PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
14.


__ADS_3

...🐦🐦🐦...


...POV Yania....


Sumpah, saat ini aku masih sangat berhati-hati dengan dia si menyebalkan yang dengkurannya teramat kencang. Entah berapa keras dengkurannya itu, tapi kurasa bisa membuat gendang telingaku berdarah.


Dari kemarin prilakunya berubah manis padaku, Aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu yang busuk di belakangku.


Hari ini ada kegiatan bakti sosial di sekolah kami, aku sebagai wali dari kelas A, yaitu kelas dengan murid yang terkenal berprestasi dan penurut bertugas membimbing mereka untuk menyalurkan bantuan.


Tidak banyak, tapi bantuan yang kami berikan ini bisa membuat orang lain tersenyum bahagia. Mereka semua tidak tahu jika setiap semesternya pasti selalu ada donatur tetap yang mengisi kas mereka dan mengatas namakan hamba Allah.


Itu aku, Ya aku menyumbangkan seluruh gajiku satu bulan untuk mengisi kas mereka. Aku hanya ingin melatih mereka untuk berbuat baik tanpa memandang fisik. Sebab diantara mereka yang kurang beruntung, selalu saja ada yang memiliki kekurangan itu, baik sedari lahir atau karena kecelakaan.


Dan aku, aku yang dahulu pernah di hina habis habisan, ingin membuktikan pada semuanya jika tampang itu hanyalah bonus, sedangkan yang utama adalah hati.


"Mau kemana?" Tanyanya yang membuatku berjingkat kaget.


Rupanya ini merupakan hobi barunya yang bisa muncul dimana saja dengan tiba-tiba.


"Mau ada kegiatan sama anak-anak Mas." Jawabku dengan wajah yang kubuat semanis mungkin meski aku tahu, apapun aku di hadapannya akan selalu jelek.


Aku hanya melirik, dan terlihat dia menganggukkan kepalanya.


"Pulangnya?" Tanyanya lagi yang masih berdiri di sampingku.


"Mungkin agak malam. Soalnya kita agak jauh sih. Kedesa." Ucapku menjelaskan padanya. Ya, yang aku tahu, mau aku bercerita sampai berbusa pun, itu tidak akan menarik perhatiannya.


"Oh.." sahutnya.


Tuh kan, hanya Oh saja. Sudah pasti tidak ada yang lainya lagi. Aku yakin itu.


Aku mulai menata perlengkapan dan memakai sepatu boot, lalu mengikat rambutku ke atas dan melepas kacamataku dan menggantinya dengan softlens. Terasa susah saja jika harus menggunakan kacamata, soalnya Medan yang kami tempuh nanti lumayan berlumpur. Tapi meski begitu aku tetap membawanya untuk sekedar berjaga-jaga.


"Aku berangkat Mas." Kataku yang sebenarnya hanya berbasa-basi padanya. Aku tahu tak penting juga baginya apapun kegiatanku.


"Hemm!" Hanya deheman itu yang ku peroleh.


"Tidak bawa mobil?" Dia berteriak menanyaiku dan menyusulku sampai ke depan pintu keluar.


"Tidak, bareng sama anak-anak." Jawabku.


Aku kemudian memilih untuk fokus pada diriku dan segala perlengkapan yang kami bawa. Tak lama satu mobil pickup dan satu mobil pribadi datang, juga ada satu motor matic di depan kedua mobil tersebut.


Mereka semua bersorak-sorai gembira menyambutku. "Ini Rumah ibu?" Tanya mereka dengan ramainya.


"Iya, sudah siap semuanya?" Aku sejujurnya malas jika mereka banyak bertanya mengenai rumahku. Secara otomatis hal itu juga akan merembet kemana-mana.


Dan benar saja.


"Wah, itu suami Ibu? Tampan sekali?" Para murid wanita yang melihat Altez baru beberapa menit sudah hampir meneteskan air liurnya.


"Halo semuanya, Perkenalkan saya Altez, suami dari Bu Yania." Ucap Altez dengan wajahnya yang di buat buat sok manis dan baik seolah dia adalah lelaki idaman sejagad raya.


"Hallo Pak Altez!" Sapa mereka secara bersamaan dengan riuhnya.


Sumpah, aku malas jika harus berpanjang lebar dalam drama ini. Dia dengan wajahnya yang menyebalkan dan mereka yang begitu genit menarik perhatian.


"Ayo Bu, kita berangkat." Ucap Pak Reza dan juga beberapa guru yang lainnya yang juga ikut serta dalam cara ini.


Huft...., Untung saja ada Pak Reza yang sangat pandai membaca situasi ku saat ini. Thank you pak Reza, you are the best!! Aku tersenyum kepadanya.


Tapi....

