
"Sudah siap?" tanya Altez ketika mereka berdua tengah bersiap untuk pergi memeriksakan kandungan Yeri.
"Sebentar lagi, ini masih pakai lipstik," jawab Yeri yang kemudian meratakan lipstik di bibirnya.
Altez menunggunya dengan terus berdiri di ambang pintu dengan tatapan kagumnya. Ia seolah begitu mendambakan dan memuja sosok Yeri. Sebuah tatapan yang mengatakan bahwa 'dia adalah istriku.'
"Sudah sayang, kamu sudah cantik," ujar Altez yang kemudian mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang Yeri.
"Boleh aku cium?" tanya Altez yang rupanya sedari tadi mendambakan sesuatu.
Yeri tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum dan menatap pantulan gambar mereka di cermin. Tatapan mereka bertemu dan seolah Yeri memberikan ijinnya melalui tiap-tiap kedipan matanya. Ia begitu malu menerima setiap perlakuan manis sang suami.
Cup!
"Jangan terlalu merah sayang, nanti banyak yang melirikmu. Aku tidak suka, pakai yang agak pucat saja," kata Altez sembari mengusap perlahan bibir sang istri.
Tatapannya seolah menodong, dan ia ingin sedikit memudarkan warna dari lipstik Yeri. Altez menciumnya perlahan, ********** dan bertukar Saliva perlahan dengan mata terpejam. Seakan keduanya begitu menikmati peranan dan perlawanan mereka masing-masing.
"Nah, begini saja," ujarnya setelah berhasil memudarkan warna dari lipstik Yeri.
'Inikah sikap aslinya terhadap wanitanya? Semanis ini dan berlaku pada semua wanita?' batin Yeri kala Altez selesai menciumnya dengan tatapan mata yang saling beradu mesra.
***
Albi, dia masih setia merawat sang Mama. Meskipun kini kesibukannya bertambah dengan mengurus perusahaan Mama Alda yang diwariskan kepadanya. Ia merasakan kelegaan tersendiri saat terakhir kali melihat Altez yang sudah jauh berubah.
Hari ini secara tidak sengaja ia bertemu dengan Altez dan juga Yeri yang sedang ingin memeriksakan kandungannya. Albi, merasakan kedekatan yang lebih ketika bersama Yeri. Ia menganggap Yeri memang sosok yang tepat dan bisa di jadikan acuan dalam mencari jodoh nantinya.
"Kak, mau ke mana?" tanya Albi pada Yeri.
__ADS_1
"Hai!" sapa Yeri yang baru menyadari keberadaan Albi yang baru saja keluar dari lobi rumah sakit.
"Kamu tidak kerja Bi?"
"Jawab dulu Kakak mau ngapain ke rumah sakit sendirian?" Ulang Albi bertanya.
"Oh, mau periksa kandungan," jawab Yeri sembari tersenyum manis.
Albi memandang ke sekitar dan tidak menemukan sosok Altez di samping Kakak iparnya itu. "Kakak sendirian? Mana Kak Al? Apa dia sibuk dengan wanitanya yang lain?"
Yeri mengulum senyumnya ketika adik iparnya itu menaruh curiga berlebih terhadap kakaknya sendiri yang tengah memarkirkan mobilnya. Parkiran penuh, dan Altez meminta Yeri untuk menunggu di lobi saja agar tidak kepanasan. Namum, justru hal itu mendapatkan kecurigaan dari adiknya sendiri.
"Itu, Kakakmu. Dia sedang memarkirkan mobil tadi," jawab Yeri sembari menunjuk Altez yang berjalan ke arahnya.
"Ada apa? Bi, kamu tidak kerja?" tanya Altez yang baru saja datang dan dengan segera melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Terlihat begitu posesif tetapi Yeri juga tidak menolaknya.
Altez seketika mencibikkan bibirnya dan bersiap untuk memukul kepala adiknya itu. "Aish! kurang ajar!" umpatnya kesal "Apa maksudnya? aku hanya memarkirkan mobil dan kau sudah bersiap menggantikan posisiku menjadi suaminya?"
Albi menempatkan satu tangannya pada saku celana dan satunya lagi sembari menggaruk sebelah alisnya. Ia terlihat teramat santai untuk menanggapi kemarahan sang Kakak yang meledak. Altez kesal karena ucapan Albi, meskipun, ia tahu jika adiknya ini hanya bercanda.
