
...~•~...
...~•~...
"Sudah siap?" Tanya Altez pada Yeri yang berpenampilan cantik meski hanya secepat kilat berdandan.
"Sudah ayo!" kata YEri yang berjalan mendahului suaminya.
Balutan gaun yang panjang selutut dengan warna macaron agak kebiruan membuat Yeri terlihat anggun dan elegan meski si pemakai gun sama sekali tak memiliki waktu untuk mandi.
Altez mengamati dari ujung rambut sampai ujung kaki penampilan istrinya. Lumayan batinnya menilai penampilan sang istri.
Altez sama sekali tidak mengetahui jika dalam acara makan malam ini akan hadir juga sang adik yang sudah 7 tahun tak pernah bertegur sapa ataupun bertatap muka dengannya. Mengapa hubungan kakak beradik ini tidak sehat, ada apakah sebenarnya?
"Nih!" Altez melemparkan kunci mobil pada Yeri yang dengan sigap menangkapnya.
"Kok aku Za? Kamu lah, aku baru pulang ya. capek." Yeri kembali melemparkan kunci pada suaminya yang sedari tadi hanya memasang wajah kaku.
Altez kembali melemparkannya pada Yeri. "Kamu aja kenapa sih, rewel banget! Aku pusing Yeri." Kata Altez dengan wajah lesunya.
Yeri mendekat dan memeriksa suhu tubuh sang suami. Eh iya loh, dia panas lagi. Batin Yeri setelah memastikan.
"Ya sudah kalau begitu kita batalkan saja." Kata Yeri setelah melihat wajah Altez yang pucat.
Altez menggeleng dan masuk kedalam mobil dan duduk. "Jangan, ini kemauan Mama, aku tidak akan bisa menolaknya. Dan ya, jangan bilang sama Mama kalau au sedang demam."
Yeri mendengus. "Tidak bilang bagaimana? Mama juga pasti aka melihat wajahmu yang pucat ini."
"Lalu bagaimana? Aku tidak mamu Mama mencemaskan keadaanku."
Yeri mengulurkan tangannya. "Janji dulu padaku setelah ini kita akan langsung menemui dokter. kamu dari kemarin panasnya naik turun terus Za. Udah deh ga usah ngeyel lagi."
"Iya aku janji. akan menemui dokter setelah ini. Tapi kamu temani aku." Ucapnya mengajukan syarat.
"Ok!" Yeri mengangguk dan melajukan mobilnya.
selama setengah jam dalam perjalanan Altez hanya tertidur dan tak banyak melakukan sesuatu yang berarti. Terlihat juga bibirnya kian pucat. Hingga saat sampai Yeri tak tega untuk membangunkannya. Tapi Altez bangun dengan sendirinya dan hendak turun dari mobil.
"Za, tunggu!" Kata Yeri yang mengambil langkah lalu memutar dan menunggu Altez di depan pintunya.
"Apa?" Altez menunggu dengan pasrahnya.
Yeri merogoh tasnya dan mengambil sebuah liptint . "Pakai ini biar tidak terlihat pucat." Kata Yeri yang mengoleskan liptint di bibir suaminya meski tanpa persetujuan dan kata Ya.
Sepersekian detik Altez mematung mengagumi juga mendalami karakter dari istrinya sendiri. Benar kata Mama, ada ketulusan di dalam matanya yang selalu ia tutupi untukku. Yeri... maaf aku sudah membuatmu terluka begitu dalam. Batin Altez penuh sesal.
"Lihat Bu, itu menantu dan Tuan Altez. Mereka terlihat serasi dan saling mengerti." Kata Bilhan yang sedari tadi menemani Mama Alda yang juga masih menunggu kehadiran anak anaknya.
"Iya aku melihatnya." Penuh tatapan mata yang berarti kala mata paruh baya itu menatap dua insan yang sedang berdiri berhadapan dari lantai atas tempatnya berada.
"Kalau begitu saya permisi Bu, saya akan menunggu ibu di mobil saja." kata Bilhan yang tidak enak hati bila harus ikut dalam acara makan malam atasannya bersama anak anaknya.
"Terserah padamu Bil, aku sudah lelah memaksamu untuk ikut makan. Pesanlah sesuatu di meja lain jika kamu malu bergabung dengan kami."
"Terimakasih Bu, saya sudah kenyang." jawab Bilhan yang berbicara dengan setengah menunduk dan pergi setelahnya.
Kedatangan Altez dan Yeri seketika disambut dengan tawa renyah dari sang Mama. "anak Mama sudah sampai." Kata Mama Alda dengan merentangkan tangannya.
