PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
6.


__ADS_3

3 hari bulan madu tak terasa telah usai. Bukanya menyisakan kenangan indah bersama, malah menyisakan sakit pinggang yang tak berkesudahan.


Yania hanya menunjukkan wajah polosnya ketika Altez berjalan kesusahan di depannya.


"Mau di bantu?" Tanya Yania sengaja ingin mengganggu mood Altez.


"Tidak!" Ketus Altez menyahut. Dia begitu kesal pada Yania yang berlagak polos dan alim di hadapan Mama Alda.


"Oh... anak Mama sudah pulang? Yaya, Bagaimana bulan madunya? seru kan?" Tanyanya pada menantu satu-satunya.


"Iya Ma, seru sekali. Mas Eza saja sampai berjalan pincang seperti itu dia sepertinya kebanyakan." Yania tidak melanjutkan perkataannya tapi dia terkikik geli dan memberikan sorot mata pada Altez. Sorot mata yang sulit di artikan.


"Ouh, Eza... Mama tidak menyangka loh. Padahal kan kalian baru bertemu juga baru kenal. Tapi sudah..."


"Ma! udah deh, jangan bicara hal itu. Tolong Carikan aku tukang pijit Ma. Sepertinya aku terkilir." Ucapnya sambil meringis kesakitan dan hendak duduk dengan perlahan.


"Maaf ya Mas, gara-gara aku kamu jadi begini." Ucap Yania dengan tatapan meremehkan Altez. " Kamunya juga sih, terlalu bersemangat." Kata Yania yang terdengar frontal.


"Istirahat di kamar sana, Nanti Mama panggilkan tukang pijit." Ucap Mama Alda yang kemudian kembali ke dapur.


"Dasar pencari muka!" Ketua Altez tepat di hadapan Yania.


"Hust! yang bagus ah ngomongnya. Tidak sopan seperti itu pada istri sendiri." Balas Yania tanpa penekanan dan emosi. Tapi dia bangkit begitu saja dan meninggalkan Altez yang meringis kesakitan di sofa.


Yania yang sudah berada di dalam kamar barunya kemudian hanya meletakkan kopernya di sudut ruangan. Dia dan Altez belum membicarakan perihal hunian. Dengan inisiatifnya, Yania menghubungi sang Ayah.


"Halo, Ayah..."


"iya sayang, ada apa? apa kalian sudah ingin bercerai?"


"Tidak Ayah, belum. Yah, kami belum punya hunian kan? lalu bagaimana, sepertinya kalau tinggal bersama mertua aku jadi sulit menjalankan rencana kita."


"Ayah, sudah menyiapkan huniannya sayang. Kamu tinggal bicarakan hal ini pada ibu mertuamu saja. Ayah membelikan rumah sederhana yang minimalis untuk kalian. Sesuai dengan misimu kan?"


"Iya, menyiksa dia dengan perlahan-lahan." Ucap Yania dengan tatapan matanya yang menunjukkan hawa balas dendam.


"Berjuanglah, dan Ayah harap setelah ini kamu bisa kembali pada Yania yang dulu sayang."


"Semoga saja Yah."


Panggilan telepon terputus bertepatan dengan Altez yang berjalan pincang memasuki kamarnya.


"Ah, suamiku datang..." Sambut Yania dengan suara senang seolah-olah mendapatkan harta Karun.


Tentu saja dia seperti itu, di sebelah Altez rupanya berdiri juga sang Mama. "Yaya, kamu urus Eza sebentar ya. Mama akan pergi menjenguk teman Mama. Nanti 15 menit lagi terapisnya datang." Kata Mama Alda sambil melihat jam tangannya.


Mama Alda keluar dan Altez masih bersandar di pintu yang terbuka lebar. Yania dengan cepat berlari menyusul Mama mertuanya dan mengabaikan sesuatu yang menahan sakit di ambang pintu. Yania tak sengaja menginjak kaki Altez.


"Ma! Tunggu!" Yania berlari.


"Ada apa sayang?" Tanya Mama Alda yang menghentikan langkahnya di depan tangga.


"Ma, tadi Ayah menelfon, katanya dia memberiku hadiah berupa rumah sederhana di dekat kantornya Mas Eza. Jadi, em.... Ma. Kapan aku boleh menempatinya?" Tanya Yania dengan wajah lugunya.

