PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
73. Kamu menggemaskan


__ADS_3

"Kamu harus bertanggungjawab Za," kata Yeri dengan pergerakan tangannya yang berusaha untuk lepas dari rengkuhan Altez.


Altez tidak peduli dia semakin mengeratkan pelukannya, sambil tersenyum dia berkata, "Makanya itu, kamu jangan jauh-jauh dan selalu ingin kabur dariku. Bagaimana aku bisa bertanggungjawab pada anakku jika ibunya saja selalu ingin membawanya pergi dan jauh dariku. Hum?" Altez menggesekkan hidungnya yang mancung pada tengkuk Yeri.


Kenapa di saat seperti ini aku malah seolah kehilangan kekuatanku dan ingin lebih lama menikmati setiap sentuhannya? Apa kamu yang mau Dek? iya kamu yang mau dipegang sama Papa? Yeri membatin dan meraba perasaannya sendiri.


"Za,"


"Hum, apa sayang?" tanya Altez dengan lembutnya.


"Siapa wanita hamil tadi sebenarnya?" tanya Yeri dengan pelupuk mata yang sudah terasa panas dan kian menggembung.


Altez menggigit bibir bawahnya beberapa kali, seolah ia tengah menimang suatu kebijakan berat dalam hidupnya. "Aku ingin menjawabnya, hanya dengan satu syarat," ucapnya seolah sedang mencari titik aman.


"Apa syaratnya?" tanya Yeri tanpa membalikkan tubuhnya.


"Jangan marah," jawab Altez lirih.


Jangan marah? Jika dia mengajukan syarat seperti ini, bisa diambil kesimpulan bahwa apa yang akan dia katakan bisa saja memancing emosiku 'kan?" batin Yeri.


Yeri mengangguk dan berusaha menyembunyikan tumpukan rasa geramnya. Ia kemudian berbalik dan mengalungkan tangannya pada leher Altez. Tatapannya sayu dan lembut, membuat Altez pun, menatapnya teduh.


"Dia adalah mantan pacarku, dan sekarang dia hamil," ucap Altez mengakui siapa Ceri.


Tatapan mata Yeri tetap datar tanpa ada perubahan ekspresi wajah sama sekali. "Lalu?" tanyanya dengan santai.


"Kami berpisah sebelum aku menikah denganmu," jawab Altez dengan lembutnya. Tangannya bergerak santai mengusap bagian belakang pinggang Yeri. Tak ada penolakan lagi sekarang, Yeri terlihat begitu santai dan tenang menerima perlakuan Altez.

__ADS_1


Ayolah, jika dalam keadaan normal mungkin sekarang tangan yang sedang melingkar di leher Altez itu bersiap untuk mematahkan leher 'buaya' tersebut. Namun, tidak kali ini, Yeri seolah melemah dan kehilangan rasa bencinya terhadap Altez. Ia menjadi lembut dan berperangai baik, tidak lagi seacuh dulu saat dia belum hamil.


"Lalu?" tanyanya santai.


"Ya, kita putus saat dia tau aku tidak hanya berpacaran dengannya saja," jawab Altez dengan suara yang rendah seolah ia malu juga sekaligus takut kalau Yeri akan marah.


Yeri dengan segera melepaskan tangannya dan juga tangan Altez yang melingkar di pinggangnya. "Lepas!" seru Yeri yang kemudian beralih duduk di kursi riasnya.


"Tuh, kan, kamu marah sayang? Jangan marah dong, itu semua sudah masa lalu," kata Altez yang berusaha untuk membujuk istrinya yang terlihat menekuk alisnya dan juga bibirnya yang mengerucut.


Yeri menatap tajam Altez, "Pergi!" serunya "Tinggalkan aku sendiri."


"Sayang, kok marah? Ayolah, itu semua sudah berlalu,"


"Berlalu katamu? Apanya yang berlalu, kenyataannya apa? Dia kembali dengan bayimu, itu yang kamu maksud berlalu?" cecar Yeri dengan nada bicara yang mulai meledak-ledak.


Altez terdiam mencerna perkataan istrinya. Beberapa detik kemudian ia tertawa terbahak-bahak sampai suaranya menggema memenuhi setiap sudut ruangan. Yeri menjadi semakin kesal dengan sikap Altez, ia kemudian melemparkan sebuah bantal tepat di wajah suaminya.


Altez menekuk lututnya lalu memeluk pinggang Yeri, ia menempatkan wajahnya menghadap ke perut rata sang istri. "Sayang, Mama sedang cemburu sama Papa. Papa harus gimana?" Altez berbicara dengan janin yang hanya sebesar biji kacang hijau.