Altez mengira jika dirinya lah yang akan dipeluk oleh sang Mama, tapi nyatanya yang dipeluk adalah Yeri. Hal itu membuat Altez mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Yang anaknya itu aku atau Yeri?
"Eza, kamu gimana sudah sembuh?" Tanya Mama Alda dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sudah ma." Jawab Altez dengan santun.
"Kelakuanmu maksud Mama, masa iya secepat itu kamu sembuh?"
"Bismillah, On proses ma." Sahut Yeri sambil tersenyum dan mengurai pelukan Mama mertuanya.
"Seharusnya sudah berubah, sebab kamu sudah punya istri sekarang. Wanita mana yang mau menutupi aib suaminya sendiri yang suka bermain wanita selain menantu Mama yang baik hati ini?"
Iya, Mama benar sekali dalam hal ini. dan masih banyak hal lagi yang sama sekali tidak ku ketahui tentang istriku ini termasuk hubungannya degan Bisma.
"Oh, Ma... ayolah, ini meja makan atau meja sidang? sedari tadi rasanya aku terus di hakimi tanpa pembelaan?" Celetuk Altez yang mengutarakan kekesalannya.
Mama Alda tertawa. "Hahahaha! iya iya, silahkan pesan apa yang kalian suka, ini adalah makan malam untuk merayakan lepasnya kamu dari jerat hitam nenek sihir." Kata Mama Alda.
Yeri mengerutkan keningnya. "Nenek sihir?"
"Nanti aku akan menceritakan dongeng nenek sihir di rumah. sekarang kita pesan makanan saja." Kata Altez yang kemudian mulai memilih menu dan mengalihkan perhatian Yeri.
Saat mereka tengah memilih makanan, seseorang datang dan memeluk mama Alda.
"Selamat malam Ma." Kata Albi yang memeluk Mama Alda dari belakang.
"Mama tau itu kamu sayang. Bagaimana kabarmu?" tanyanya dengan mengusap wajah sang anak bungsu dengan sangat bahagia.
Albi kembali memeluk Mama Alda dengan sangat erat. "Aku baik baik saja Ma." ucapnya.
"Yeri, perkenalkan, ini adalah adik dari Suamimu. Albian Basman namanya." Kata Mama Alda.
"Iya, Dia si manja yang cengeng." Celetuk Altez menyambar.
"Kak, betapa malangnya nasibmu harus menikah dengan buaya buntung ini? Katakan padaku jika ku sudah bosan dengan sikapnya. Akan kubawa kau pergi dan hidup bahagia bersamaku." Kata Albi yang seolah tak memiliki rasa canggung meskipun pertama kali bertemu dengan Yeri.
Sedangkan Yeri hanya tersenyum menanggapi dan jangan di tanya bagaimana reaksi Altez Dia sudah siap untuk menepuk sang adik dengan sendok.
"Jaga mulutmu itu ya, Dia ini kakak iparmu." kata Altez.
"Apa salahnya turun ranjang? Tidak masalah kan? kau saja pernah merebut pacarku. Lalu jika kini tiba giliranku merebut istrimu kau juga harus siap mental." Kata Albi yang membalas ucapan Altez.
Yeri hanya menggeleng dan menganggap ini hanya kelakar antara kakak beradik yang jarang bertemu. Dia menenggak air minumnya.
"Ku lihat Kakak ini sepertinya lebih pantas bersama brondong daripada dengan dia, pasti tersiksa batin kan?" kata Albi yang bertanya pada Yeri yang sukses membuat yeri tersedak.
Kata berondong itu membawa Yeri pada sebuah kenyataan dimana dia pernah memiliki sisi buruk yang ia sembunyikan rapat rapat.
"Uhuk...! uhuk...!" Yeri terbatuk.
"Sudah sudah, itu kan masa lalu di jaman kalian SMA sudah jangan di bahas disini. Sekarang ayo kita makan." Kata Mama Alda yang melerai perkelahian kakak beradik yang ternyata pernah berselisih tentang wanita.
"Hati hati." Kata Altez yang kemudian mengusap punggung Yeri untuk meredakan batuknya.
Acara makan malam berlangsung lumayan lama dengan mereka semua yang saling singgung. Rupanya penyebab Albi pergi selama 7 tahun tak kembali adalah Altez yang merebut pacar adiknya saat adiknya duduk di bangku SMA.
Sungguh Altezza Basman adalah playboy cap kapak yang berlisensi. Tak pandang wanita milik siapa, bahkan milik adiknya pun ia embat juga.
...~•~...
Selesai dengan makan malam, Yeri langsung membawa Altez ke rumah sakit sesuai dengan janjinya tadi. Keringat dingin menyembul dari kening Altez. Dia terlihat gusar dan panik dalam waktu yang bersamaan.