__ADS_1


"Kamu boleh tinggal dimana saja yang kamu dan suamimu suka Sayang. Ini kunci rumah barumu yang ayahmu titipkan. Yang penting jangan malam ini. Malam ini kalian menginap di rumah Mama ya?"


"Baik Ma." Sahut Yania dengan menyuguhkan senyum terbaiknya.


Mama Alda berlalu pergi, Yania ikut mengantarkan sampai Mama Alda benar-benar menjauh dari lingkungan rumahnya. Tak langsung ke kamarnya lagi, Yania malah lebih memilih untuk mengisi perutnya di dapur.


Seseorang yang tengah memasak di dapur tiba-tiba menjadi canggung saat Yania datang menghampirinya.


"Mbak...!" Sapa Yania dengan wajah yang ceria.


"Eh, Non. Maaf Non, saya tadi tidak melihat Nona. Harusnya saya yang menyapa terlebih dahulu." Ujar Mbak Yuyun yang menundukkan kepalanya canggung.


Yania tertawa kecil. " Mbak, jangan begitu. Saya juga tidak rugi kan kalau menyapa Mbak duluan? Mbak punya apa di kulkas?" Tanyanya.


Yuyun yang masih canggung karena ini kali pertamanya bertemu dengan istri dari tuan mudanya, tangannya sampai gemetar saat membukakan kulkas. "Ini Non." ujarnya dengan tersenyum kikuk.


"Mbak, ah. Kenapa sampai gemetaran begitu. Memangnya wajah saya seram ya Mbak? oh, atau saya jelek sekali sampai mbak ketakutan?"


"Bukan Non, Nona itu cantik kok. Hanya saja ini baru pertama kali saya bertemu dengan Nona. Tadinya saya pikir Nona sama seperti mantan-mantan Tuan Eza yang galak dan sombong itu." Ujar Mbak Yuyun.


A..., ternyata Mbak Yuyun ini banyak menyimpan rahasia yang sepertinya menarik jika ku ulik sebagai bahan. Yania mengangguk paham.


"Mbak, beda kepala itu beda cara. Jangan sama ratakan ya, memang saya ini jelek Mbak. Ini juga saya bisa menikah karena Ayah saya yang memberikan tawaran bagus untuk Mas Eza. Coba kalau tidak, mana mungkin ada yang mau sama saya Mbak?" Ujar Yania merendah.


Ya, begitu deh, wajah polos dan lugunya selalu bisa merebut hati setiap orang yang di temuinya. Tapi sayangnya, Yania sendiri tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Dia tenggelam dalam kenangan masa kecilnya dimana kenangan itu selalu berputar pada saat semua orang menertawainya karena tubuhnya yang gendut, kulit yang hitam, dan juga rambutnya yang keriting.


"Jangan begitu Non. Rahasia Tuhan itu, kita tidak boleh ikut campur." Ucap Mbak Yuyun menasehati. Tapi lebih tepatnya dia mengarahkan agar Yania tak patah arang sebelum berperang.


Yania mengulum senyumnya. Terlihat lamat-lamat dia mempunyai lesung pipi. "Tuh kan Non cantik, itu ada lesung pipinya." Kata Mbak Yuyun menghibur Yania.


"Em... Mbak. Mas Eza suka masakan apa ya?" Tanya Yania yang ingin mengorek sesuatu tentang Eza.


"Biasanya sih ya, makanan Jepang Non. Tapi akhir-akhir ini bukan dan berganti dengan masakan Indonesia. Ya biasa lah, rendang, soto dan sate. Ya hanya begitu begitu itu." Kata Mbak Yuyun.


"Tidak ada cumi atau udang ya Mbak?" Tanya Yania yang terus melihat isi kulkas.


"Tidak ada Non, Tuan Eza dan Nyonya besar keduanya alergi udang dan cumi." Jawab Mbak Yuyun.


Yania mengangguk paham. Tapi di balik anggukannya, dia menyimpan senyuman mengerikan.


Yania akhirnya membuat tongseng ayam, resep yang mudah dan cepat masak. Yania sengaja melebihkan porsi, karena mungkin saja mertuanya juga nanti ingin makan.


...~~~...


Bersamaan dengan Yania yang sedang makan, bel pintu berbunyi.


" Saya buka pintu dulu Non." Mbak Yuyun sudah siap-siap untuk berdiri dan membukakan pintu. Tapi pergerakannya terhenti saat Yania menahannya.