__ADS_1


Saat aku hendak berangkat, ada sebuah tangan yang mencekal pergelangan tanganku lalu memasang wajah palsunya sembari tersenyum dan berkata. "Hati hati ya sayang, jangan pulang malam malam." Ucapnya berakting.


Huek...! aku ingin muntah rasanya. Bisa bisanya dia seperti ini?


"Oh, manisnya....!" Seru para muridku yang memasang wajah mendamba.


Kalian hanya tahu luarnya saja, dan akan menyesal jika tau yang sebenarnya. Dia ini buaya yang lepas dari penangkaran.


"Iya Mas." Balasku dengan suara lembut mendayu. Saat ini aku jijik sendiri dengan tingkahku.


"Ibu, anda sama Vito saja sebagai penunjuk arah. Kami biar di belakang." Ujar Wiwin yang mengedipkan satu matanya padaku memberikan Singal, tapi signal. apa? Aku pun tak tahu.


Vito, si murid teladan yang tampan dan baik hati. Andai saja di jamanku dulu dia ini ada, atau dia terlahir sama tahunya denganku, sudah pasti aku akan memburunya untuk menjadi jodohku di masa depan. Tak perduli di tolak, pokoknya maju terus bestie...


Aku pun kemudian mulai menaiki motor dan memakai helm. Ingat, kaitkan pengait sampai bunyi KLIK!


Semua berjalan aman, damai dan tentram sampai tiba- tiba motor yang aku dan Vito naiki mengalami pecah ban. Dan sialnya itu terjadi saat kami sedang dalam perjalanan pulang.


"To, apa kamu hapal daerah sekitar sini?" Tanyaku pada si murid yang tampan ini. Jika saja aku tengah hamil, maka aku akan sering membatin dan jilid dengan dia. Ya, biar anakku nantinya bisa mirip gitu.


"Di depan sana nanti ada bengkel Bu." Jawabnya yang menunjuk arah depan dengan dagunya. "Ibu tidak usah mendorong, biar saya saja." Ucapnya lagi sambil tersenyum manis kepadaku.


"Ah, tidak apa-apa. Biar cepat sampai kan?" Ucapku.


Akhirnya kami sampai di bengkel. Apa yang kami lakukan? Ya tentunya hanya bisa menunggu sampai tukang tambal ban menyelesaikan tugas kenegaraannya. Apalagi kalau bukan meraba, merasa, menambal!


"To, tinggal satu tahun lagi kamu lulus. Rencana mau kemana?" Tanyaku berbasa-basi pada muridku untuk mengurai kejenuhan dan rasa canggung kami.


"Tidak kemana-mana Bu, paling pulang kuliah ya langsung kerumah." Jawabnya.


Eh, apa nih anak? ngebanyol atau apa? Dia pasti tau kan? iya kan? iya dong? Apa maksud dan arah pembicaraan saya? Aku hanya melongo mendengarkan jawabannya yang datar.


Sekejap kemudian dia Tertawa. "Bercanda Bu, Palingan saya langsung kerja. Mau kuliah juga, kan Ibu tahu Ayah saya baru meninggal dan keluarga saya juga jatuh sejatuhnya."


"Em... To, kamu mau jadi adik angkatnya Ibu?" Tanyaku padanya dengan ragu-ragu.


Dia terkesiap dan menatapku dengan sejuta tanya. Sejujurnya aku hanya ingin membantu' siswa teladan sepertinya, tapi sayang dia yang seharusnya ikut pertukaran pelajar, harus tereliminasi karna tidak lolos saat mengikuti tes.


Bagaimana bisa lolos? jika saat test bertepatan dengan hari kematian Ayahnya. Dia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali dan hanya menangis sepanjang jalan ku antarkan pulang. Aku masih sangat ingat hari itu.


"Maksudnya Bu?" Tanyanya dengan wajah polosnya.


"Maksudnya, Ibu nanti yang akan membiayai pendidikan mu kejenjang yang lebih tinggi." Kataku serius.


Dan lihat dia, alih-alih menjawab tawaranku, dia malah menangis tertunduk. Aku tidak tau dia menangis karena senang atau sedih.


"Kenapa malah menangis?" Tanyaku padanya.


"Bu, aku sangat bahagia mendengarnya. Akhirnya Tuhan mengabulkan doa ku dan mengirimkan malaikatnya." Dia kembali mengangkat wajahnya dang mengusap air matanya. "Terimakasih Banyak Bu." Ujarnya dengan bibir yang bergetar.


To, andai kamu tahu, Ayahmu dulu adalah salah satu staf terbaik di perusahaan ku. Inilah sebabnya aku ingin membalas kebaikannya dengan menjamin pendidikan mu.


Aku hanya mengangguk lalu mengusap punggungnya, agar dia tak terlalu bersedih lagi. Eh salah, dia hanya terlalu emosional.