__ADS_1
"Kenapa mukanya panik begitu? kita cuma mau periksa kan? tidak mau dibedah." Kata Yeri yang berbicara dengan santai dan sesekali terkekeh melihat Altez yang ketakutan.
"Kamu itu takut apa sih? sampai begini?" Tanya Yeri yang tak nyaman melihat duduk Altez yang tak nyaman saat menunggu giliran.
"Siapa yang takut? orang aku cuma gerah saja karena pakai jas." Sambar Altez dengan congkaknya.
"Ya sudah." Ucap Yeri yang acuh dan kemudian kembali asyik dengan ponselnya.
Hingga tiba giliran nama Altez di, Yeri seketika berdiri dan hendak mengantar Altez untuk masuk, tapi Altez malah mematung di tempatnya seolah kakinya menjadi berakar di lantai.
Altez masuk meski dengan ketidak percayaan diri. Dia masu masuk ke ruang dokter hanya karena paksaan Yeri dan rasa gengsi.
Dokter memeriksa keadaan Altez dan ternayata luka Altez mengalami infeksi dan ini mengharuskan untuk pembersihan dan itu membutuhkan tindakan anestesi lokal.
"Ini infeksi Pak, makanya Bapak sampai demam." Kata Dokter.
"Ya, pokoknya di obati saja Dok sampai sembuh bagaimana terserah sama Dokter saja." Kata Yeri.
Altez tiba-tiba mencengkeram kuat pergelangan tangan Yeri.
"Ini disuntik anestesi dulu, terus di buat sayatan baru dan di bersihkan nanahnya. Soalnya bernanah ini Pak, apa pernah terkena air sebelumnya?"
"Iya, beberapa hari yang lalu saat saya membersihkan kolam." Kata Altez.
"Kolam?" Gumam Yeri.
Altez sudah menjawab dengan wajahnya yang pucat dan keringat dingin yang semakin tidak karuan.
"Tapi Dok, saya tidak mau di suntik, apalagi di jahit." Altez mulai merengek dan disinilah Yeri baru paham apa sebenarnya yang suaminya takuti.
Oh, Dia takut jarum. Hahahaha... !
"Dok sumpah tidak apa-apa pokoknya cepat lakukan tindakan asalkan suami saya cepat sembuh Dok. Saya tidak tega melihat dia sering demam dan pusing." Bohong Yeri yang sebenarnya hanya ingin melihat Altez menjerit kesakitan dan menghadapi ketakutannya.
"Ya sudah, Bapak peluk ibunya saja selama saya membersihkan lukanya. Anestesinya kita pakai yang spray saja." Kata si dokter.
"Lukanya di plester saja ya Dok?" Pinta Altez yang bernegosiasi dengan si Dokter seperti anak TK yang bernegosiasi dengan ibunya.
"Maaf, tidak bisa bapak, lukanya ini agak lumayan dalam jadi kalau tidak di jahit maka akan menimbulkan bekas yang jelek. Juga ini di kepala bagian samping bapak jadi...."
"Sudah Dok lakukan saja. Suami saya biar saya yang pegang." Kata Yeri meyakinkan si Dokter.
Selama tindakan berlangsung.
"Aduh.....! Sakit....!" Altez mengerang dalam dekapan Yeri, dia menyembunyikan kepalanya dan wajahnya disana.
"Nah iya... iya itu dok bersihkan." Kata Yeri yang sengaja agar Altez mengetahui apa yang sedang Dokter lakukan.
"Ampun.....!" Kata Altez yang berteriak tapi suaranya tertahan di perut Yeri. Dia memeluk Yeri dengan erat.
Posisinya adalah Yeri berdiri sedangkan Altez duduk di kursi sambil memeluknya dan menerima tindakan. Sang Dokter hanya bisa menahan tawanya saat lelaki dewasa bertubuh gagah berotot itu takut pada jarum suntik dan sang istri yang malah asik menakut nakuti.
"Yer, sudah... ampun..!" Altez menepuk-nepuk pinggang Yeri yang terkikik geli dengan sang dokter juga yang terkikik bersama.
"Iya sudah itu, ayo pulang!" Kata Yeri yang merapikan penampilannya yang berantakan karena ulah Altez.
"Sebentar, kakiku lemas." Kata Altez dengan mata yang memerah sembab.
Rupanya dia sangat ketakutan kali ini dan itu bukan main-main. Pantas saja dia selalu menolak saat Yeri memintanya untuk ke Dokter.
"Makasih ya Dok." Kata Yeri yang kemudian berpamitan dan memapah Altez yang berjalan sambil berpegangan pada tembok. Dia merambat seperti ulat daun.
__ADS_1
Senang sekali hati Yeri saat melihat suaminya tersiksa begini.