"Hhh, aku hanya berjaga-jaga saja. Siapa tahu kau kembali menggila maka aku akan dengan senang hati menjaganya sampai akhir hayatku. Apa salahnya menikahi mantan istri Kakak sendiri?"
"Yak! kurang ajar!" Altez berusaha untuk memukul Albi, namun sayang adiknya itu lebih gesit menghindar dan segera pergi sembari membagikan senyuman remeh.
"Kau lihat itu sayang, dia begitu kurang ajar terhadapku. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu," ucap Altez dengan emosinya.
Yeri hanya terkikik melihat sikap suaminya. Dia bahagia sebab dua Kakak beradik itu telah kembali akur meski cara bercandanya tergolong ekstrim. Namun, itu lebih baik daripada mereka saling menghindar untuk bertemu.
"Dia begitu karena sedari awal kamu memberikan contoh yang tidak baik. Dan sekarang hal tidak baik itu dia jadikan senjata untuk melawanmu. See, istrimu ini sebenarnya penuh pesona di mata para bujang," ucap Yeri yang kemudian berjalan mendahului Altez sambil menahan tawanya.
__ADS_1
"Oh, apa tadi katanya? Dia di senangi para bujang? Iya, memang benar. Selama ini dia sedikit berinteraksi hingga sedikit juga kenalan lelakinya. Kalau sampai istriku memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan sadar betapa cantiknya dia. Maka..." Altez melamun membayangkan bagaimana para bujangan memperebutkan istrinya.
"Ah, tidak bisa. Dia istriku, hanya aku yang boleh memilikinya," gumam Altez yang kemudian menggelengkan kepalanya mengusir segala pemikiran buruk.
***
"Usia kandungannya menginjak 5 Minggu ya Pak, Bu." kata Dokter yang memulai sesi konsultasi sembari terus menggerakkan alat USG. "Lihat, baru berupa titik kecil ini saja."
"Dok, kenapa istri saya tidak mual-mual ya?" tanya Altez.
Aneh, sungguh aneh. Jika suami lain akan panik karena istrinya mengalami morning sickness atau evening sickness, maka Altez tidak. Ia malah panik karena istrinya tidak menunjukkan gejala itu sama sekali.
"Pak, tidak semua orang mengalami hal itu ya. Berbeda-beda setiap individunya, usianya masih begitu kecil, mungkin nanti jika sudah 10 Minggu ke atas akan muncul gejala itu." jelas sang dokter sambil tersenyum menanggapi keanehan Altez.
Yeri tersenyum senang mengamati setiap celotehan Altez yang memperhatikan dan banyak bertanya pada dokter terkait kehamilan istrinya. Altez menunjukkan bahwa kini dunianya hanya terpusat pada Istri dan calon anaknya. Tiada yang lain, dan itu juga membuat hati Yeri merasa lega dan bahagia.
"Lalu Dok, untuk hubungan suami-istri?" tanyanya dengan wajah polosnya.
Ini adalah pengalaman pertama baginya di mana edukasi kehamilan begitu penting. Ia tak mau salah penerapan dalam menyikapi setiap keluhan istrinya nanti. Altez benar-benar ingin menjadi suami siaga.
"Za," lirih Yeri sambil mengusap tangan snag suami yang berada di tepi ranjang. Ia malu mengenai pertanyaan menjurus sang suami.
"Apa sayang? Aku bertanya demi kesehatanmu dan juga Dedek, tidak apa-apa, ini edukasi. Jangan malu sayang," ucapnya yang tahu jika sang istri tengah malu dnegan pipinya yang memerah.
"Iya, Bu. Tidak apa-apa bagus malah jika suami istri membicarakan hal ini demi keharmonisan rumah tangga. Ibu ini sehat, dan selama tidak ada keluhan saya rasa masih aman untuk melakukannya. Hanya saja harus lebih terkontrol dan pelan ya Pak," kata sang dokter.
Mendengarkan penjelasan dari dokter, Altez kemudian tersenyum dan memainkan alisnya membuat Yeri yang sedang berbaring hanya bisa tersenyum dengan pipinya yang memerah menahan malu. Ada jutaan kupu-kupu di dalam perutnya kini yang menggelitik dan memintanya untuk membalas senyuman sang suami.
Ia bahagia menerima keseriusan Altez. Ia sama sekali tidak menduga jika si playboy ini bisa menjadi jinak dan setia begini. Tetapi, tidak menutup kemungkinan jika suatu saat nanti Altez akan mengulangnya kembali.
__ADS_1