Ban motor sudah siap untuk kembali berputar dengan baik. Kami akhirnya pulang, Vito, dia selalu punya ide untuk membuat percakapan denganku. Tidak seperti tadi dimana kami begitu canggung.


Siapa sangka jika kepulangan ku yang terlambat akan mendapatkan penyambutan yang hebat?


Suami abal-abal ku, Dia sudah berdiri sambil bersendekap Dada dan menatapku tajam. Bahkan saat Vito berpamitan pun, Dia tidak menanggapi sama sekali.


"Bagus! pulang malam terus!" Ucap suami ku yang menyebalkan. Agaknya dia siap menceramahi ku.


Aku tak menggubrisnya dan memilih nyelonong masuk lalu menuju ke kamar utama.

__ADS_1


Tapi...


"Mas Eza!" Aku kesal, marah dan sebel bukan main.


Kamarku seperti kamar yang tak bertuan. Berantakan dengan sprei morat Marit dan juga bungkus Snack ada dimana mana. Juga cangkir kopinya yang berada di atas meja riasku.


Altezza Basman, ku bunuh kau! Aku hanya sanggup mengerang dalam hati. Memegang pisau lalu mencincangnya, Ah tidak... jiwaku ini halus dan lembut seperti tepung terigu.


"Ada apa teriak teriak?" Tanyanya seolah tanpa dosa dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi yang bisa ku terka.


Aku diam dan malas berdebat, Aku lebih memilih untuk mengalah membereskan kamar dan pergi mandi. Sementara dia?


Dia mendengkur dengan begitu hebatnya. Membuatku bertanya-tanya, apa wanita-wanitanya yang lain bisa sanggup mendengarkan dengkurannya yang sangat heboh ini?


Aku kemudian pergi, setelah tak kuasa menahan dengkurannya. Mataku bengkak, mengantuk, tapi tak bisa terlelap.


Menggelar matraz tipis di depan TV lalu membaca buku disana, dan aku terlelap dengan damainya.


Pagi harinya.


Masih saja kelasku dilakukan secara online, dan itu membuatku harus terbangun di jam yang dimana mataku masih sangat lengket.


Aku terus menguap saat sedang menunaikan ibadahku di jam 5 pagi. Selama aku menjadi istrinya, dia belum pernah sama sekali memerintahkan atau mengajakku solat sama sekali. Sungguh dia bukan imam idaman.


Seperti biasa, aku hanya membuat sarapan pagi untuk diriku sendiri. Dia, dia tak masuk hitungan. Biarkan saja dia kenyang melahap dengkurannya.


Tak seperti biasanya, disaat pagi dia akan mengacaukan hatiku, tapi pagi ini tidak. Dia duduk anteng dan manis membaca sesuatu di ponselnya dan tak menggangguku.


Ada apa ini?


"Yaya...., satu bulan ini aku akan pergi ke luar kota. Kamu tidak apa-apa kan di rumah sendiri?" Tanyanya tanpa melihatku.


"Iya Mas..." Jawabku dengan mendayu-dayu berharap dia akan jengkel, lalu kesal, marah, dan melempar ponselnya ke lantai.


Tapi.... tapi.... dia tak bereaksi.


"Mana sarapanku? aku ingin memakan masakan istriku sebelum berangkat." Ujarnya yang sungguh membuat telingaku geli.


Haduh, merepotkan saja.


"Ya sudah, Mas makan dulu punyaku. Nanti aku buat lagi." Kataku yang malas berkutat di dapur lagi dan memilih untuk menyodorkan roti lapisku padanya.


"Makasih." Dia tersenyum menatapku lalu kembali makan.


Ah, Altez... andai saja kamu tidak dengan sikapmu yang playboy dan aku tidak dengan rasa dendam ku. Mungkin rumah tangga ini akan sempurna jika suasananya terus begini. Tanpa kegaduhan, tanpa adu ilmu dan strategi perang. Hhhh...... semuanya hanya angan.


"Aku bersiap dulu ya?" Ujarnya.


Eh, apa ini? kenapa harus pamitan? biasanya juga selonong boy dia.


Ah sudahlah, mungkin dia ada misi tertentu. Beberapa waktu, aku masih dengan kelas online ku dan dia sudah keluar dari kamar dengan rapi. Memakai setelan jas hitam dan menarik kopernya.


Dia berhenti sejenak di depanku, ada laptop diantara kami berdua.


"Kemarilah!" Dia memaju mundurkan jari jemarinya memintaku untuk mendekat.


Bodohnya aku yang menurut dan mendekat, mengira dia akan mengatakan sesuatu yang penting.


CUP!


Di..... dia mengecup keningku? Aku membeku dan terpaku. Sungguh aku menjadi patung sekarang. Benda kenyal itu begitu hangat dan Auh.....


Apakah ini yang di sebut hidayah?

__ADS_1


__ADS_2