"Biar saya saja Mbak. Mbak makan saja." Kata Yania lalu berjalan menuju pintu.


Berbeda sekali dengan Non Nella. Jika Non Nella yang super cantik itu hanya cantik fisiknya, tapi Nona Muda cantik segalanya. Tapi kenapa dia tidak mau di bilang cantik tadi? Masakannya juga sangat enak. Puji Mbak Yuyun yang ikut menyantap makanan yang di masak Yania.


Pertama kalinya di dalam sejarah, seorang pembantu ikut makan satu meja di kediaman Altezza Basman. Sebelumnya, tidak ada sama sekali.

__ADS_1


"Bapak, mari saya tunjukkan kamarnya." Kata Yania yang mengantarkan terapis menuju ke kamar Altez.


Yania datang, dan rupanya Altez tengah tertidur. Pantas saja sedari tadi tidak ada suaranya. Rupanya merem matanya.


"Mas, bangun." Lembut suara Yania membangunkan Altez yang terlelap. Sebenarnya kasihan juga keadaannya sekarang, Altez jadi susah untuk melakukan aktivitasnya.


Yania membangunkannya tanpa menyentuh sama sekali. Dia hanya duduk di tepi ranjang tempat Altez tidur.


"Sebentar ya Pak, saya bangunkan dulu suami saya." Ucap Yania tak enak pada si terapis.


"Oh, iya Bu. Tidak apa-apa, saya tunggu sekalian menyiapkan alatnya." Ucap terapis.


Yania mendekatkan wajahnya lalu meniup-niup telinga Altez. Altez yang merespon geli kemudian membuka matanya.


"Ih, jelek. Apaan sih! ganggu aja!" Bentaknya tapi Yania tidak merespon dan langsung berdiri begitu saja.


"Ini pak, silahkan. Saya permisi dulu." Kata Yania sambil tersenyum.


Altes masih plangak-plongok melihat ada orang lain di kamarnya.


"Saya terapisnya Pak. Mana kaki bapak yang sakit?" Tanya si terapis sopan.


Yania kembali turun dan melanjutkan makannya.


"Argh... ! sakit....!" Altez berteriak sekencang-kencangnya. Suaranya menggema memenuhi seluruh ruangan.


Yania tertawa senang dalam hatinya dan sesekali mengumpat. Mam mam tuh sakit!!


"Argh... ! Yaya!" Altez kembali berteriak dannkali ini menyebutkan nama Yania.


"Non, Tuan manggil tuh." Mbak Yuyun memberikan segelas air pada yania.


"Iya Mbak denger, udah ga apa-apa dia cuma manja aja. Kata terapisnya juga tidak parah kok." Ucap Yania berbohong.


Selesai dengan makanya Yania baru naik ke atas dan masuk kedalam kamarnya.


"Yaya!! sini kamu" Altez lalu memanggilnya dan tangannya terulur mencoba meraih Yania yang berdiri di dekat nakaa untuk melihat si terapis yang sedang menunjukkan bakatnya.


"Apasih Mas, ga usah lebay deh." Yania beringsut dan hendak kabur.


Tapi, Altez meraih tanganya dengan cepat. " Kamu yang buat aku begini kan? sekarang tanggung jawab!"


Yania terduduk dengan Altez yang mendekap pahanya. Altez menyembunyikan wajahnya di samping paha Yania sambil mengerang kesakitan.


Apa sebegitu sakitnya ya? perasaan aku hanya membantingnya saja. ada sedikit ketakutan sekarang di wajah Yania. Dia merasa bersalah akan apa yang menimpa Altez.


"Argh....! sakit ...!" Altez mencengkeram kuat tangan Yania tang di pegangnya, menularkan ketakutan pada Yania sekarang.


"Sakit banget emang?" Tanyanya seolah tak berdosa.


"Ini sudah agak terlambat penanganannya Mbak. Seharusnya begitu terkilir langsung di tangani. Dan ini sampai bengkak begini. Jadi ya sakitnya luar biasa."


" Senang kamu!" Bentak Altez tapi tak melepaskan cengkeramannya.

__ADS_1


"Astaga, Mas! Mana ada sih istri yang senang melihat suaminya kesakitan? Ya enggak lah." Yania mengusap perlahan punggung Altez yang masih menyembunyikan wajahnya di samping paha sang istri.


Dasar iblis sok suci. Dia yang membantingku, dia juga yang sok iba. Cih!!


__ADS_2