"Za, tidak usah sok manis begini deh. Lepas! sebaiknya kamu kembali sama pacarmu dan bertanggungjawab terhadapnya. Kita sudahi saja pernikahan kita yang tak sehat ini," Yeri sudah bergetar suaranya saat berbicara. Air matanya sudah merembes keluar dengan perlahan-lahan.


Altez tidak mengindahkannya, ia tetap memeluk dan menciumi perut rata Yeri. "Dedek, dengarkan bagaimana cerewet dan galaknya Mama? Nanti kalau lahir kamu jadi teman Papa saja ya, Papa janji tidak akan cerewet seperti Mama," Kata Altez yang seolah tuli dengan perkataan Yeri yang memintanya untuk bertanggungjawab pada Ceri.


"Za!" bentak Yeri.


"Apasih?" Altez menengadah menatap wajah Yeri. "Tuh kan Dek, dengar Mama kamu tuh sukanya marah-marah. Padahal kan mantan Papa tadi hamilnya sama suaminya, kenapa Papa yang diminta untuk bertanggungjawab? Aneh banget kan?" Cetus Altez yang kemudian tersenyum dan mengusap perut rata Yeri.

__ADS_1


Yeri terdiam memikirkan hal yang baru saja Altez jabarkan. Tunggu dulu, jika sedari tadi ia mengira kalau wanita hamil tadi mengandung anak Altez dan ternyata bukan, itu berarti ia sedang salah paham dong? Aih, sumpah wajah Yeri seketika memerah bak udang rebus.


Yeri mengulum senyumnya dan berdehem untuk menetralkan euforia yang baru saja ia terima. Senang saja ia saat mendengar jika wanita tadi tidak mengandung anak dari suaminya. Sejujurnya ia ingin memeluk erat Altez dan menyisihkan gengsinya. Namun, tidak dengan Yeri yang tetap bertahan dengan gengsinya.


"Oh," cetusnya memberikan respon atas apa yang baru saja suaminya katakan.


Oh? hanya Oh? Tidak ada kalimat yang lebih panjang dari itu? Ini, ini yang membuatku selalu merasa tertantang dan selalu ingin menaklukkan hati istriku yang cuek ini. Padahal, tadi jelas-jelas dia cemburu. Bisa-bisanya hanya bilang oh. Batin Altez mendengus kesal.


"Hanya itu sayang? Tidak ada yang lain yang ingin kamu katakan?" tanya Altez yang sengaja memancing agar Yeri berbicara lebih banyak lagi.


"...." Yeri diam dan hanya mengalihkan pandangannya.


"Dek, kamu kangen sama Papa tidak? Papa kangen banget sama kamu, boleh ya Papa main sebentar untuk mengunjungimu?" tanyanya lirih pada perut rata Yeri.


Berhubung ruangan yang teramat sepi, dan juga di sana hanya ada mereka berdua, otomatis perkataan lirih Altez tadi juga mampir di telinga Yeri dengan jelasnya. "Apa tadi katamu Za, kamu mau ngapain?"


Altez berdiri dan kemudian menyergap Yeri dengan cepatnya seakan tidak memberikan celah pada Yeri untuk kabur ataupun bicara lebih banyak lagi. Altez memberikan kenyamanan dan jawaban melalui sentuhan lembut yang ia usapkan. Bibir kenyalnya sudah bersilaturahmi dan menyapa ramah pipi mulus sang istri.


"Aku kangen kamu istriku, bisa kita lanjutkan kegiatan kita yang tadi tertunda iklan?" tanyanya tanpa meminta jawaban sebab bibirnya sudah terlebih dahulu menggerayang* bibir Yeri. ******* lembut tanpa ada kekerasan.


"Kamu diam, itu artinya kamu setuju," kata Altez dalam jeda kegiatan hangat mereka.


"Tap-i ...." Yeri berusaha menjawab namun Altez terlebih dahulu mengungkungnya dan kembali menciumnya lebih dalam dari yang semula. Kini, lidah sang suami sudah bergerilya mengabsen setiap jajaran gigi sang istri, membasahinya dan bertukar Saliva.


"Selain merindukanmu, aku juga merindukan sesuatu milikmu. Boleh aku mengunjunginya juga?"


"Emph...." Yeri tak bisa menjawab sebab Altez kembali membungkamnya dengan kegiatan menyenangkan baginya.

__ADS_1


Altez sedikit menarik jarak, tersisa satu jengkal hingga mereka bisa saling menatap dengan kabut gairah. "Ah, kamu diam lagi, itu tandanya boleh." Altez tersenyum miring sebelum melancarkan aksinya.


"Aku suka kamu yang seperti ini sayang, kamu menggemaskan. Malu, tapi mau," kata Altez yang berbisik di telinga Yeri membuat Yeri semakin tersipu.


__ADS_2