti Yania saja?"
Yeri menghentikan kegiatannya yang sedang memasukkan beberapa dokumen kedalam tasnya. "Apa maksudnya, kamu lebih menyukai Tania daripada Yeri?" Tanyanya dengan tatapan mata yang sulit di artikan.
Jujur saat ini aku sangat merasa nyaman jika melihatmu keluar sebagai Yania dan bukan sebagai Yeri. Batin Altez yang kemudian duduk lalu menatap datar Yeri yang sedang bersiap.
Yeri yang selesai bersiap segera bangkit dari duduknya tanpa menunggu jawaban dari suaminya.
"Aku menyukai semua yang ada padamu istriku. Tidak perduli itu Yania atau Yeri. Bagiku kalian sama saja."
Ucapan dari Altez membuat Yeri tertegun.
"Siap? aku antar ya?" Ucapnya lagi yang seolah sudah menjadi budak cinta dari seorang Yeri.
Perangai Altez berubah 180Β° dan Yeri hanya bisa mengerutkan keningnya melihat perubahan ini.
"Aku bisa berangkat sendiri." Yeri menolaknya.
Altez mendekat lalu menangkup wajah Yeri dan memberikan serangan mendadak berupa kecupan sayang di kening.
__ADS_1
"Ya sudah kalau mau berangkat sendiri, I Love you!" Ucapnya yang menutupnya dengan kecupan sayang di kening.
Apa dia benar-benar sudah berubah? dalam satu malam? tidak mungkin.